Pakar Pecas Ndahe
Agustus 7, 2007 § 50 Komentar
Sampean mau terkenal? Mau jadi pahlawan? Baca dulu 10 tips jadi pahlawan terkenal:
1. Nama sampean harus berawalan R, misalnya Robot Gedek, Rodo Wagu, Rondo Kemul, dll.
2. Sampean harus menjadi pakar, boleh pakar rumput, jagung pakar, atau pakar apa sajalah.
3. Punya kumis, boleh yang warnanya hitam, boleh putih.
4. Menemukan rekaman video — apa pun isinya. Isinya ndak penting, yang penting sampean nemu.
5. Belum pernah baca buku sejarah, terutama sejarah lagu dangdut.
6. Punya teman wartawan, kalau bisa dari media yang beritanya bisa di-link.
7. Siapkan sedikit uang untuk nraktir wartawan yang sampean undang. Pokoknya asal cukuplah untuk nraktir sepiring mie rebus kek, teh manis kek, teh pahit kek.
8. Punya handphpone lebih dari satu, dengan pulsa tak terbatas untuk mengirim kabar penemuan sampean.
9. Siap ditelepon/dihubungi 24 jam sehari. Bila perlu, sampean harus bisa menjawab telepon sambil tidur.
10. Harus bisa bangun siang supaya bisa disebut pahlawan kesiangan. Kalau bangunnya pagi, namanya pahlawan kepagian dong.
Indonesia Raya Pecas Ndahe
Agustus 5, 2007 § 105 Komentar
Namanya Roy Suryo. Now, he is the man on fire — as usual.
Hahaha … Terus terang saya kagum padanya. Di beberapa milis dan blog, namanya kembali disebut-sebut sebagai orang yang sedang mencari sensasi (lagi). Tentu saja bukan kali ini saja Roy menggegerkan publik.
Yeah, he is the man on fire, indeed.
Gegeran kali ini muncul setelah Roy dan Tim Relawan Air Putih mengumumkan penemuan dokumen video lagu kebangsaan Indonesia Raya lengkap dalam tiga stanza berdurasi 3 menit 49 detik, dengan ukuran file sekitar 20 MB (Roy tak ingat persisnya).
Pengumuman mereka dimuat di koran yang ringkas dan cergas itu, Sabtu kemarin. Lalu, orang ribut di milis-milis dan situs berita dotcom. Ada yang menuduh Roy menjiplak temuan yang sebenarnya sudah ada di YouTube dan Wikipedia. Sejarawan Des Alwi juga mengklaim memiliki rekaman asli lagu Indonesia Raya dalam versi lengkap 3 stanza.
Saya penasaran. Apa yang sebenarnya terjadi?
Kebetulan saya mengenal Roy Suryo — kalau dia mengaku ndak kenal, itu urusan dia. Bukan urusan saya. Yang jelas, suatu kehormatan buat saya karena dia mau menerima telepon saya.
Anehnya, dia langsung menjelaskan isu yang kontroversial itu sebelum saya sempat bertanya. Pokoke dia langsung nyerocos begitu saya menyapa, “Halo.”
Nah, beginilah cerita versi Roy. « Read the rest of this entry »
Mulut Pecas Ndahe
Agustus 1, 2007 § 18 Komentar
Mulutmu harimau kamu. Mengerkah kepalamu. Begitulah ajaran lama yang seharusnya kita pegang. Supaya kita ndak waton ngomong, asal njeplak.
“Makanya Mas, jaga mulut sampean, jangan asal ngomong,” kata teman saya. “Soalnya mulut sampean itu tajam seperti silet. Bisa melukai hati.”
Lah tapi kan saya ngomong apa adanya. Berdasarkan bukti. Ndak asal njeplak.
“Halah, bukti apa, Mas … Mbok ya sampean ini jangan kayak politikus itu, yang katanya punya bukti ini, bukti itu. Padahal sampean cuma ndobos doang. Nggedabrus, ora nggenah.”
Loh, bukti ya bukti. Kok situ pakai nanya bukti itu apa. Memangnya sampean ndak tahu apa yang dimaksud dengan bukti? « Read the rest of this entry »
Zaenal Pecas Ndahe
Juli 31, 2007 § 15 Komentar
Ini namanya aneh, tapi nyata. Dua orang yang namanya mirip tiba-tiba jadi pembicaraan orang karena sama-sama baru saja dipecat. Halah.
Yang satu, Zaenal Arief, dipecat sementara (skorsing enam bulan) dari tim sepak bola nasional, karena melakukan tindakan indisipliner, yaitu meninggalkan penginapan tanpa izin dan kembali melampaui batas yang telah ditentukan.
Yang satunya lagi, Zaenal Ma’arif, dipecat dari keanggotaannya di DPR atas usul Partai Bintang Reformasi karena berpoligami.
Bayangkan, bedanya cuma satu suku kata saja [“ma”], tapi ternyata nasibnya mirip.
Aha, Shakespeare tampaknya harus merevisi pernyataannya dulu, dari what’s in a name menjadi what’s your name.
Tapi, tunggu dulu. Lah kok posting ini kayaknya layak masuk kolom Sungguh-sungguh Terjadi di harian Kedaulatan Rakyat di Yogya itu ya? Adakah di antara sampean yang berminat mengirim ke sana, Ki Sanak?
AIDS Pecas Ndahe
Juli 25, 2007 § 20 Komentar
Misalkan tubuh sampean dipasangi microchip sehingga ke mana pun sampean bergerak, orang lain bisa tahu. Mau di WC kek, tidur di kamar kek, kerja di kantor kek, main sepak bola, atau sedang mojok di apartemen istri simpenan, sampean pasti ketahuan. Bagaimana rasanya? « Read the rest of this entry »



