Ekstrem Pecas Ndahe

April 2, 2008 § 24 Komentar

Selarik kalimat tiba-tiba nyelonong masuk ke kotak Yahoo! Messenger. Dari id-nya, saya tahu siapa pengirimnya: seorang kawan lama.

“Aha, finally, I know who you are. You guys never take side, yes?”

Saya tersenyum membaca teks itu dan kenapa dia mengirimkannya. Dia memang pembaca setia blog saya ini. Ia mengikuti dengan seksama setiap kata, kalimat, bahkan hingga titik koma dari setiap posting yang ada di blog ini, sejak awal saya mulai ngeblog hingga sekarang.

Tak heran bila dia mengenal saya, terutama sikap dan pandangan saya tentang banyak hal. Kalimat itu merupakan semacam kesimpulan dia tentang semua posting saya yang membahas pelbagai macam isu.

Dan di hari-hari ini, ketika ranah blog berderak-derak oleh pelbagai macam isu, dia merasa sikap dan pandangan saya makin menegaskan sosok saya. Sikap dan pandangan yang sama juga dia temukan pada sosok beberapa blogger lain, seperti Sir Mbilung dan Paman Tyo.

Saya cuma tersenyum dan tak segera bereaksi pada kalimat yang ditulisnya itu, sampai kemudian dia bertanya dari mana dan bagaimana kami bisa mempunyai semacam kesamaan sikap. « Read the rest of this entry »

Arif Pecas Ndahe

April 1, 2008 § 29 Komentar

Hidup memang penuh tikungan kejutan. Siapa sangka kakak kelas saya dulu di Jogja, yang sudah bertahun-tahun tak bertemu, tiba-tiba muncul di ranah blog. Sudah jadi pejabat pula.

Dialah Arif Afandi, Wakil Wali Kota Surabaya, mantan pemimpin redaksi Jawa Pos yang juga pernah jadi pengurus klub sepak bola Persebaya.

Pertemuan di jagat maya ini benar-benar tak disangka. Saya tak pernah membayangkan dia bakal tertarik menulis di media yang dianggap oleh sebagian orang sebagai wilayah yang mirip the wild wild west.

Selamat datang di dunia imajinatif, Rif. Semoga kau betah dan punya napas panjang untuk merawat blogmu. Kapan-kapan kita naik sepeda motor lagi menyusuri selokan Mataram … seperti dulu.

Oh ya, jangan lupa, masih ada satu kawanmu yang nyangkut di Ohio itu. Tolong diuruslah, hahaha …

Negeri Pecas Ndahe

April 1, 2008 § 23 Komentar

Ada sebuah cerita yang disampaikan oleh seorang yang membaca surat.

Ia tinggal di Pandeglang dan suatu hari di koran pagi ia membaca sepucuk surat dari Sangihe. Ia tak mengenal siapa penulis surat itu, tapi tiba-tiba ia menyadari sesuatu yang penting.

Surat itu berupa setengah keluhan dan setengah pertanyaan kepada redaksi koran di Jakarta itu. Ia merasa ada yang tak beres dengan orang Indonesia.

Lihat saja, tulis pembaca itu, ada ibu membunuh anak kandungnya. Ada polisi menembak istrinya. Artis kawin dan cerai. Minyak tanah dan bensin langka di sejumlah daerah. Jalan-jalan berlobang dan memakan korban para pengendara. Harga beras naik. Politikus bertikai melawan Presiden dalam urusan pencalonan Gubernur Bank Indonesia. Ada anak SD melarikan uang dolar orang tuanya. Daftar itu bisa diperpanjang. Tapi, ia tak sanggup

Kalimat terakhirnya berbunyi, “Apa sebenarnya yang sedang terjadi di negeri kita?” « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently viewing the archives for April, 2008 at Ndoro Kakung.