Mercy Pecas Ndahe
Maret 13, 2007 § 23 Komentar
Apa lagi yang bisa kita katakan selain tragedi, ketika seorang ibu bunuh diri bersama empat anaknya?
Tersebutlah Mercy, bukan merek mobil, melainkan ibu berusia 35 tahun, warga Lowokwaru, Malang, Jawa Timur.
Tak tahan hidup menderita dalam belitan ekonomi pas-pasan, Mercy nekat mengakhiri hidup bersama empat anaknya yang masih kecil, yang tertua umur 11 tahun dan termuda 1,5 tahun.
Kita pun tersentak, kaget. Begitukah sulitnya kehidupan sampai seorang ibu hanya melihat satu jalan, mati bersama empat anaknya? « Read the rest of this entry »
Megaria Pecas Ndahe
Maret 12, 2007 § 19 Komentar
Salah satu bioskop tertua di Jakarta, Megaria (ex-Metropole) dijual. Tawaran penjualan bioskop yang beralamat di Jalan Pegangsaan Timur 21 itu saya baca di situs jual-beli IndoRealEstates.
Perantaranya memasang harga pembukaan Rp 151.099.000.000. Uang muka harus dibayar 50 persen dan pelunasannya dalam tempo 5 bulan. Ada komisi lumayan untuk mereka yang berhasil menjual. Sampean tertarik, Ki Sanak?
Sebagai sebuah bioskop, Megaria sangat monumental. Gedung ini diresmikan pada 1949 oleh Wakil Presiden Mohammad Hatta. « Read the rest of this entry »
Doa Pecas Ndahe
Maret 10, 2007 § 22 Komentar
Seseorang telah menulis sebuah kumpulan, “Doa Sederhana bagi Dunia Yang Ruwet.”
Barangkali memang itulah yang kita perlukan saat ini: ketika hujan menjelma banjir, sungai menjadi bandang, angin menjadi badai, dan kendaraan menjadi peti mati penumpangnya.
Karena kita sering kali menjadi bengong, lalu bertanya-tanya, siapakah kita yang guncang oleh keruwetan kehidupan dan pikiran ini? Raga atau sukma? « Read the rest of this entry »
Keserakahan Pecas Ndahe
Maret 9, 2007 § 17 Komentar
Tiba-tiba saja Paklik Isnogud memanggil saya datang ke ruangannya pada sebuah siang yang mendung. Bukan sesuatu yang aneh sebetulnya, tapi begitu saya lihat di mejanya ada menu makan siang komplet, ikan bakar, tempe dan tahu goreng, lalap, dan sambal, saya jadi bertanya-tanya.
Paklik ulang tahun? Mau syukuran? Dapet lotere?
“Ada apa, Paklik?” saya bertanya sambil cengengesan. “Tumben ngajak makan siang, nih? Biasane pelit … ”
“Trembelane,” Paklik mengumpat sambil berdiri. “Sini, duduk sini, Mas. Ndak onok opo-opo. Kebetulan tadi saya baru diundang seorang kawan untuk ndobos ndak keruan di pabriknya. Eh, lah kok pulangnya dikasih sangu. Lumayan buat beli makan siang, to?” « Read the rest of this entry »
Tommy Pecas Ndahe
Maret 8, 2007 § 22 Komentar
Ndak usah heran kalau dia bisa membujuk para petinggi hingga sudi turun tangan ikut melancarkan pengambilan duitnya di London, Inggris.
Lah wong ibu-ibu muda, janda-janda cantik, dan gadis-gadis bahenol pun kepincut pesonanya, apalagi cuma dua cecunguk kemaruk yang sangat merindukan rupiah.
Ndak usah heran jika hidupnya beruntung terus. Memang dia pernah dipenjara. Tapi, berapa banyak remisi yang diperolehnya — melebihi narapidana yang lain dengan masa hukuman sama?
Memang dia gagal membina rumah tangga. Tapi, berapa banyak lagi rumah tangga yang runyam gara-gara ulahnya?
Tapi, tak usahlah juga kita iri padanya. Kenapa? « Read the rest of this entry »




