Matt Pecas Ndahe
Januari 20, 2012 § 64 Komentar
Pernah merasa buntu pikiran dan tak tahu hendak menulis apa? Pernah sedih lantaran blog sudah lama tak diperbarui?
Saya sering merasakannya. Lalu tiba-tiba saya menemukan blog Bapak WordPress, Matt Mullenweg itu. Di antara beberapa tulisannya, saya temukan posting ini:
Jadi beginilah cara saya memperbarui blog ini.
>> Selamat hari Jumat, Ki Sanak. Bagaimana cara sampean mengisi kekosongan blog?
Revolusi Pecas Ndahe
November 30, 2011 § 192 Komentar
Seorang perempuan. Sebuah tas Hermes di tangan. Sore itu aku menemuinya di sebuah kafe kecil di jantung Jakarta. Hujan turun berderai-derai di luar. Jalanan macet. Seperti biasa.
Duduk di depanku dengan takzim, ia memamerkan senyumnya yang ringkas. Parasnya lesi. Aku maklum. Dia hidup dari satu tekanan ke tekanan lain. Dari sebuah kekuasaan ke kekuasaan berikutnya. Ia terhimpit.
Seperti biasa, sore itu ada dua cangkir kopi di atas meja. Satu kopi tubruk untukku. Satu cappucino kesukaannya.
Dua cangkir kopi. Dua manusia. Bumi dan langit. Tiba-tiba aku merasa yang namanya iba itu bisa datang dari mana saja. Ia kerap muncul begitu saja tanpa sebab yang jelas. Paling tidak demikian yang kurasakan sore itu.
Ia bahkan bisa datang dari secangkir kopi. Seorang teman. Dan beberapa butir air mata yang bergulir perlahan di pipi.
“Maaf, kadang aku masih cengeng, Mas,” katanya perlahan. “Kamu nggak usah ketawa.”
Mukaku datar. Pura-pura tak mendengar. « Read the rest of this entry »
Ubud Pecas Ndahe
November 21, 2011 § 104 Komentar
“Kenyataan bahwa aku sudah pergi jangan sampai membuatmu terlempar dalam pusaran hidup yang paradoksal. Karena aku pernah benar-benar punya harapan bakal hidup selamanya di sampingmu. Harapan itu masih tersimpan sangat rapi di sudut hatiku. Sekian.”
Pesan itu tiba-tiba menyelinap ke dalam BlackBerryku. Dari siapa lagi kalau bukan dia. Perempuan yang pelukan hangatnya mampu melumerkan seluruh salju di kutub utara.
Aku kaget. Tak kusangka mendapat kiriman mendadak dan mengagetkan seperti ini.
Aku segera membalasnya. Tanpa pikir panjang.
“Pernah? Apakah sekarang sudah padam?” Send!
Incoming message: “Harapan itu masih tersimpan sangat rapi di sudut hatiku.”
“Aku khawatir baranya makin lama makin kecil, dan akhirnya padam.” Send!
Incoming messange: “Ingat rumah di Ubud yang pernah aku ceritakan kepadamu? Dengan ayunan di taman depan? Dan kamu bilang dengan entengnya, ‘Tanya saja harganya berapa, nanti buat rumah kita di masa tua?'”
“Iya aku ingat. Sudah kau beli?” Send!
Incoming message: “Belum dong, memangnya kita sudah tua?”
“Tapi aku makin menua.” Send!
Incoming message: “Sudah siap hidup bersamaku?”
“Sudah siap beli rumah itu?” Send!
Kamu tertawa. Aku ngakak. Kita terbahak-bahak. Berdua. « Read the rest of this entry »
Coelho Pecas Ndahe
November 8, 2011 § 122 Komentar
Dari sungai konon kita bisa mendengarkan suara-suara. Lenguhan sapi, kokok ayam jantan, teriakan pedagang sate, klakson kendaraan, juga keriangan dan kepedihan. Dari sungai pula, seorang perempuan merasa yakin hidupnya akan baik-baik saja seandainya ia punya teman.
Saya mengetahuinya malam itu saat Jakarta disiram gerimis setengah hati dan sebuah surat elektronik masuk ke kotak surat. Saya terpana. Pengirimnya seorang sahabat yang sudah lama tak bersua.
Apakah gerangan yang membuatnya meluangkan waktu mengingat saya dengan menulis surat pada dinihari? Adakah yang genting?
Pertanyaan itu bukan datang dari ruang hampa. Berbelas purnama tinggal di episentrum kekuasaan membuat dia berada dalam ruang dan waktu yang begitu jauh dari jangkauan saya.
Selama ini kami hanya sesekali bersua di beberapa tikungan kesempatan. Itu pun cuma sebentar. Selebihnya kami hidup di jalan masing-masing. Yang sunyi … « Read the rest of this entry »
Perli Pecas Ndahe
Oktober 27, 2011 § 109 Komentar
Hari itu saya ada di sana bersama lebih dari 500 narablog. Sabtu pagi, 27 Oktober 2007, di bioskop Blitz, Megaplex, Jakarta, Menteri Komunikasi dan Informasi M. Nuh tengah menorehkan sejarah. Dalam pidato menyambut Pesta Blogger yang pertama, Pak Nuh mencanangkan 27 Oktober sebagai Hari Bloger Nasional.
Kontan tepuk tangan bergema bergaung-gaung dan senyum bertebaran di seluruh penjuru ruangan. Saya merinding. Hati saya penuh dan hangat. Saya merasakan semangat yang sama menyesaki para blogger yang hadir waktu itu.
Hari ini saya mengenang momen bersejarah itu masih dengan perasaan yang sama. Masih dengan hati yang sama meletup-letupnya. « Read the rest of this entry »
