5 Pecas Ndahe

Juni 1, 2007 § 11 Komentar

Hari ini, 62 tahun yang lalu, Bung Karno berorasi. Sebuah pidato bersejarah. Untuk pertama kalinya ia menyebut Pancasila.

Sebuah ideologi? Dasar negara? Paham?

Tak mudah untuk menafsirkannya secara persis hari-hari ini ketika banyak orang mulai melupakannya; pada saat hati nurani kita sepak jauh-jauh ke sudut. Tak gampang lagi kita menemukannya di relung-relung sanubari.

Dalam kebimbangan, saya mencari Paklik Isnogud untuk mendapatkan pencerahan. Bekal saya cuma pertanyaan: Kapan Pancasila lahir dan apa maknanya sekarang?

Paklik mengernyitkan jidat ketika saya mengajukan pertanyaan itu. Ia seperti berpikir keras sebelum menjawab.

“Begini, Mas. Seorang sejarawan dengan tepatnya pernah mengatakan sulit menetapkan tanggal lahirnya sebuah ide. Buku pidato Bung Karno tanggal, 1 Juni 1945 disebut dengan judul Lahirnya Pancasila.

Tapi, untuk mengatakan bahwa Pancasila di hari itu langsung ada dari ketiadaan hampir sama artinya dengan mengatakan bahwa Pancasila terbit dari sabda Tuhan. Itu berarti dia bukan lagi sesuatu yang digali.

Bagaimanapun, kata penggalian hanya suatu kiasan. Ia akan bisa menyesatkan bila kita menafsirkannya secara harfiah, Mas.”

“Lalu mulai kapan Bung Karno menggalinya, Paklik?” saya mulai penasaran.

“Cangkulan pertama Bung Karno tentu saja tak diayunkan pada 1 Juni 1945, melainkan jauh sebelum itu.

Pidatonya yang cemerlang pada 1 Juni 1945, yang ia ucapkan selama sekitar satu jam untuk menjawab pertanyaan apa dasar negara Indonesia, jelas merupakan hasil pemikiran bertahun-tahun. Juga buah suatu pengalaman.

Dalam pemikiran dan pengalaman itu, bagaimana Bung Karno bisa bersendiri? Dia bergumul dan bertukar gagasan. Dia belajar sambil merenung dari orang lain. Dia meletakkan kuping dan hatinya kepada realitas-realitas di masyarakat. Lalu dia merumuskan pikiran-pikirannya, dalam pelbagai tulisan — sejak 1920-an.

Dari tinjauan seperti itulah proporsi Pancasila mungkin bisa nampak lebih tepat. Perumusan lima asas itu, yang mencerrninkan semangat terbaik dari pelbagai sudut kehidupan, bukanlah sesuatu yang sama sekali baru.

Bung Karno telah mencernakan kitab-kitab suci dan ideologi-ideologi; dia menelaah serta memungut banyak dari apa yang ia sebut Islamisme. Ia juga memetik banyak — banyak sekali bahkan — dari Marxisme.

Seperti terlihat dari pidatonya pada 1 Juni 1945, dia tanggap pula akan pelbagai kecenderungan atau aliran yang hidup di masyarakat Indonesia. Dia tahu kepentingan pelbagai kekuatan politik dan golongan di sekitarnya. Dia menawarkan suatu kebersamaan.

Karena itulah, ketika perumusan Pancasila ditata kembali secara beramai-ramai oleh para peletak dasar Republik, Bung Karno tidak berkeberatan. Yang penting bukan saja dia tak menyatakan diri sebagai pemegang hak cipta perumusan itu, tapi juga dia sendiri tak menganggap sumbangan pikirannya sebagai suatu dogma yang suci.

Sayang kita tidak hidup di dalam suasana pertengahan 1945 itu. Kini pembicaraan mengenai Pancasila dan Bung Karno telah demikian rupa, hingga kejujuran dan keterusterangan terasa amat sukar.

Hampir setiap diskusi tentang ini, setiap interpretasi baru dan pendekatan yang berbeda, condong dicurigai sebagai penyelewengan. Siapa tahu sebentar lagi juga dianggap sebagai kemurtadan.

Kini kita memang patut bertanya ke mana perginya banyak cita-cita yang bagus. Internasionalisme bahkan tak cuma digantikan oleh pelbagai entakan nasionalisme baru, tapi juga oleh lokalisme.

Gerakan separatis di Thailand dan India, untuk menyebut dua negeri saja, ikut menegangkan dunia. Pertimbangan kepentingan para pemilik pabrik tekstil di Georgia ikut meresahkan buruh di Bangkok. Kepentingan nasional bentrok dengan kepentingan kelompok, dan tak selamanya yang pertama menang, utuh.

Tuhan memang menciptakan pelbagai bangsa untuk saling mengenal. Sayangnya, perkenalan itu tak selamanya ramah.

Imagine, there’s no country, John Lennon menyanyi. Tapi ia juga ditembak mati.

Tuhan memang menciptakan hanya satu bumi, tapi kemudian lahirlah bangsa-bangsa. Mereka membentuk negara masing-masing. Tembok-tembok pun tegak, dan sejak itu manusia tak tahu persis hendak bagaimana lagi.

Yang terjadi adalah semacam kekacauan, meskipun kadang-kadang tanpa darah. Kata Voltaire di abad ke-18, “Sebuah negeri hanya bisa untung apabila sebuah negeri lain merugi.”

Saya ingat Mas, di Jakarta menjelang lahirnya Pancasila, Bung Karno dengan indahnya berpidato, dan ia mengutip Gandhi.

“Saya seorang nasionalis, tetapi kebangsaan saya adalah peri kemanusiaan.”

Peri kemanusiaan? Ah, ke mana dia sekarang berada, Mas?”

Saya menghela napas panjang setelah mendengar penuturan Paklik. Samar-samar saya seperti mendengar koor anak-anak yang bernyanyi, Garuda Pancasila akulah pendukungmu. Patriot proklamasi, sedia berkorban untukmu …

§ 11 Responses to 5 Pecas Ndahe

Tinggalkan Balasan ke Abi_ha_ha Batalkan balasan

What’s this?

You are currently reading 5 Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta