Desktop Pecas Ndahe
Februari 17, 2008 § 44 Komentar
You are what your desktop, err … wallpaper. Beda laptop, beda pemilik, beda pula gambar wallpaper-nya. Setiap pilihan menunjukkan kepribadian pemiliknya — katanya.
Tak penting merek laptopnya. Yang lebih perlu dipamerkan justru gambar di desktop background. Ada yang masang gambar pacar. Ada yang pula yang memajang gambar keluarganya. Hmm, yang ini biasanya dari jenis pria cinta keluarga.
Sampean masang gambar apa di laptop, Ki Sanak? Apa? Miyabi? Waduh … 😀
Rudyanto Pecas Ndahe
Februari 15, 2008 § 32 Komentar
Hidup itu penuh perjuangan. Sungguh susah kalau cuma bisa jual abab, omong ndobos, sana-sini. Seperti halnya nge-blog, bekerja itu butuh krenteging ati, niat teguh, juga upaya yang benar-benar keras.
Maka dari itu, segala daya upaya pun mesti dikerahkan. Bila perlu sampai harus menyediakan jasa touris (tanpa t) dan travel.
Semua usaha itu demi meraih gelar yang terhormat dalam Ilmu Manajemen pada Program Pasca Sarjana IBII (Institut Bisnis dan Informatika Indonesia). Karena jualan mie saja ternyata tak cukup. « Read the rest of this entry »
Avolution Pecas Ndahe
Februari 13, 2008 § 29 Komentar
Rokok baru?
Lagi-lagi Paman Tyo yang membelikannya ketika saya menemani dia bekerja. Paman memang baik dan suka memberi meski duitnya tak meteran lagi.
Kalau sampean juga mau diberi, kontaklah dia. Siapa tahu stoknya masih ada. Ya kan, Paman?
Karyawan Pecas Ndahe
Februari 8, 2008 § 24 Komentar
Tanpa merek, tanpa petunjuk. Rokok ini memang khusus untuk karyawan. Adakah yang bisa menebak merek dan produsennya?
Terima kasih untuk Paman Tyo yang mengangsurkan rokok ini ke saya, meski dia bukan karyawan perusahaan rokok itu. Entah dia mendapatkan dari mana dan bagaimana caranya memperoleh.
Modeng Pecas Ndahe
Februari 4, 2008 § 22 Komentar
Bukan Paman Tyo namanya kalau ndak baik hati dan duitnya meteran. Begitu melihat saya cuma ndlongop di malam hari, tiba-tiba dia mengangsurkan sebungkus rokok. “Nih, buat kamu,” katanya singkat.
Halah. Saya kaget. “Buat aku?”
Dia cuma mengangguk dan bekerja lagi sambil nyemil kacang — yang ini saya ndak diberi.
Matur nuwun juragan. Tapi, kok tumben Paman memberikan apa yang sedang saya butuhkan? Saya lebih kaget lagi setelah melihat bungkus yang menggeletak di atas meja. Rokok Modeng? Huh, merek yang aneh. « Read the rest of this entry »





