Bayi Pecas Ndahe

Desember 25, 2007 § 23 Komentar

Hari ini, lebih dari 2.000 tahun yang lalu, ada jabang bayi lahir di kandang domba. Tapi, siapa sebenarnya yang lahir di Betlehem 25 Desember itu?

Saya ndak tahu. Tapi, Paklik Isnogud pernah bercerita, “Barangkali tak seorang bayi pun, suci atau tak suci, lahir di hari itu, Mas. Sebagian orang yang meneliti perkara ini pernah menyimpulkan bahwa hari kelahiran Yesus ditentukan kemudian dan tidak ada hubungannya dengan catatan dan akurasi sejarah.”

“Kok bisa begitu, Paklik?”

“Bisa saja. Bahkan tanggal yang sekarang menjadi Hari Natal itu pada mulanya ada kaitannya dengan ritual pra-Kristen di Eropa, demikian juga halnya pohon Natal, dan entah apa lagi.

Tapi, pentingkah itu semua? Barangkali juga tidak. Cerita tentang Tuhan, para nabi, cerita tentang mukjizat, tentang pengorbanan jiwa, cerita tentang pengalaman religius dan hidup sebelum dan sesudah dunia, semua itu terlampau dahsyat untuk para penelaah fakta historis yang ketil dan cerewet.”

“Iman dan sains tak bisa bersatu ya, Paklik?”

“Memang. Sebab, iman adalah satu hal, pengetahuan tentang yang benar dan tidak benar adalah hal lain. Pada mula dan pada akhirnya ini adalah perkara makna, bukan kebenaran.

Yesus mungkin tidak benar-benar lahir di tanggal 25 Desember di tahun nol atau satu, tetapi Hari Natal dan pohon terang dan lagu Malam Suci memberikan makna kepada mereka yang percaya, dan, seperti dalam pelbagai cerita yang didengar dan diulang-ulang untuk anak-anak. Dengan makna, itu keajaiban bisa terjadi, Mas.”

Selamat Natal buat sampean semua yang merayakannya. Semoga sampean beroleh berkah dan keajaiban di Malam Kudus ini.

Iklan

§ 23 Responses to Bayi Pecas Ndahe

  • Totoks berkata:

    hadow… bayi pecas ndahe.. mesakno ndoro ๐Ÿ˜ฆ
    Selamat Natal bagi yang merayakannya, dan selamat tahun baru.. semoga damai di hati, damai di bumi ๐Ÿ˜€

  • evan berkata:

    selamat natal bagi yang merayakan.

  • leksa berkata:

    iman sulit bersanding dengan ukuran kebenaran.

    Bukannya kebenaran juga punya ukuran masing2,..ukuran kebenaran saya, ndoro, mas Totoks, Mas Evan, paklik isnogud..

    atau dibalik saja,.. kebenaran tergantung oleh keimanan masing2?

  • Kardjo berkata:

    Seandainya semua orang Endonesahโ„ข pecas-ndahe, bisa mikir kaya ndorokakung, alangkah damainya dunia ini. Perlu dipecaske semua? Matur nuwun paklik Isnogud…

    Nderek nitip pesan: Sugeng Natal kagem sedaya kanca, sederek, lan kaluargi ingkang ngayahi lelampahanipun Gusti Yesus.

  • kw berkata:

    “malam kudus, sunyi senyap
    bintangMu gemerlap…..
    …….”

  • daustralala berkata:

    iya sih. ndak penting lagi perkara sejarah dalam hal ini.

  • detnot berkata:

    Semoga bangsa kita bisa hidup rukun dlm keberagaman ndoro

  • Mr. Strategy berkata:

    Sebuah posting yang subtil, dramatis dan amat menyentuh. Saya jadi teringat dengan buku yang baru saja dirilis oleh juragan sampean : “Tuhan dan dan Hal-hal yang Tak Selesai”.

    Juga teringat akan sebuah risalah yang menggemparkan itu, yang ditulis oleh “penelaah fakta historis yang ketil dan cerewet”, berjudul “GOD is Not GREAT : How Religion Poisons Everything”.

    Perbincangan iman dan sains memang menarik. Ada nggak ya blog kita yang spesifik membahas tema penting ini?

  • Mr. Strategy berkata:

    Dalam spirit natal, mungkin ada baiknya saya mengutip tulisan juragan sampean dalam buku “Tuhan dan Hal-hal yang tak Pernah Selesai”. Dan well, seperti biasanya, tulisan Mas Goen memang dahsyat :

    “Iman lebih kaya ketimbang kemurnian. Iman adalah bianglala yang semarak. Yang menyangka ada jalan pintas dalam iman akan menemukan jalan buntu dalam sejarah….”

    Manusia bisa tersesat, tapi sejarah menunjukkan bahwa iman tak pernah jera justru ketika Tuhan tak jadi bagian benda-benda yang terang…..”

  • rozenesia berkata:

    Benar. Meributkan kebenaran dan fakta sejarah itu nggak akan ada habisnya.

    Yang bisa kita lakukan dengan damai adalah mengambil pesan dan hikmahnya. ๐Ÿ˜€

    Selamat Natal.

    (BTW, saya pas Malam Kudus meditasi aja lho)

  • munyuk pemalu berkata:

    selamat natal buat yang merayakan…semoga kedamaian tetap menyertai

  • Praditya berkata:

    Met taun baruan nya gak skalian ndoro… ๐Ÿ˜€

  • venus berkata:

    iman itu, kata temen saya, percaya tanpa harus melihat bukti fisiknya.

    selamat taun baru, ndoro.

  • Rystiono berkata:

    Ditunggu “Tahun baru pecas ndahe”-nya…

    Hihihihii…

  • begundal berkata:

    buat sampeyan yang level keimanan sudah setara wali mungkin bisa berfikir yang demikian ini.
    tapi sayangnya, kalau mengharap ‘para begundal berjubah yang suka bawa pentungan’ itu berfikir demikian rasanya kok cuma angan-angan saja.

  • iman brotoseno berkata:

    dari tadi kok ngomong ‘ iman ‘ terus…
    Semoga saya tidak dikutuk karena mengucapkan Selamat Natal bagi yang merayakan.

  • Zam berkata:

    ini sama dengan perbedaan penentuan hari raya umat islam juga ndak, ndoro?

    pengetahuan (ilmu astronomi) yang seharusnya bisa digunakan untuk menyokong dalil, kadang dianggap bid’ah karena ndak mengikuti “keimanan”..

    untung umat kristiani ndak ada perbedaan penentuan hari natal, paskah, dan lain-lain..

    la di Vatikan sudah Natal, di sini belum..

    huekekeke…

  • iman ibarat cinta, bersyukurlah bagi orang2 yg memperolehnya….salam damai sejahtera penuh berkah dari gresik

  • kendal beribadat berkata:

    saya dulu pernah tanya ke guru sejarah. dan malah di suruh berdiri di depan kelas.
    “pak. adam dan hawa itu pithecantropus erectus ato sudah homo sapiens..?”
    simple tapi gawe nesu guruku.
    25 desember itu perhitungan tanggal matahari dimana menurut para wong pinter jaman biyen menjadi patokan untuk waktu penyembahan kepada dewa matahari. dari peradaban bangsa mana saya lupa. saya tahu dari suster yang mengajari saya sekolah minggu sekian tahun yang lalu. memang bukan itu yang menjadi patokan untuk kapan si jabang bayi yesus jebrol oek..oek.. tetapi lebih ke makna kebenaran meskipun sebuah adanya selalu bias dan membingungkan karena berbagai sisi yang memandangnya. toh saat itu bukti empiris mengatakan bahwa merupakan jaman awal sejarah dimana uwong mulai mengenal cara komunikasi tertulis, kurang lebih 2000 tahun yang lalu.. ibarat gethuk wis kesuwen dan mambu, wong jaman PKI saja yang bapakku mengalami saja kita masih bingung mana yang benar. nggih boten paklik isno.. lepas dari itu semua Damai besertamu juga om.. ๐Ÿ˜€

  • rozenesia berkata:

    <blockquote<untung umat kristiani ndak ada perbedaan penentuan hari natal, paskah, dan lain-lain..
    Euh om Zam…pan pake taun masehi. ๐Ÿ˜›

  • tukang ketik berkata:

    Good post.

    Merry Christmas to everyone.

  • stey berkata:

    iman itu percaya tanpa harus melihat..dan selamat Natal,damai dibumi,damai dihati..

  • Nazieb berkata:

    Aduh, saya nggak berani ngomongin iman-imanan.. Yang penting ibadah saja yang sregep dulu ๐Ÿ™‚

    Merry XMas & Happy New Year!! ๐Ÿ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Bayi Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: