Lakonet Pecas Ndahe

Maret 29, 2008 § 28 Komentar

Siapa bilang blogger itu tukang tipu? Siapa bilang blogger itu hacker; blogger itu orang kurang kerjaan; blogger itu suka menyamun halaman situs orang dan mengintip gambar-gambar syur … ???

Barangsiapa masih memiliki imaji keliru tentang blog dan sosok blogger, silakan mampir ke Lakonet. Ini blog tentang kocap kacarita wayang ing babat blog. Halah. Blog apa ini? « Read the rest of this entry »

Kemelaratan Pecas Ndahe

Maret 28, 2008 § 22 Komentar

Hidup rupanya kian bikin lisut pinggang — dan absurd. Bacalah berita-berita dalam satu bulan terakhir ini, ibu-ibu membunuh anak kandungnya sendiri di Bekasi, Jawa Barat, dan Pekalongan, Jawa Tengah. Kasus serupa terjadi di Malang, Jawa Timur.

Ekonomi yang sulit, kemelaratan, kabarnya telah menjadi momok yang paling mencekam hingga membuat ibu-ibu itu mata gelap. Harga beras, minyak tanah, sembako, meroket. Penghasilan merosot tajam. Pengangguran keleleran di mana-mana. Para suami meninggalkan istri. Anak-anak teraniaya dalam belitan kemiskinan.

Ibu-ibu hidup penuh tekanan. Ketika pintu penahan tekanan jebol, akibatnya tak tertanggungkan lagi.

Lalu di manakah negara? Pemerintah? Dan kita? Bagaimana sebetulnya kita harus memberantas kemiskinan dan tekanan hidup? Perlukah kaum paria dilindungi?

Paklik Isnogud cuma geleng-geleng kepala ketika saya mengajaknya memikirkan soal ini. Berkali-kali ia mendesahkan napas panjangnya. Wajahnya keruh. Matanya redup. « Read the rest of this entry »

Klarifikasi Pecas Ndahe

Maret 27, 2008 § 67 Komentar

Setelah membuat dua posting tentang Roy Suryo dan membaca pernyataannya di beberapa media mengenai blogger dan ulahnya, saya lalu mengirim SMS ke yang bersangkutan untuk mendapatkan klarifikasi.

SMS saya kirimkan tadi malam, dan jawabannya baru masuk siang ini.

Saya: Numpang tanya, apakah benar kamu mengatakan blogger itu mendukung pornografi dan menolak UUITE?

RS: Aku emoh komentar plesetan macam itu. Terlalu banyak komentar [asli]-ku diplesetkan, ya oleh para blogger sendiri, kemudian diforward2. Blogger ‘gitu loh.

Saya: Oh ngono. Soalnya jelas tak semua blogger seperti yang kamu sebutkan. Ada blogger seperti Juwono Sudarsono, Yusril Ihza Mahendra, dsb yang mungkin menolak pornografi dan mendukung UUITE.

RS: Kalau tadi mendengarkan Elshinta (pagi jam 9-an), tentu akan faham bahwa memang ada Blogger positif dan negatif. Biasalah, dibuat issue, diplesetkan … 😦

Saya: Kosikik. Kalo dr siaran live interaktif, sbrp bnyk efek pelintiran dibnding wwcr yg ditranskrip ke teks? Aku ra nonton tv, shgg gak lht lsg ucpnmu? (note: pertanyaan ini titipan dari Paman Tyo)

Update:

Setelah menunggu sekian jam, SMS jawaban Roy datang pada pukul 17.15 waktu handphone saya.

Roy: Tengkyu, Dab. Tapi aku akan tetap mengkritisi Blogger, karena kenyataan itu. Soal ‘pelintiran’ atau pelesetan itu biasa dalam sebuah iklim Demokrasi, he 3x 😀

Saya: Tengkyu untuk apa?

Eh, rupanya ia tak menjawab.

UPDATE:

Pada pukul 18.31, Roy kembali mengirimkan SMS balasan. Isinya:

Tengkyu karena — meski berbeda pandang soal blog — suatu kehormatan Ndoro Kakung masih mau klarifikasi langsung ke aku, bukan spt yg lain, langsung melintir 😀

Giliran saya tak membalas SMS itu. Saya menganggap kasus ini selesai sampai di sini.

Perlawanan Pecas Ndahe

Maret 26, 2008 § 58 Komentar

Ini pernyataan Roy Suryo [yang itu] di situs Kompas:

Dia mengatakan itu setelah ditanya soal perlunya memblokir situs porno.

Dalam hati saya bertanya, kok dia yakin para blogger akan menyerang dan melawan? Memangnya blogger itu pengikut Wiji Thukul yang punya sebait sajak menggetarkan itu?

Hanya ada satu kata: LAWAN!

Lagi-lagi kawan kita itu menyamaratakan semua blogger, menganggap semua blogger punya kamus yang sama di kepalanya.

Porno Pecas Ndahe

Maret 25, 2008 § 58 Komentar

Haruskah Internet disensor? Perlukah pemerintah memblokade situs, blog, dan semua pojok remang-remang di ranah digital yang mengandung pornografi?

Pertanyaan-pertanyaan itu bergemuruh di jaringan digital hari-hari ini. Terutama setelah wakil rakyat kita di Senayan hari ini mengesahkan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Sebagian yang mendukung sensor dengan gegap gempita seraya berteriak, “Akhirnya sang pelindung telah tiba dan bertindak.”

Yang menolak blokade tak kalah garang. “Jangan, jangan sensor kami. Pornografi itu takhyul.”

Saya gamang dalam ketidakmengertian. Kosong. Buat saya, ini soal moral. Persepsi. Hati nurani. Kenapa mesti diselesaikan dengan teknologi? « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing the Indonesiana category at Ndoro Kakung.