F1 Pecas Ndahe

April 7, 2015 § 45 Komentar

Bagaimana rasanya menonton langsung jet-jet darat berpacu di sirkuit Sepang? Apa yang tak kita lihat di televisi saat balapan berlangsung?

Setelah menerima email kejutan yang menyenangkan itu, akhirnya saya berangkat ke Malaysia pada 27 Maret lalu. Dengan benak dipenuhi rasa penasaran dan ketaksabaran, penerbangan dua jam dari Jakarta ke Kuala Lumpur terasa lebih singkat.

GP, F1, Sepang, Ferrari, 2015

GP F1 Sepang, March 30, 2015.

Di bandara KL2 yang baru, sesuai janji sebelumnya, Sohrab Parsa dari Exness Ltd. yang mengundang saya, sudah menunggu di pintu kedatangan. “Welcome to KL,” katanya sambil mengulurkan tangan dengan akrab.

“Bagaimana penerbangannya? Anda sudah makan? Bagaimana kalau kita ke hotel dulu, lalu cari makan siang?” Sohrab memberondong saya dengan sapaan pembuka.

Saya mengiyakan. Kebetulan perut sudah keroncongan, tanda waktu makan siang sudah tiba.

Sohrab Parsa, 27 tahun, adalah pria Iran yang menyenangkan. Ia anak bungsu dari tiga bersaudara yang pernah menimba ilmu di sebuah universitas di Malaysia. Oleh perusahaannya, dia sengaja ditunjuk menemani saya selama di Malaysia karena dianggap paling tahu tentang Kuala Lumpur dan titik-titik paling menarik untuk dikunjungi oleh blogger seperti saya.

Setelah menaruh koper di hotel, Sohrab mengajak saya makan siang di The Troika di kawasan Persiaran, KLCC.

Troika Sky Dining berada di lantai 23 Troika Building, KLCC, dan dibagi dalam empat bagian: Fuego, Strato, Claret, dan Cantaloupe. Kami memilih di Cantaloupe yang diresmikan oleh dua chef utamanya, Christian Bauer dan Eddie Chew, pada 2013. Restoran ini menyebut konsep menunya β€œfine food in a room with a view”.

Dari dinding jendela restoran, pengunjung memang dapat menyantap makanan seraya menikmati wajah modern sebagian kota Kuala Lumpur yang dipenuhi gedung-gedung beton pencakar langit.

Siang itu, kami memilih seafood sebagai menu pembuka dan utama. Dan sebagai penutup, ada cheese cake dan kopi hitam yang panas mengepul.

Selama makan siang itu kami bertukar kata perkenalan. Sohrab bercerita tentang dirinya dan perusahaan tempatnya bekerja yang didirikan pada 2008. Ia juga memberi latar belakang mengapa Exness mengundang saya sebagai satu-satunya blogger untuk menonton langsung balap F1 di Sepang.

Exness, kata Sohrab, adalah mitra tim Formula One Infiniti Red Bull Racing sejak 1 Januari 2015. Kemitraan itu ditandai oleh penempelan logo EXNESS di kokpit mobil tim Formula One Red Bull, dengan dua pengemudi utama: Daniel Ricciardo dan Daniil Kvyat.

“Nanti sore kita akan bertemu mereka di paddock,” Sohrab berjanji.

Benar saja, Jumat sore itu juga Sohrab membawa saya ke sirkuit Sepang — kurang lebih setengah jam perjalanan naik mobil dari hotel Hilton tempat saya menginap di KL. Tim-tim peserta balap F1 akan memulai latihan tak resmi.

Kami tak langsung menuju tribun untuk menonton sesi latihan. Sohrab membawa saya ke paddock club. Ini ruangan-ruangan tempat para tamu dijamu oleh tim-tim peserta lomba. Lokasinya persis di belakang podium.

Di dalam ruangan yang sejuk itu, semua tamu disuguhi minuman dan makanan ringan. Dan…ini yang penting, diberi kesempatan bertemu dengan para pembalap.

Sore itu, salah satu pengemudi utama tim Red Bull, Daniel Ricciardo, yang datang menemui para tamu. Kehadirannya sontak membuat para tamu mendekat untuk berfoto dan minta tanda tangan. Daniel melayani dengan sabar dan ramah. Sesekali ia mengajak tamu ngobrol.

Setelah itu, para tamu termasuk saya, diajak ke bawah, ke garasi tempat mombil-mobil balap Red Bull dipersiapkan untuk balapan. Garasi dipenuhi oleh tim teknisi Red Bull yang sibuk menyetel mesin jet-jet darat.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Waktu tanpa terasa berjalan begitu cepat. Ketika malam jatuh, saya meninggalkan sirkuit untuk pulang ke hotel. Sabtu besok acaranya padat.

Acara terpenting pada Sabtu sore adalah menonton sesi latihan resmi menentukan pole position. Meski latihan, para pembalap benar-benar menginjak gas pol mobilnya. Suaranya meraung-raung, meledak, memecah udara.

Sayang hujan turun deras sekali di tengah sesi latihan, membuat jet-jet darat tengah memacu kecepatan tinggi. Terpaksa mereka harus masuk garasi hingga hujan turun.

Sohrab bertanya apakah saya akan menunggu atau meninggalkan sirkuit. Saya memilih untuk pergi karena toh lomba yang sesungguhnya baru berlangsung besok sore tepat pukul 14.00 waktu setempat. Penentuan posisi start bisa saya ikuti nanti lewat televisi di kamar hotel.

Hotel Hilton berada persis di seberang Stesen Sentral, stasiun kereta utama, Kuala Lumpur. Lokasinya tergolong sangat ramai. Di hotel itulah, Sohrab menjemput saya seusai sarapan Minggu pagi.

“Kita akan melihat Bird Park dan Aquaria,” kata Sohrab.

Waow, tempat wisata! Saya dapat bahan tulisan lagi. Tapi nanti ya, sekarang cerita tentang adu balap jet darat dulu.

Dari dua tempat wisata terkenal di KL itu, saya meneruskan jadwal jalan-jalan menuju Sepang lagi. Acara lomba akan dimulai tepat pukul 14.00 waktu setempat.

Sepang adalah sirkuit yang luas, bersih, dan tertata. Pengaturan tempat parkir dan lalu lintasnya, bahkan ketika lomba berlangsung, tak ruwet. Hanya memang cuacanya sangat panas. Harus bawa payung atau minimal topi kalau nonton balapan di sini.

Untunglah para penonton lomba dari berbagai negara, terutama yang perempuan, membuat sore yang terik berubah sejuk. Mereka rata-rata hanya memakai kaos singlet atau tank top dan celana pendek. Mungkin biar tak gerah.

Sebelum lomba dimulai, mereka nongkrong di kafe-kafe yang tersebar di sekitar sirkuit. Biasanya bergerombol. Pemandangan yang memanjakan mata ini jarang tertangkap kamera televisi karena ada di luar sirkuit.

Tapi tentu saja tontonan yang saya tunggu-tunggu adalah GP F1 racing. Rasanya beda sekali antara menonton lomba di televisi dan secara langsung seperti ini. Atmosfir tontonannya begitu terasa. Penonton yang riuh. Awak tim dan para petugas sirkuit yang sibuk, fotografer yang hilir-mudik menenteng kamera berlensa tele, suara mesin mobil yang meledak di udara, semuanya membuat suasana begitu hidup.

Hidup terasa singkat di sirkuit. Dalam tempo sekitar 1,5 jam, seluruh mobil balap telah melalap habis lintasan. Pembalap Jerman, Sebastian Vettel, dari tim Ferrari akhirnya naik ke podium disusul Lewis Hamilton (Mercedes) dan Nico Rosberg (Mercedes). Dua pembalap Red Bull, Daniil Kvyat di posisi 9 dan Daniel Ricciardo di posisi 10.

Sore itu saya meninggalkan Sepang dengan perasaan yang berbuncah. Pertama kali menonton langsung balap mobil Formula 1 benar-benar pengalaman yang tak terlupakan.

>> Selamat hari Selasa, Ki Sanak. Sampean hobi nonton GP F1 nggak?

Iklan

Tagged: , , , , , ,

§ 45 Responses to F1 Pecas Ndahe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading F1 Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: