Apa dampak pamer di media sosial?

Januari 7, 2023 § 3 Komentar

Cerita hari ke-7.

Sabtu adalah hari rileks. Mari bicara tentang hal-hal yang ringan: tentang pamer.

Di media sosial, semua orang pamer, bukan? Mungkin cuma beda tingkat noraknya. Anak sekarang menyebut pamer dengan istilah flexing.

Apa dampak positif dan negatif pamer di media sosial?

Flexing adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa seseorang memiliki sesuatu yang sangat keren atau mengesankan.

Perilaku pamer, memamerkan apa saja, di media sosial itu ibarat satu koin dengan dua sisi: bisa berdampak positif dan negatif

Apa dampak positif flexing di media sosial?

Menambah kepercayaan diri: Flexing di media sosial dapat membantu seseorang merasa lebih percaya diri dan yakin akan diri mereka sendiri. Ini bisa membantu meningkatkan kepuasan pribadi dan kesenangan dari keberhasilan yang dicapai.

Menyalurkan kreativitas: Flexing di media sosial dapat menjadi cara bagi seseorang untuk mengekspresikan kreativitas dan ide-ide mereka kepada orang lain. Ini dapat memberikan seseorang kesempatan untuk mengekspresikan diri secara artistik dan menyalurkan energi kreatif mereka.

Menjadi inspirasi bagi orang lain: Flexing di media sosial dapat memotivasi orang lain untuk mencapai keberhasilan yang sama atau menyalurkan ambisi mereka. Seseorang yang berhasil dalam bidang tertentu dapat menjadi sumber inspirasi bagi orang lain yang ingin mencapai keberhasilan yang sama.

Menjadi bagian dari komunitas: Flexing di media sosial dapat membantu seseorang terhubung dengan orang lain yang memiliki minat yang sama. Ini dapat membantu membangun komunitas dan memberikan seseorang kesempatan untuk berbagi pengalaman dan ide dengan orang lain.

Apa dampak negatif flexing di media sosial?

Dampak negatif flexing, antara lain perbandingan yang tidak sehat.

Flexing di media sosial dapat membuat seseorang merasa tidak puas dengan apa yang telah mereka capai, terutama jika mereka sering membandingkan diri mereka dengan orang lain yang tampaknya lebih sukses. Ini dapat menyebabkan perasaan rendah diri dan tidak percaya diri.

Flexing di media sosial juga dapat mendorong seseorang untuk terus-menerus berusaha meningkatkan status sosial mereka, yang dapat menyebabkan tekanan dan stres yang tidak sehat.

Flexing di media sosial dapat membuat orang lain memiliki gambaran yang tidak realistis tentang kehidupan seseorang, karena mereka hanya melihat bagian terbaik dari kehidupan seseorang yang diposting di media sosial. Ini dapat menyebabkan orang lain merasa iri atau tidak puas dengan kehidupan mereka sendiri.

Aksi pamer di media sosial bahkan dapat mendorong seseorang untuk melakukan tindakan yang tidak sehat atau berbahaya demi mendapat pujian atau persetujuan dari orang lain. Ini dapat menyebabkan risiko cedera atau masalah kesehatan yang serius.

Biasanya, orang-orang yang memposting konten flexing di media sosial ingin menunjukkan kepada orang lain bahwa mereka memiliki kekayaan, kemampuan, atau kesuksesan yang luar biasa. Namun, perilaku ini dapat membuat orang lain merasa tidak nyaman atau tidak percaya diri, terutama jika mereka merasa tidak memiliki apa yang orang lain post.

Para psikolog menyebut bahwa konten flexing dapat membuat orang merasa tidak nyaman (insecure) karena dapat memunculkan perasaan iri atau merasa tidak cukup baik.

Orang mungkin merasa tidak memiliki apa yang dimiliki orang lain yang ditunjukkan dalam konten flexing, atau merasa tidak dapat mengalahkan atau mencapai apa yang telah dicapai oleh orang lain.

Ini dapat menyebabkan rasa tidak percaya diri dan merasa tidak memadai. Sebagai contoh, jika seseorang memposting foto barang-barang mewah yang dimilikinya di media sosial, orang lain yang melihat post tersebut mungkin akan merasa iri atau merasa tidak cukup baik karena tidak memiliki barang-barang tersebut.

Seringkali, orang juga merasa tidak nyaman atau insecure karena mereka merasa tidak sejahtera secara finansial atau tidak memiliki kemampuan yang sama dengan orang yang memposting konten flexing. Mereka mungkin merasa tidak memenuhi standar kehidupan yang dianggap normal oleh orang lain, dan ini dapat membuat mereka merasa rendah diri atau tidak nyaman.

Meskipun memposting konten flexing di media sosial mungkin merupakan cara untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa kita memiliki sesuatu yang keren, ini juga dapat menimbulkan rasa tidak nyaman atau insecure pada orang lain.

Oleh karena itu, ada baiknya untuk memikirkan apakah memposting konten flexing benar-benar perlu, dan apakah hal itu mungkin akan membuat orang lain merasa tidak nyaman.

Bagaimana menurut sampean, Kisanak?

Iklan

§ 3 Responses to Apa dampak pamer di media sosial?

  • Blogombal berkata:

    Setiap orang yang berkesadaran penuh butuh pengakuan, peneguhan. Afirmasi gitu. Pamer adalah salah satu cara paling mudah jika dibandingkan berhasil orang lain bertestimoni rentang kita seperti yang kita mau.

    Apakah serial pamer seseorang itu berlebihan, beda kuda beda kacamata. Nyatanya konten pamer kemakmuran di YouTube, IG, dlsb, banyak yang laku.

    Anehnya orang kaya lama, yang termasuk 100 pembayar pajak pribadi terbesar, setahu saya tak suka pamer padan mampu.

  • juniantosetyadi berkata:

    Saya kadang pamer foto trail tua di IG. Ora ori (trile) ora opo-opo, sing penting pamer!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Apa dampak pamer di media sosial? at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: