Tanah Pecas Ndahe

Mei 31, 2007 § 16 Komentar

Serombongan warga desa kemarin bentrok dengan prajurit Marinir di Alas Tlogo, Pasuruan, Jawa Timur. Peluru menyembur dari senapan serbu para prajurit dan penduduk desa pun tumbang.

Tragedi berdarah berlatarbelakang rebutan tanah garapan itu mengingatkan saya pada cerita Paklik Isnogud tentang Entong Gendut.

Menurut Paklik, lelaki pemberani itu warga Condet, Betawi. Dialah yang memimpin rakyat Condet melawan wedana dan mantri polisi karena ia sedih menyaksikan rumah petani dibakar habis oleh tuan tanah.

Itu terjadi di dasawarsa pertama abad ke-20, dan bukan dalam cerita lenong. Yang menceritakannya adalah ahli sejarah kita yang tersohor itu, Sartono Kartodirdjo, dalam bukunya Protest, Movements in Rural Java.

“Petani, desa-desa, mungkin memang sudah terlalu lama menderita, Mas,” kata Paklik ketika saya memintanya mendongeng nasib para petani dan tanah-tanah mereka.

Seperti biasa, saya diam saja agar bisa menyimak dongengnya.

“Sejarah pedesaan Jawa di abad ke-19 dan awal abad ke-20, misalnya, ditandai oleh gerakan petani yang berulang-ulang. Mereka ditindas oleh penguasa. Kejadian yang sama juga berlangsung di Burma pada 1930-an.

Sartono Kartodirdjo dengan sangat bagus telah melukiskan pergolakan-pergolakan petani di Jawa itu: terancam dari tanah, mereka angkat senjata, kemudian kalah, mati, sementara Ratu Adil tak kunjung tiba.

Mari kita buka-buka catatan lama, Mas,” kata Paklik sambil mengambil setumpuk risalah di lemarinya. Ia lalu membacakannya.

CIOMAS, Februari 1886

Camat dibunuh orang! Kegemparan telah terjadi. Dan aku, Apan, dicari. Malam itu pun segera aku dan kawan-kawanku mundur ke Pasir Paok. Aku tak mau menyerah kepada tentara kumpeni.

Kenapa aku harus menyerah? Aku dibesarkan di tanah ini, yang subur, cantik, tapi tergencet Gunung Salak dari jauh memang masih tegak, di antara langit segar dan cahaya hangat, tapi hanya gunung itu yang bisa tegak di depan de Struler.

Tuan tanah kulit putih yang bangsat! 1500 penduduk meringkuk di bawahnya terkena cukai. Dia kirim mandor dan centeng, yang bisa bikin kakek, nenek, perawan, bocah, pada gemetaran. Dia biarkan orang luar datang ikut panen ke sini, hingga kami tak kebagian banyak padi.

Dia paksa petani membawa panenan Tuan Besar ke gudang, terbongkok-bongkok 18 kilometer. Dia paksa serahkan petani aren, dia paksa kami tanam kopi. Dia sita tanah, rumah dan kerbau, ketika kami tak bisa bayar utang!

Maka aku, Apan, tak bisa tinggal diam.

Sudah hampir 2000 orang lari menghindari hukuman yang tak adil. Sudah beratus kali kami mengadu kepada pegawai gubernemen, tapi tak digubris. Malam itu kami bunuh Camat Abdurrakhim. Aku, Apan, anak tani ini, biarlah jadi sang Ratu Adil. Biarlah kuangkat diriku jadi Imam Mahdi. Karena, dari mana lagi keadilan akan datang kepada kami?

Sejarah pedesaan Jawa di abad ke-19 dan di awal abad ke-20 ditandai oleh gerakan keresahan petani yang berulang-ulang — Sartono Kartodirdjo, Protest Movements in Rural Java.

***

PURWAKARTA, Agustus 1913

Bapa Eming, jangan menangis. Rumahmu digeledah. Keris dan jimatmu dirampas polisi. Hidupmu terancam. Tapi kau telah hina Tuan Regent — kau telah tuduh ia disuap tuan tanah, dan kami tahu kau telah suarakan hati kami. Sebab, Regent manakah yang tak melihat kami ditindas?

Pagi itu kami, 230 orang, datang kehadapannya. Kami protes. Cukai yang dikenakan kepada kami teramat mencekik. Tuan Regent mesti tahu, 200 persen naik! Bukankah tuan tanah sebenarnya cuma boleh dapat seperlima dari panenan?

Lihatlah, kami tidak sendiri. Empat bulan yang lalu sudah datang ke Tuan Regent 400 petani, juga protes. Di bulan Juni datang lagi 350 orang, turun dari pedalaman. Kini kami datang dari Babakansawah dan sekitarnya. Dan Tuan Regent, Bapa Eming hanyalah sebagian dari kami.

Gerakan protes dari kaum petani tidak hanya merupakan pernyataan tidak puas terhadap mereka yang berkuasa, tetapi juga merupakan cerminan dari jawaban mereka terhadap suatu masalah komunikasi yang mereka hadapi — Sejarah Nasional Indonesia, Jilid IV.

***

BURMA, 1930

Syahdan ada seorang bernama Saya San. Ia mengaku sebagai Setkya-min, raja yang membalas dendam dalam legenda rakyat. Ia juga mengaku sebagai Budha Yaza, pencipta utopia Budhis yang dikirim dari langit.

Dalam semua hal itu, ia agaknya hanya konsekuensi dari impian rakyat Burma miskin yang terpojok. Ratu Adil seperti itu telah berkali-kali tampil dalam kepercayaan rakyat, yang sudah praktis mengigau merindukan penyelamatan.

Ketika Saya San pun datang, pemberontakah meletus meliputi sebagian besar wilayah utara, tengah dan timur.

Api itu berlangsung setengah tahun. Pada akhirnya, 9.000 orang ditahan, 3.000 terbunuh atau luka, 350 dihukum. Saya San digantung oleh penguasa Inggris.

Kemudian, sepi. Tapi, apakah itu damai?

“Bahkan para pejabat kolonial … di Burma Bawah pada 1930-an siap mengakui, bahwa perdamaian di daerah agraris itu mungkin perdamaian penindasan, dan bukannya perdamaian kepuasan” — James C. Scott, The Moral Economy of the Peasant.

***

CINA, 1958

Mao Zedong mengumandangkan Loncatan Jauh ke Depan, dengan tujuan memacu Cina melampaui Inggris dalam bidang industri. Industrialisasi kilat itu memerlukan cukupnya bahan pangan dalam waktu yang ringkas pula.

Untuk itu, menurut Mao, yang harus dilakukan adalah mobilisasi dan kebersamaan. Petani harus berkorban. Maka, pedalaman Cina pun mengalami proses kolektivisasi yang gegap gempita. Hak milik atas tanah dan peralatan pribadi disisihkan, dan komune-komune dibangun.

Mao tak menduga hasilnya hanya malapetaka. Di musim semi 1960, seorang pemimpin komunis Cina yang lain, Liu Shao-chi, mengunjungi Hunan. Ia lihat sendiri betapa dahsyatnya kesengsaraan.

Petani tampaknya punya cara tersendiri untuk menampik bila mereka disepelekan bila satu sistem tak menguntungkan diri mereka: sawah tak lagi mereka garap, pangan jadi terbatas. Kita tahu apa akibatnya. — Catatan Pinggir Goenawan Mohamad.

***

Sampean tahu apa yang membuat semua itu terjadi?” tanya Paklik Isnogud.

Saya menggeleng.

“Inti dari kebuntuan itu adalah kemiskinan, yang dibagi-bagi. Hidup bersama diatur ke dalam suatu harmoni di permukaan, ketika penduduk kian bertambah dan tanah yang jadi keropos itu kian menyempit.

Begitulah, Mas, sejarah tentang para petani, konflik tanah, dan penderitaan desa-desa. Semoga sampean beroleh hikmah.”

“Oh, pasti, Paklik. Pasti … “

§ 16 Responses to Tanah Pecas Ndahe

  • avatar super-unknown super-unknown berkata:

    iya ndoro…
    lucu juga sih..
    gara2 perebutan tanah, serdadu yang seharusnya melindungi rakyat malah jadi “membasmi” rakyat…
    apakah ini bukti nyata penegakan hukum ala militer…??
    tanya ndoro aja deh…

  • avatar Anang Anang berkata:

    buat komen diatas… kejadian ini tidak lucu sama sekali.. tapi mengerikan…

  • avatar GatotBurisrowo GatotBurisrowo berkata:

    Satu lagi catatan untuk sejarah TNI: menangnya cuma dengan rakyat tak bersenjata. Kalanng kabut, terengah-engah bertahun-tahun menghadapi rakyat bersenjatan dan kalah ketika menghadapi tentara asing. Sudah lihat foto chairul yang dadanya pecah, bibirnya pucat sebelum tewas di meja operasi? Aku ingat anakku.

  • avatar Abi_ha_ha Abi_ha_ha berkata:

    Problem tentara dan sipil sama. Masih terlalu banyak yang bodo, koplo, ndableg dan sulit diatur.
    Tentara atau polisi bodo-ndableg yang teledor ya hasilnya begitu, sementara sipil yang bodo-ndableg dan teledor macam supir metromini di Jakarta atau angkot di Bandung juga tak jarang mencelakakan orang lain. Malah mungkin dalam rentang waktu yang sama, lebih banyak orang yang mati oleh keteledoran supir angkot atau metromini.
    Turut prihatin, cuma pendidikan yang bisa menghapus ini semua.

  • avatar kw kw berkata:

    tentara kok gak malu, ya jelas menang lah karena dia pakai senjata. kalau sudah begitu rakyat mana lagi yang bisa mengayomi?

    eniwe hebat sekali risetnya ndoro?

  • avatar peyek peyek berkata:

    senjata makan tuan!

    senjata yang dibeli dari pajak rakyat buat membunuh rakyat juga!

  • avatar panditanegara panditanegara berkata:

    Nuwun sewu, mau koreksi sedikit Ndoro,

    “Aku di besarkan di tanah ini, yang subur, cantik, tapi tergencet Gunung Salak..”

    yang benar itu “dibesarkan”, bukan “di besarkan”.. ya kan?

    Salam kenal Ndoro. Saya penikmat tulisan Anda 🙂

    sudah dikoreksi, suwun lik … 🙂

  • avatar walahwalah walahwalah berkata:

    ternyata tentara dimana-mana sama saja ya ndoro….? atau pemerintahannya ya…? Indonesia, Amerika, Israel, Thailand, myanmar, china dll, apa gak usah ada negara gak usah pake pemerintahan saja ya….?

  • avatar anakperi anakperi berkata:

    “…, bahwa perdamaian di daerah agraris itu mungkin perdamaian penindasan, dan bukannya perdamaian kepuasan”

    ….negara agraris = negara penindasan…? 😦

  • avatar daustralala daustralala berkata:

    itu kan masalah “senjata diberikan kepada orang salah” bukan?

  • avatar didi didi berkata:

    akhirnya korps yang satu itu punya cerita yang sama juga dengan korps lainnya.

  • avatar gessh gessh berkata:

    Miris, sampe nangis liat berita ini di tivi. Masih ada nggak sih rasa aman di negeri sendiri?

  • avatar yati yati berkata:

    selaluuuu berulang…capek :(( ga bisa nulis lagi!

  • avatar arief syarifuddin arief syarifuddin berkata:

    indonesia kudhu di ruwat ben ora ono bencana meneh dhab, terus pemimpinne di sumpah pocong ben ora nyolong, di mandi in kembang tujuh rupa biar rupa ne ora mencala putera mencala puteri, dewa watak burisrawa otak ngeres ngapusi rakyat cilik ngono dhab, apa ya mereka itu musang berbulu domba

  • avatar arief syarifuddin arief syarifuddin berkata:

    perjuangan belum berakhir, mari kita berdoa semoga mereka dibalas sesuai dengan perbuatannya.
    becik ketitik olo kethoro

  • avatar alifmastur alifmastur berkata:

    Menarik untuk dibaca, bedah telisik spiritual wasiat leluhur nusantara : MENYIBAK TABIR MISTERI NUSANTARA di http:\\nurahmad.wordpress.com

Tinggalkan Balasan ke arief syarifuddin Batalkan balasan

What’s this?

You are currently reading Tanah Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta