Pilkada Pecas Ndahe
Juli 24, 2007 § 10 Komentar
Hidup memang penuh pilihan. Tapi, apa yang mesti dipilih, itu masalahnya …
Perhelatan pemilihan kepala daerah (pilkada) Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta memasuki tahap kampanye. Para pasangan kandidat mulai melancarkan jurus-jurus menarik simpati publik, dari orasi hingga ke kampanye dalam bentuk brosur, spanduk, baliho, dan sebagainya.
Suka ndak suka, publik hanya punya dua pasangan calon yang harus dipilih. Bukan keputusan yang mudah. Setiap pasangan punya kelebihan dan kekurangan. Mau pilih siapa?
Syukurlah saya ndak harus terjebak dalam dilema itu. Saya bukan penduduk Jakarta. KTP saya dikeluarkan oleh administratur wilayah di luar Jakarta. Tapi, saya bisa merasakan kebingungan yang dihadapi warga Ibu Kota. Hahaha … rasain lo! Ups, maaf …
Saya ingat, Paklik Isnogud punya cerita menarik tentang acara pilih-memilih seperti itu — yang kerap bikin bingung para pemilih. « Read the rest of this entry »
Bung Pecas Ndahe
Juni 6, 2007 § 21 Komentar
Hari ini, 106 tahun yang lalu, seorang calon pemimpin besar lahir di Surabaya. Namanya Soekarno. Ia kemudian memang menjadi orang besar: proklamator dan Presiden Republik Indonesia pertama.
Siapa yang tak kenal?
Saya sengaja mencari Paklik Isnogud untuk mendengar dongengnya tentang Si Bung Besar itu. Paklik tentu menyimpan pengetahuan segudang, juga kenangan, tentang tokoh yang dikaguminya itu. Apa komentar Paklik ya?
Yang saya cari ternyata sedang berada di ruang kerjanya, menatap foto Soekarno dalam bingkai kaca. Sebuah potret besar hitam-putih. Aha, sebuah kebetulan. Paklik tentu sedang mengenang Si Bung itu. « Read the rest of this entry »
5 Pecas Ndahe
Juni 1, 2007 § 11 Komentar
Hari ini, 62 tahun yang lalu, Bung Karno berorasi. Sebuah pidato bersejarah. Untuk pertama kalinya ia menyebut Pancasila.
Sebuah ideologi? Dasar negara? Paham?
Tak mudah untuk menafsirkannya secara persis hari-hari ini ketika banyak orang mulai melupakannya; pada saat hati nurani kita sepak jauh-jauh ke sudut. Tak gampang lagi kita menemukannya di relung-relung sanubari.
Dalam kebimbangan, saya mencari Paklik Isnogud untuk mendapatkan pencerahan. Bekal saya cuma pertanyaan: Kapan Pancasila lahir dan apa maknanya sekarang?
Paklik mengernyitkan jidat ketika saya mengajukan pertanyaan itu. Ia seperti berpikir keras sebelum menjawab. « Read the rest of this entry »
Lanang Pecas Ndahe
Mei 31, 2007 § 18 Komentar
Wong lanang itu sosok yang tangguh, punya jiwa petualang. Lelaki sejati itu harus bebas, lepas, seperti sajak Chairil Anwar.
“Mari kita lepas, kita lepas jiwa mencari jadi merpati.”
Laki-laki juga harus bisa mengajak terbang. The only possible nonstop flight, terbang mengenali gurun, sonder ketemu, sonder mendarat …
Yang penting bukanlah suatu arah, melainkan keberanian menjelajah. Yang penting bukanlah satu konklusi, melainkan eksplorasi.
Tak penting merpati itu mungkin capek kemudian dan jatuh. Sebab, kita tahu, ada yang tetap tidak diucapkan/sebelum pada akhirnya kita menyerah.
Takut boleh. Takluk jangan.
Jadi laki-laki harus berani …
[Catatan harian Paklik Isnogud, tanggal 31 Mei 1970]
Waks! Berarti saya masih bayi waktu Paklik menulis jurnal itu … 😀 … Selamat menikmati libur panjang, Ki Sanak. Semoga kita bisa bertemu di sebuah tikungan perjalanan.
Tanah Pecas Ndahe
Mei 31, 2007 § 16 Komentar
Serombongan warga desa kemarin bentrok dengan prajurit Marinir di Alas Tlogo, Pasuruan, Jawa Timur. Peluru menyembur dari senapan serbu para prajurit dan penduduk desa pun tumbang.
Tragedi berdarah berlatarbelakang rebutan tanah garapan itu mengingatkan saya pada cerita Paklik Isnogud tentang Entong Gendut.
Menurut Paklik, lelaki pemberani itu warga Condet, Betawi. Dialah yang memimpin rakyat Condet melawan wedana dan mantri polisi karena ia sedih menyaksikan rumah petani dibakar habis oleh tuan tanah.
Itu terjadi di dasawarsa pertama abad ke-20, dan bukan dalam cerita lenong. Yang menceritakannya adalah ahli sejarah kita yang tersohor itu, Sartono Kartodirdjo, dalam bukunya Protest, Movements in Rural Java. « Read the rest of this entry »




