Antara Pecas Ndahe

September 4, 2008 § 55 Komentar

Benarkah lagu-lagu Indonesia akan dibatasi pemutarannya di radio-radio Malaysia? Semula saya terpana membaca berita dari Kantor Berita Antara ini setelah diberitahu Paman Budayawan itu.

sensasional, sumir

sensasional, sumir

Saya pikir ini bakal jadi berita besar dan kontroversial. Bayangkan, bagaimana mungkin negeri jiran itu akan memblokade penyiaran lagu-lagu Indonesia di stasiun-stasiun radio mereka?

Apakah mungkin mereka melawan jaringan industri rekaman global? Bukankah para penyanyi Indonesia bernaung di bawah label internasional dengan jangkauan kekuasaan ke mana-aman? Apakah tindakan Malaysia itu tak melanggar perjanjian WTO dan AFTA? « Read the rest of this entry »

Matahari Pecas Ndahe

September 3, 2008 § 53 Komentar

Siang itu, ketika matahari menyeringai garang dan panasnya menikam setiap inci kulit jangat, aku kembali bersicepat melawan waktu melintas dermaga itu.

Aku hendak menemu perempuan musim panas yang rambutnya bermahkota janji-janji musim semi. Kepada siapa aku berharap pandu. Kepada siapa aku meminta bantu.

Tapi, perempuan musim panas itu absen di tempat dia biasa berada; berlindung di bawah payung rerimbun pohon harapan. Mungkin dia jemu menunggu sesiapa lewat menggendong harap serupa pungguk rindukan bulan. Aku tak tahu.

Siang begitu lengas. Halimun sirna terusir sepi sejak pagi. Kembang rontok bersama dedaunan, luruh di bawah dermaga. Air menderas, hanyutkan setiap potongan kenangan musim semi. « Read the rest of this entry »

Pertemanan Pecas Ndahe

September 2, 2008 § 69 Komentar

Berapa harga sebuah pertemanan? Bertanyalah pada kawan saya — sebut saja namanya — Roger. Dia mengirimkan email ke saya yang isinya tentang kelakuan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan Anwar Nasution.

Ada apakah gerangan dengan Anwar? Kenapa pula Roger sampai harus mengirimkan email ke saya?

Menurut Roger, kawan saya itu, dalam berbagai kesempatan Anwar menyatakan bahwa ia menunda mengirimkan laporan BPK tentang aliran dana dari BI kepada DPR sebesar Rp 31,5 miliar guna memberikan kesempatan kepada BI dan DPR untuk menyelesaikannya.

Anwar sudah mengetahui aliran dana BI tersebut sekurang kurangnya tanggal 18 Agustus 2005, ketika ia memanggil beberapa petinggi BI dan meminta BI mengembalikan uang YPPI. Anwar baru melaporkan kasus yang mengidikasikan tindak pidana korupsi tersebut ke KPK pada 14 November 2006, lebih dari satu tahun kemudian.

Mengapa Anwar menahan penerbitan laporannya? “Itulah harga pertemanan,” kata Anwar, seperti ditulis oleh Roger, kawan saya itu. « Read the rest of this entry »

Batas Pecas Ndahe

September 1, 2008 § 60 Komentar

Agus Condro Prayitno mengaku menerima Rp 500 juta setelah pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia. Ia juga mengungkapkan nama-nama koleganya di PDI Perjuangan yang ikut menikmati uang serupa.

naluri mega

Ini bukan soal naluri, tapi moral, Jeung! (foto: detikcom)

Rekan-rekannya yang disebut itu kemudian ramai-ramai membantah pengakuan Agus. Pengurus partai juga mencoret nama Agus dari daftar calon legislator karena dinilai mencoreng nama partai. “Kesannya semua orang PDI Perjuangan busuk,” kata salah seorang anggota fraksi partai itu.

Siapakah Agus sebenarnya? Pahlawan yang jujur atau pecundang? « Read the rest of this entry »

Akronim Pecas Ndahe

Agustus 30, 2008 § 84 Komentar

Bangsa kita ternyata sangat kreatif kalau disuruh membuat akronim. Apalagi kalau menyangkut nama daerah, kota, atau kawasan tertentu.

Seorang kawan menuturkan beberapa contoh. Dulu ada Jabotabek, lalu berubah jadi Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi).

Lalu ada Gerbangkertosusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan), Barlingmascakeb (Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, Kebumen), Pawonsari Bakulrejo (Pacitan, Wonogiri, Wonosari, Bantul, Kulon Progo, Purworejo), dan Joglosemar (Jogja, Solo, Semarang).

“Untunglah, tidak ada yang membalik urutannya menjadi Semarang-Solo-Yogya. Kalau disingkat menjadi Semar Loyo,” kata kawan itu. « Read the rest of this entry »