Risau Pecas Ndahe
Desember 21, 2007 § 16 Komentar
Ketika matahari menghilang dan rembulan ganti menyembul, saya kerap bertanya-tanya, bakal lebih cerahkah hari esok? Akankah hidup kita jadi lebih baik dari kemarin?
Sampai gelap menelikung badan dan hujan mengguyur peradaban, jawaban tak juga saya dapatkan.
Saya lalu berbincang dengan Paklik Isnogud tentang masa-masa yang kian sulit dan membuat pinggang kita kian lisut seperti sekarang.
Pabrik masih sunyi. Paklik tepekur di mejanya. Ia mengenakan surjan lurik biru kesukaannya. Tangannya melinting tembakau dan kertas Marsbrand. Cangkir kopi dinginnya masih separuh, seperti tak disentuh. « Read the rest of this entry »
Reverie Pecas Ndahe
Desember 20, 2007 § 11 Komentar
Ada yang tak pernah selesai kau bincangkan
tentang hati dan nurani
ketakutan, kepedihan, dan kemuraman — jalan yang panjang
Ada yang tak pernah selesai kita katakan
epos, fabel, prosa
olah, renyut, dan latingku — keluhan yang membeku
Mungkin karena kita tak tahu kapan
air berubah bandang
gerimis menjadi hujan
angin menjelma badai
Dan kamu: sebuah asrar.
Embun pagi, langit lazuardi, yang menari bersama ratri …
:: untuk lamunan yang bisu.
Sekali Pecas Ndahe
Desember 19, 2007 § 27 Komentar
Seseorang pernah berkata:
Laki-laki hanya sekali jatuh cinta. Sebelum dan sesudahnya, ia mencintai bayang-bayang — bayang-bayang perempuan yang telah atau akan menjadi cintanya.
Haiyah! Aku pernah meragukannya, sampai suatu hari …
:: sebuah pesan pendek untuk pelangi di ujung senja.
Haji Pecas Ndahe
Desember 19, 2007 § 22 Komentar
Kepada mereka yang datang menerima panggilan itu,
Ke negeri yang kering, ke kolong langit dalam dengus suhu 40 derajat, ke haribaan Kaabah dalam kelimun jutaan orang, mengikuti perlambang Bapa Ibrahim. Kepada yang datang dan impit-mengimpit di terowongan Al-Muaisim …
Labaik, Allahhumma Labaik …
:: satu hari sebelum hari keikhlasan itu ::
