Setan Pecas Ndahe

November 23, 2007 § 20 Komentar

Seandainya blog sudah mati, apalagi yang menarik dari permainan ini?

Tiada kata, tiada gambar. Tanpa dia, tanpa kita.

Ah, untungnya, dalam hidup ini ada setan. Dan, sepanjang hidup ini, kita membutuhkan setan. Kalau sedang sepi, tak ada setan, kita masih bisa mengimpornya dari gudang purbasangka atau kerisauan kita sendiri.

Kalaupun tak ada juga, kita dapat mencari musuh. Musuh memberi kita bentuk. Kebencian dan kewaspadaan memberi kita kekuatan.

Dengan cara itulah kita punya cara yang lebih gampang dalam “mengetahui” dunia: ada kawan, ada lawan, ada sana, ada sini.

Tapi, apakah sebetulnya dunia itu?

Banyak orang ingin tetap “mengetahui” dunia sebagaimana mereka ingin melihat sebuah bujur sangkar: begitu “beres”, selesai dan tertutup dengan semua sisi yang sama.

Tapi, banyak orang tidak bersedia menerima dunia sebagai (untuk meminjam satu istilah dari Michel Foucault, meskipun tidak sepenuhnya cocok) “heteropia”.

Orang lebih suka dengan “utopia”. Sebab, heteropia itu mengganggu, seperti kata Foucault.

“Dan, karena itu kita membutuhkan seorang Werkudara, Mas. Orang yang hanya ingin cukup arif untuk mengenal pribadinya sendiri,” kata Paklik Isnogud.

“Mungkin lantaran Werkudara dari kalangan yang menolak dunia seperti bujur sangkar, beres. Sebagai pangeran, dia punya hak untuk kekuasaan dan kemewahan. Tapi, ia juga menyaksikan kecemburuan dan nafsu di sekitarnya, juga untuk kemewahan-kemewahan kecil.

Karena itu, dia lalu belajar tentang kebajikan menahan diri dan bersikap mengalah. Ia dilatih untuk memandang rendah segala hasrat menuntut benda duniawi. Sebab, ia ragu, bisakah ia mengharapkan kemuliaan hati manusia? Manakah yang benar bagi kita semua — hasrat duniawi atau tiadanya hasrat itu?

Kita tahu, Mas … Akhirnya Werkudara pun sampai pada kesimpulan ini:

… Manusia tinitah luwih, apan ingaken rahsa mulya dewe saking kang dumadi (manusia ditakdirkan lebih dari semua makhluk, terpandang sebagai rahasia Tuhan, dan paling mulia dari semua ciptaan) …

Komplotan setan, jin, hantu blau, wewe gombel, gendruwo, dan sebangsanya itu hanya malah akan membuat manusia semakin kuat, Mas.”

Yes, Paklik. And the blog is not dead yet. Fortunately.

Iklan

§ 20 Responses to Setan Pecas Ndahe

  • jalansutera berkata:

    pertamax buatan pertamina
    kita untung, bangsa untung…

  • pitik berkata:

    Werkudara = brotoseno
    mas iman kah maksudnya??hehehe

  • stey berkata:

    Jangan kejem tho ndoro..masak blog dibunuh? Jangannnnnn!!!!

  • kw berkata:

    dan setan dan jin nya kita kita? πŸ™‚

  • daustralala berkata:

    ini preview blog barunya buanadara ya?

  • balibul berkata:

    betul mas daus…

  • mbahatemo berkata:

    the author is dead.. πŸ˜€

  • “….Kalaupun tak ada juga, kita dapat mencari musuh. Musuh memberi kita bentuk……” Mungkin ini yang membuat Ahmadinejad dan Chavez bisa menjad akrab (meski latar mereka amat kontras). Sebab mereka punya musuh yang sama.

  • hanny berkata:

    kok dari kemarin ada kematiannya terus sih…

  • zen berkata:

    kata ndoro kakung: “Manusia tinitah luwih, apan ingaken rahsa mulya dewe saking kang dumadi.”

    kata saya: “nggak ah. kenapa? lebih karena saya khwatir, klaim superioritas macam ini yang membuat manusia merasa lebih penting dari flora (tetumbuhan), dari fauna (dari binatang), dari gaia (alam semesta), sehingga merasa layak untuk memerlakukan 3 subyek itu sekenannya”.

    global warming. krisis air bersih. punahnya satwa dan kekayaan hayati.

    saya khawatir, ndoro. saya khwatir dengan klaim-klaim njenengan itu.

  • mei berkata:

    suster N gung d sebutke =)

  • edratna berkata:

    Karena ada musuh makanya kita jadi kuat. Betul, sama seperti jika ada persaingan, kita menjadi berpikir agar memenangkan persaingan

  • nananias berkata:

    mengenal pahit, mengamini manis. jemu dalam gelap, menghargai terang. dalam keterbatasan melakukan hal-hal tak terbatas. rahasia tuhan? i second mas werkudoro.

  • nananias berkata:

    tambah!

    lagian the things that cannot kill you will only make you strongaaaahhh..

    plus yang lurus-lurus ngga seru, saatnya nyari nomer 4 kayaknya πŸ˜€

  • dewi berkata:

    atas saya :

    make you stronger, but not happier.. hahahaha

    but yes, inilah yang dinamakan keseimbangan.

  • nananias berkata:

    Manusia tinitah luwih, apan ingaken rahsa mulya dewe saking kang dumadi …superioritas yang dilengkapi dengan pikiran dan nurani kan ndoro? tuhan memang hebat, memberi pilihan dan bantuan.

  • Biho berkata:

    dunia ? ya panggung sandiwara, gak ada kawan nggak ada lawan gak ada wasit, yang ada hanya kepentingan abadi πŸ˜€

  • Totoks berkata:

    dunia blog juga ada setannnya juga ya ternyata hihihi…

  • blogidator berkata:

    Dalam Arsitektur Hujan, Afrizal Malna kerap menyebut bahasa telah mati. Ada ketidakpuasan terhadap tendensi pemakaian kata dalam khazanah puisi Indonesia.

    Paklik, ups, mamang Bambang Sugiharto menegaskan bahwa akar semua kata adalah metafor. Metafor sendiri hanya mewakili kenyataan dan bukan kenyataan itu sendiri. Ketika seseorang bilang itu mawar, kata mawar sendiri bukanlah mawar yang ditunjuknya. Ya, semua orang juga tahu minimal sejak pemeo Shakespeare soal mawar itu, hanya saja itu digelitik kembali dalam wacana filsafat. Keyakinan Brodsky bahwa kata memiliki kekuatan untuk mengubah realitas mungkin lebih bergantung pada sisi renewable power atau sekadar sifat pasemon seperti yang dimaksud Goenawan Mohamad dari metafor. Karena bila sudah berhenti proses pembaruannya, kata hanya akan menjadi barang mati, klise, dalam bahasa Afrizal, mayat membiru. Dan blog mungkin kehilangan nafasnya.

    Siapapun yang mengatakan the blog is dead (kita tidak sedang membicarakan vlog, kan? Video blog sih akan selalu menjadi blog gambar hidup, kagak ada matinye), mungkin sudah sampai pada kemasygulan terhadap potensi kata-kata.

    Semoga semakin banyak orang yang bisa menerima heteropia dan memiliki metanoia, sebuah cara pandang baru terhadap diri sendiri dan kehidupan dengan cara mengizinkan cahayaNya memasuki hidup kita untuk mengajarkan kita cara melihat diri kita dan cara kita sampai pada diri kita sejatinya. Dari situ kata-kata mendapat energi barunya, dan blog yang dinafasi kata-kata itu masih hidup karenanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Setan Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: