Ndoro Kakung


Beranda | Arsip


Nurdin Pecas Ndahe

Februari 23, 2011 1:31 pm

Hari ini Indonesia kembali membicarakan perihal Ketua Umum PSSI Nurdin Halid. Dan, sayangnya, narasi tentang figur yang satu ini diwarnai dengan kemarahan.

Berita di media massa dan media sosial mengabarkan ihwal para suporter sepakbola yang mendatangi kantor PSSI di Senayan. Mereka menuntut Nurdin Halid meletakkan jabatan. Nurdin dianggap tak becus memimpin organisasi dan korup.

Nurdin, terpidana kasus korupsi yang sudah dua periode memimpin PSSI, menampik tuntutan itu. Ia bahkan hendak maju lagi dalam ajang pemilihan ketua umum bulan depan.

Kisah Nurdin dan kekuasaan yang ingin dipertahankan itu membuat saya teringat pada Werkudara, seperti yang pernah ditulis Goenawan Mohammad.

Putra kedua keluarga Pandawa itu dikenal sebagai figur yang stabil, kokoh, bertubuh tegap. Tapi sesungguhnya dia bukan cuma unggul dalam “kultur jasmani” tapi juga di dunia “olah batin.”

Ada juga yang menggambarkan Werkudara sebagai sosok yang hanya ingin cukup arif untuk mengenal pribadinya sendiri.

Ini agak aneh, sebab sesungguhnya Werkudara itu seorang pangeran. Ia punya hak untuk memiliki kekuasaan dan kemewahan.

Mungkin karena dia juga menyaksikan kecemburuan dan nafsu di sekitarnya, serta kemewahan-kemewahan kecil.

Sementara itu ia belajar tentang kebajikan menahan diri dan bersikap mengalah. Ia dilatih untuk memandang rendah segala hasrat menuntut benda duniawi.

Maka mungkin ia ragu, bisakah ia mengharapkan kemuliaan hati manusia? Mungkin ia bertanya: manakah yang benar bagi kita semua — hasrat duniawi atau tiadanya hasrat itu?

Artinya, ia harus mengerti, adakah sikap ksatria untuk menahan diri merupakan sikap yang wajar?

Pertanyaan semacam itu adalah pertanyaan tentang gambaran manusia. Adakah manusia itu makhluk yang lemah tapi licin? Ataukah ia makhluk yang secara rohaniah kuat untuk tidak terguncang oleh benda-benda?

Tak mudah untuk menjawabnya. Werkudara tidak mengadakan riset atau survei.
Sebab sehebat-hebatnya riset toh hanya bisa melukiskan secara terbatas. Karena itu, ia harus menengok jauh ke dalam lubuk hatinya sendiri.

Dari situlah ia berangkat. Seorang yang menghalalkan nafsu, rasa cemburu dan serakahnya sendiri akan melihat manusia bukan sebagai makhluk yang luhur.

Seorang yang pernah berhasil melawan nafsunya, dan terus bertekad untuk itu, akan melihat manusia lebih dari sekadar kelenjar hidup.

Dan Werkudara sampai pada kesimpulan yang kedua:

…manusia tinitah luwih, apan ingaken rahsa mulya dewe saking kang dumadi…(manusia ditakdirkan lebih dari semua makhluk, terpandang sebagai rahasia Tuhan, dan paling mulia dari semua ciptaan).

Saya tak tahu apa yang selanjutnya terjadi dengan kesimpulan itu sampai saat kisah keluarga Pandawa berakhir. Tapi dengan keyakinan yang diperolehnya itu, agaknya tak sukar bagi Werkudara untuk bertahan dari rasa kekurangan badan dan rasa cemburu.

Mungkin ia bahkan sudah berbahagia tanpa mulut yang berkicau di koran atau linimasa.

>> Selamat hari Selasa, Ki Sanak. Bagaimana sampean mengartikan kekuasaan?

Beri peringkat:

Diposkan oleh: Ndoro Kakung

Kategori: Indonesiana

Tag:

40 Tanggapan to “Nurdin Pecas Ndahe”

  1. Tiada lelah mengucap #NURDINTURUN

    By rio on Februari 23, 2011 pada 1:33 pm

  2. Musti ada pencerahan hikmah kali yah 🙂

    By ajengkol on Februari 23, 2011 pada 1:34 pm

  3. Setiap Pemimpin/penguasa memang selalu di anugerahi “linuwih”

    By ToniSB on Februari 23, 2011 pada 1:35 pm

    1. betul banget…

      By mapribel on Februari 24, 2011 pada 4:26 am

    2. mantap…

      By mapribel on Februari 24, 2011 pada 4:27 am

      1. masalah nya “linuwih” yang seperti apa.. 🙂

        By tonisb on Februari 27, 2011 pada 5:11 pm

  4. kekuasaan itu harus ada batasnya serta digunakan secara bijaksana dan tidak sewenang-wenang. kalo sekiranya merasa sudah mampu mengemban tanggung jawab sebuah kekuasaan, sebaiknya ikhlas, legowo melepaskan kekuasaan itu.
    Nah, ikhlas itu yg susah. Lha wong udah biasa ‘ongkang2’ sebagai pemimpin, eh sekarang jadi rakyat jelata lagi

    By dzale on Februari 23, 2011 pada 1:46 pm

    1. kekuasaan itu harus ada batasnya serta digunakan secara bijaksana dan tidak sewenang-wenang. kalo sekiranya merasa sudah tidak mampu mengemban tanggung jawab sebuah kekuasaan, sebaiknya ikhlas, legowo melepaskan kekuasaan itu.
      Nah, ikhlas itu yg susah. Lha wong udah biasa ‘ongkang2’ sebagai pemimpin, eh sekarang jadi rakyat jelata lagi

      By dzale on Februari 23, 2011 pada 1:48 pm

  5. Wajar kalo orang yang sudah di puncak kekuasaan enggan untuk turun. Hah…kewajaran yang ironis!

    By ladeva on Februari 23, 2011 pada 2:09 pm

  6. Semoga Sepak Bola Indonesia Kedepan makin baik dan memiliki prestasi yg baik.

    By jakartatanpamacet.com on Februari 23, 2011 pada 2:16 pm

  7. Hm…. hidup Arifin Panigoro! 🙂

    By DV on Februari 23, 2011 pada 2:24 pm

  8. lha piye maneh ndor, wong nurdin cs yo bebalnya ndak ketulungan.

    By mas stein on Februari 23, 2011 pada 4:48 pm

  9. Ya Allah…knpa engkau panggil Adjie Massaid, knapa bukan Nurdin Halid yg engkau panggil cepat ?

    By TAUFIQ on Februari 23, 2011 pada 6:10 pm

  10. ndor mungkin sampean kenal “tony blank”, nah kalau mau nanya arti kekuasaan mungkin bisa sama dia…

    By Bayu Hernawan on Februari 23, 2011 pada 6:38 pm

  11. pantesan merenung di pojokan. Ternyata reinkarnasi werkudoro :mrgreen:

    By nadi on Februari 23, 2011 pada 8:06 pm

  12. kekuasaan membuat hati yg memilikianya buta

    By TUKANG CoLoNG on Februari 23, 2011 pada 11:04 pm

  13. wadew ?????
    iso ae ndoro iki

    werkudoro atau bima
    memang arif bijak kuat dan,
    selalu menang dalam pertempuran

    tetapi ingatttt !!!!!
    werkudoro atau bima
    punya kelemahan juga

    sekali hantam pahanya
    hehehehe jangan tanya lagi
    lumpuh total tuh

    begitu juga NH
    2 periode ketua PSSI
    kelihatan kuat kan ?
    wibawa dan kuasa

    kita belum tau saja dimana letak
    kelemahan NH

    kesimpulan wakil bima (hix)
    BILA MANUSIA SUDAH TIDAK PUNYA
    HATI NURANI SERTA MAWAS DIRI
    MAKA JABATAN TAK AKAN DILEPAS

    DUITE AKEH NDORO !!

    By andhika63™ ♥ on Februari 24, 2011 pada 1:24 am

  14. nurdin gak mau turun? Jangan-jangan ada “penyokong” haha

    By chandrapzm on Februari 24, 2011 pada 5:27 am

  15. ayo ndoro.
    pasang banner NURDIN TURUN di blog ini.

    By liburan di bali on Februari 24, 2011 pada 6:09 am

  16. Semoga cepat ada perbaikan..

    By Adi Nugroho on Februari 24, 2011 pada 6:44 am

  17. kalau memang pak nurdin pengen melihat majunya sepak bola indonesia, dia mesti tahu apa yang mesti dia lakuin. dia pasti tahu bagaimana bersikap yang tidak menimbulkan perpecahan. bercerminlah pak nurdin, jadi pemimpin itu suatu amanah, apabila tidak bisa melaksanakan amanah bersikaplah seperti orang dewasa. jangan mengedepankan ego, semua perbuatan kita terecord ko.bukan saja oleh manusia tapi juga tuhan.

    By iyam on Februari 24, 2011 pada 7:18 am

  18. Semoga saja bahagia dalam kesengsaraan 😀

    By Aziz Hadi on Februari 24, 2011 pada 7:46 am

  19. haduh masih saja soal NH
    nggak habis pikir saya, kekeuh bgt ni org kyk presiden Libya aja…hahaha

    By toko online on Februari 24, 2011 pada 1:13 pm

  20. masih betah

    By Kurnia Septa on Februari 24, 2011 pada 5:46 pm

  21. Semoga sepak bola indonesia dapat lebih baik 🙂

    By fahrizi on Februari 25, 2011 pada 7:54 am

  22. Bubarkan PSSI aja…Habis perkara
    abis itu daftarin lagi PSSI baru ke FIFA*
    *jarene bang NAGA BONAR

    By hitamputih19 on Februari 25, 2011 pada 10:49 pm

  23. Ini refleksi utk smua bkn hanya NH semata,kearifan hidup sebagai mahluk bermartabat.
    PSSI ? yang nyebelin bkn NH semata ,dia kan hanya figur yg siap pasang badan sebagai sasaran tembak,sejatinya semua saja yg bersetuju dengan nya di organisasi yang konon bergelimang judi itu.

    By si culun on Februari 26, 2011 pada 7:45 am

  24. aku ‘gumun’ koq ada ya wong kaya gitu, ra duwe isin

    By pet society lover on Februari 27, 2011 pada 6:21 pm

  25. memang benar bahwa yg bisa nyuruh mundur Nurdin hanyalah tukang parkir. tapi perlu diGalaui juga kalau ternyata dia gakpunya gigi perneleng mundur lho Kung..

    By Adaideaja™ on Februari 27, 2011 pada 10:29 pm

  26. #turunkannurdin

    By Kang Rama on Februari 27, 2011 pada 11:35 pm

  27. aku milih ndoro kakaung dadi gantine nurdin wae

    By ndoro bagus on Maret 4, 2011 pada 9:28 pm

  28. Nurdin takut miskin, makanya g mau turun

    By Saiful on Maret 6, 2011 pada 9:12 pm

  29. nurdin pengen di mubarak kan, biar lebih tenar kalo nanti pensiun beneran

    By toko barcode on Maret 8, 2011 pada 2:18 am

  30. Akhirnya tamat sudah peran seorang nurdin khalid di “panggung PSSI”..tp perlu diwaspadai para “pewaris” berupa kroni2nya. kalo mereka juga yg memegang kendali di PSSI yah sami mawon jadinya…cepe’ deh… 😦

    By Firman on Maret 11, 2011 pada 1:32 am

  31. Ntar lagi Nurdinnya dibui Ndor

    By hitamputih19 on Maret 11, 2011 pada 10:08 pm

  32. kalo mausia sdh du2k d kursi yg enak pasti sulit turun… soale keenakan broooo,, urusan MALU belakangan, urusan AMANAH belakangan yg didahuluin urusan PERUT

    By seragam sekolah on Maret 13, 2011 pada 4:18 pm

  33. Lebih baik hidup biasa sajalah, yang penting tidak jadi momok dimasyarakat, damai adalah ketidak terikatan..

    By Sehat on April 3, 2011 pada 6:14 pm

  34. Ehm…

    By Rada Edan on April 6, 2011 pada 12:56 pm

  35. Sekarang Nurdin cuma tinggal sejarah di PSSI…

    By Travel Haji Plus on September 13, 2011 pada 7:18 pm

  36. kekuasaan bukan kesewenangan tp kekuasaan adl suatu sikap kebijaksana klo mnrut sya bgtu ndorr…

    By mesin kasir on Januari 25, 2013 pada 4:01 pm

Tinggalkan Balasan



Mobile Site | Full Site


Get a free blog at WordPress.com Theme: WordPress Mobile Edition by Alex King.