Duyung Pecas Ndahe
Maret 10, 2008 § 19 Komentar
Bagaimana imaji putri duyung di benak sopir truk? Ya kira-kira beginilah. Tapi kok aneh ya, mosok putri duyung beruban? Namanya jadi eyang duyung dong …
Apakah karena putri duyung itu usianya sudah setua Sir Mbilung yang rambutnya juga sudah beruban, err … keperakan itu? Atau jangan-jangan masih semuda Paman Tyo yang memang dari sononya punya warna kepala yang … Ups!
Tapi, mungkin juga lantaran tukang gambarnya cuma kehabisan cat hitam. Piye, Ki Sanak?
Tag Pecas Ndahe
Maret 9, 2008 § 10 Komentar
Dari daftar tag sebuah portal blog, kita beroleh moral dari sebuah cerita, bahwa sesuatu yang berlebihan kadang bisa terpelanting jadi error — secara kebetulan.
Sssttt Pecas Ndahe
Maret 7, 2008 § 16 Komentar
Catur brata penyepian: amati gni (tanpa api), amati karya (tanpa kegiatan), amati lelungaan (tanpa perjalanan), amati lelanguan (tanpa hiburan).
Untung ndak ada amati blog. Tapi, jangan-jangan blog itu dianggap lelanguan ya? Jadi ndak boleh nge-blog juga dong …
Ah, selamat Hari Raya Nyepi bagi umat Hindu yang merayakannya …
>> Pic taken from here.
Pasangan Pecas Ndahe
Maret 4, 2008 § 42 Komentar
Kalau dilihat sekilas, kalimat di bak truk ini seperti tak ada yang aneh. Tapi, kalau dibaca dan dibaca lagi, lalu direnung-renungkan, rasanya ada yang janggal.
Kenapa ya “suami” berpasangan dengan “mama”? Mengapa bukan istri? Bukankah setiap kata memiliki pasangannya sendiri? Misalnya nih, bapak-ibu, pria-wanita, lelaki-perempuan, pakde-bude, om-tante, suami-istri.
Lantas mengapa pemilik truk itu tak menulis “suami setia istri”? Apakah kata “istri” terdengar kurang urban ketimbang “mama”? Istilah istri kurang seksi? Apakah ini sebuah anomali, ketidaktahuan, atau justru kesengajaan?
Ugh, pesan yang aneh …
Nenen Pecas Ndahe
Februari 27, 2008 § 35 Komentar




