3 Pecas Ndahe
Mei 30, 2007 § 28 Komentar
Pernah naik mobil sendiri dari Jakarta ke Yogya? Berapa lama sampean sampai di tujuan?
Yusuf dan Ambar butuh tiga hari.
Perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh selama satu hari tersebut molor menjadi tiga hari karena mereka seringkali mengubah rencana perjalanan dengan berhenti dan menginap di beberapa tempat lain. Dalam perjalanan itulah terjadi beberapa kejadian menarik di antara mereka berdua terkait dengan budaya daerah yang mereka lewati, sesuatu yang akan mengubah hidup mereka selamanya — Ruang Film.
Yusuf (Nicholas Saputra) dan Ambar (Adinia Wirasti) adalah tokoh dalam film 3 Hari untuk Selamanya yang sebentar lagi akan diputar di bioskop-bioskop. Ini film yang disutradarai oleh Riri Riza dan produsernya Mira Lesmana.
Saya juga pernah menempuh waktu tiga hari dari Jakarta ke Yogya bersama bedes-bedes itu, tapi rasanya kok ndak seseru apa yang diceritakan film itu. Saya malah seperti kehabisan gaya selama perjalanan dan boyok pegel-pegel.
Bayangkan, saya berangkat Sabtu siang menjelang sore, dari rumah saya di barat Jakarta menuju Bandung via jalan tol Cipularang. Sampai di pintu eksit Sadang, saya keluar ke arah Subang, lanjut ke Ciater.
Bedes-bedes itu pengen merasakan berendam di air hangat dan merasakan segarnya udara Ciater. Puas berenang dan berendam air hangat, kami menginap semalam di Ciater.
Besok paginya, perjalanan dilanjutkan ke Bandung, mampir sebentar di rumah seorang kawan. Simboke bedes-bedes ada perlu katanya.
Dari Bandung, kami keluar melalui jalan tol Padalarang-Cileunyi, belok kanan ke arah Nagrek. Maksudnya hati mau ambil jalur selatan. Namanya juga piknik, jadi rutenya ngacak ndak keruan.
Next destination, Baturaden, Purwokerto, on Sunday.
Hari sudah malam ketika kami tiba di Baturaden. Bedes-bedes yang tadinya tidur sepanjang jalan, mendadak seperti handphone yang baru diisi ulang baterainya. Matanya menyala lagi dan langsung mau nyemplung kolam. Apa daya, airnya terlalu dingin.
Seperti tak kurang akal, mereka lalu merengek minta dibelikan jagung bakar di terminal Baturaden. Oke, ndak masalah. Tapi, berhubung saya kelaparan berat, ketika bedes-bedes ndeprok ikut mengipas jagung bakar di depan penjualnya, saya pilih menyantap sate kelinci dan minum bandrek anget. Beres?
Belum. Dasar anak-anak, jagung bakar belum habis dimakan, mereka sudah menguap pertanda diserang kantuk. Terpaksalah kami kembali ke hotel. Saya mengucap syukur Alhamudillah karena akhirnya bisa meluruskan boyok yang sudah pegel ini setelah jadi sopir hampir seharian.
Tapi, kemewahan memejamkan mata itu rupanya terasa singkat. Begitu fajar yang menandakan hari telah berganti Senin itu menyingsing, bedes-bedes langsung lompat dari ranjang, lalu segera mengajak ke kolam renang.
Oalah, le … le. Bapakmu ini masih setengah merem je, lah kok kalian minta masuk ke air. Bocah kok ndak ada capeknya. Anake sopo seeeh … ???
Ternyata keriaan di kolam renang hanya sebentar dan cepat berubah menjadi acara memancing keributan ikan sampai siang menjelang sore. Eh lah kok begitu sampai di hotel, bedes-bedes itu bukannya minta check out, tapi ujug-ujug langsung bilang ke resepsionis untuk minta perpanjangan menginap.
“Mas, mas, aku mau nginep lagi. Boleh, kan?” kata bedes bungsu saya itu. Yang ditanya tentu saja njawab, “Ooooh … boleh, dik. Mau nginep di sini terus juga boleh kok.”
Dalam hati saya misuh, “Nginep terus dengkulmu, Kang!”
Nginep sih, nginep. Tapi, njuk kapan sampai Yogya? Eyangnya bedes-bedes itu bolak-balik telepon menanyakan kapan cucunya sampai. “Selak kangen, je,” katanya.
Tapi, saya bisa bilang apa? Lah wong namanya juga bocah. Mana mau mereka buru-buru sampai di rumah eyangnya.
Untunglah, bedes-bedes itu ndak termakan bujuk rayuan gombal Mas Resepsionis. Begitu bangun pada Selasa pagi, mereka langsung memerintahkan bapaknya gas pol ke rumah eyang. “Ayo Yah, kita ke Yogya.”
Saya pun langsung memanaskan mesin mobil dan cherio bye-bye meninggalkan Baturaden.
Begitulah, Ki Sanak. Perjalanan Jakarta-Yogya akhirnya memakan waktu tiga hari, dari Sabtu malam hingga Selasa siang seperti film 3 Hari untuk Selamanya itu – tentu saja dengan akhir cerita yang berbeda.
Yah, namanya juga film. Sedangkan apa yang saya alami ada di dunia nyata. Bedanya bisa sangat jauh, kan?
Nah, seandainya punya waktu tiga hari dari Jakarta menuju Yogya, sampean mau ngapain aja di jalan, Ki Sanak? Seperti Yusuf dan Ambar juga?

Ndoro, postingannya bikin saya jadi sedih. Kangen nih sama keluarga di kampung.
Rencananya minggu mau pulang kampung dulu ah. Gak sabar mau ketemu adik bungsuku tersayang.
jangan-jangan film ni terinspirasi dari perjalanan ndoro nih! bakalan dapat royalty…….he3x
aku nyetir dari jogja ke jakarta, plus minus 12 jam-an. bolak-balik. capek sih enggak. nahan ngantuknya itu yang nggak nguatin. 😀
wajib nonton film ini kayaknya….. filmnya Ndoro 😀
*lhoo, film 3 Hari untuk Selamanya itu film perjalanan’nya Ndoro bukan yha
jakarta-jogja 3 hari, ceritane seru pol ndoro….!
ceritane ndoro, nek fileme mbuh…. yo..?? ;p
dah keluar blom ndoro pelem ini..
jadi pengen nonton..
di tengah monotonnya pelem indonesia…
oalah… kacang ra adoh soko lanjaran!
aku maleh pingin ngelener nang jogja :p sumpek nang suroboyo 😦
eh, ngelencer maksud’te
mira lesmana salah kasting. harusnya ndoro yang jadi bintang utamanya genteni saputra. secara ndoro pernah ngalami sendiri. xixixix…
eh, ndoro, iki soko adik angkatan kuliah biyen di jogja, 95 &96 !
pareng… 😉
Saya ndak suka situ bilang bedes-bedes ke mereka. Siapa saudara? cih!
kalau saya punya waktu 3 hari, saya pengin 3 hari penuh di jogja. napak tilas. meskipun rumah di lor tugu sudah ndak ada.
sebagai wong jogja, apakah ndoro pernah mencium atau paling tidak ngelus-elus tugu?
saya pernah lho, malah rame-rame sama anak bojo segala waktu mau pindah ke bandung dulu.
i will be back, jare mboke anak-anak karo mbrebes mili.
hayah….
Yang jelas, tiga hari trip Jkt-Jgj harus sedia banyak duit. Kalo model Ndoro yang dompetnya full terus, ga ada masalah. Lha kalo aku? mblayen tenan 😀
Waaah.. keluarga yang seruu!!!
masih sempet jalan-jalan ya?
Makasih ya ndoro, udah datang dan ninggalin komen di blog saya. Akhirnya, ada juga yang komen. Tambah semangat ngeblog dah. Saya minta ijin ngelink ya ndoro.
semarang jogja mung 3 jam :(, nonton ah kethoke apik opo maneh sing maen nico
sebelum menempuh jakarta-jogja minggu depan, ndoro mau kan nraktir saya nonton? buat perbandingan dengan dunia nyata ndoro…mau yaaa…mau yaaa…. pliiiisssss!
asyik pastinya kalau bisa melewati jalan-jalan yang sangat alternif. nyari makananan (kecil) yang belum tersorot kamera dan meliat kebiasaan yang sngat lokal.
huhuh..
saya kangen sama bedhes-bedhesnya njenengan itu, pakde.. 😀
kangen ngemong alias jadi tukang ojeknya..
pagi-pagi di waduk sempor, asiknya…
otomotif majalah (bukan yang tabloid) dulu pernah ngulas orang orang kaya gini dhe…
travel is the destination gichu kalo nggak salah judulnya.
saya pikir ini adalah kumpulan backpaker yang sudah bisa beli mobil.. 😛
trus gimana itu ekspedisinya.. saya mau nebeng… mumpung lagi nganggur.. 😀
dengkulmu mlocot.. hahahaa!!
nyuwun sewu, yg mlocot di atas buat si resepsionis itu lho, mas ndoro..
31 Mei, selamat merayakan hari tanpa tembakau sedunia….
wahahaha..kalau jalan2nya kek gt ya seru rekkk..aku juga mau kang..hehe
ke yogya 3 hari? kayaknya lewat pantura pas mau lebaran tuh. dengkul mlocot tenan.