Pilkada Pecas Ndahe

Juli 24, 2007 § 10 Komentar

Hidup memang penuh pilihan. Tapi, apa yang mesti dipilih, itu masalahnya …

Perhelatan pemilihan kepala daerah (pilkada) Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta memasuki tahap kampanye. Para pasangan kandidat mulai melancarkan jurus-jurus menarik simpati publik, dari orasi hingga ke kampanye dalam bentuk brosur, spanduk, baliho, dan sebagainya.

Suka ndak suka, publik hanya punya dua pasangan calon yang harus dipilih. Bukan keputusan yang mudah. Setiap pasangan punya kelebihan dan kekurangan. Mau pilih siapa?

Syukurlah saya ndak harus terjebak dalam dilema itu. Saya bukan penduduk Jakarta. KTP saya dikeluarkan oleh administratur wilayah di luar Jakarta. Tapi, saya bisa merasakan kebingungan yang dihadapi warga Ibu Kota. Hahaha … rasain lo! Ups, maaf …

Saya ingat, Paklik Isnogud punya cerita menarik tentang acara pilih-memilih seperti itu — yang kerap bikin bingung para pemilih.

Syahdan, kata Paklik, 39 tahun yang lalu, majalah Selecta yang sudah berhenti terbit itu membuat satu seri sayembara. “Unik juga sayembara ke-12 yang dimuat dalam nomor 8 April 1968, Mas,” kata Paklik.

Unik?

“Dengan hadiah Rp 15.000, para pembaca diminta menjawab — sesuka hati — sebuah masalah yang disusun dalam bentuk cerita.”

Cerita apa?

“Ringkasnya begini. Z, seorang dirjen dalam sebuah departemen, punya soal pelik. Perusahaan negara yang dibawahinya perlu seorang yang sanggup memimpin dan melancarkan operasinya, agar bisa maju.

Dewan pimpinan perusahaan itu sendiri mencalonkan tokoh A. Dia ini muda, pemimpin buruh, tokoh partai yang berpengaruh dan berpengalaman dalam pelbagai bisnis. Menurut yang mencalonkannya, A ini tokoh jujur dan berdisiplin.

Tapi, Z juga diberi calon lain, yaitu B. Calon drop-dropan. Yang mencalonkan B tak lain Pak Menteri sendiri. Dalam memonya, Pak Menteri menyatakan bahwa B seorang pemimpin usaha yang ternama. Meski bukan sarjana, kecakapannya tak usah diragukan. Juga kenalan serta koneksinya banyak di bidang perdagangan luar dan dalam negeri.

Ada pula calon lain, sebut saja si C. Yang mengusulkan: staf ahli departemen. C adalah seorang ahli ekonomi lulusan universitas luar negeri. Ia pernah jadi dekan fakultas ekonomi pada sebuah universitas negeri. Tulisannya yang tersebar berpengaruh dalam bidang ekonomi dan perdagangan.

Siapa lalu yang harus dipilih Z? Ini yang sulit. Ketiga calon itu cukup memenuhi syarat. Z yakin bahwa A, B, dan C dicalonkan dengan iktikad baik demi kepentingan bangsa dan negara. Halah. Patriotik betul, ya?

Nah, para pembaca lalu diminta memilih siapa yang layak menjadi pemimpin perusahaan negara itu. Jawaban dikirim ke Selecta lewat kartu pos karena waktu itu belum ada telepon selular dan SMS.

Hampir 2.000 kartu pos pembaca masuk mengirimkan jawab. Isinya macam-macam, dan berasal dari macam-macam orang pula. Ada yang bernada penuh semangat, tapi tak jarang yang bersuara sinis — termasuk seorang mayor Angkatan Darat dari Jawa, yang menulis agar si Dirjen memilih saja calon Pak Menteri.

“Rumah tangganya akan aman,” kata sang mayor, yang kemudian bertanya, “Kenapa pusing-pusing dengan 1001 perhitungan kalau kini sudah jadi rahasia umum bahwa koncoisme lebih penting daripada peraturan?”

Koncoisme? Hahaha … Jadul banget. Sudah lama saya ndak mendengar istilah ini. Kata nepotisme lebih laris dipakai sekarang.

Lalu bagaimana pendapat pengirim kartu pos lain, Paklik?

Kalangan para guru dan pegawai negeri yang ikut sayembara itu umumnya ternyata yang paling jelas memperlihatkan gejala “alienasi birokratis”.

Mereka seperti berkata, “Sistem yang ada memang busuk sudah, dan saya cuma seorang pegawai kecil, apa yang bisa saya lakukan?”

Mereka tak lagi kritis.

Berbeda dengan para mahasiswa. Mereka ini paling kritis, lebih melihat kemungkinan bahwa keadaan bisa diperbaiki,” kata Paklik tanpa memberi tahu saya bagaimana hasil sayembara itu dan siapa yang akhirnya terpilih.

Tapi, itu mungkin ndak penting lagi. Siapa juga yang masih mengingat peristiwa 39 tahun yang lalu? Saya cuma mau bilang bahwa sejarah rupanya belum banyak yang berubah di negeri ini. Apa yang pernah terjadi di masa lalu, sering kali berulang masa kini.

Bagaimana menurut sampean, Ki Sanak? Masih adakah sekarang suara kritis yang terdengar? Adakah kepercayaan kepada birokrasi bertambah kuat? Ataukah justru “alienasi birokratis” kian meluas, dan orang pun sudah kasih tabik selamat jalan kepada harapan perbaikan?

Ah, jangan-jangan sampean malah tertarik bikin sayembara yang sama dengan yang pernah dilakukan Selecta ya …

Iklan

§ 10 Responses to Pilkada Pecas Ndahe

  • tukang ketik berkata:

    nomor satu polisi, tiga kali dah ketilang => dendam.

    nomor dua wakil biang kerok Jakarta sekarang, bikin projek bus way cuma buat cari kekayaan pribadi => benci

    pilih mana yah??

  • Titis Sinatrya berkata:

    Salam Kenal Ndoro yang baik hati, tidak sombong, dan selalu cerdas. Memang yang namanya “kawulo alit” arep mbengok bantere koyo ngopo yo ora ono sing ngrungokne, luwih apik yo golek tentreme ing manahe dhewe dhewe. Sak beja-bejane wong kang lali isih tetep beja wong kang eling lan waspodo….

  • Aris berkata:

    Suara kritis? wah wah kayaknya yang ada justru suara terkikis. Semua cenderung pada cari aman, sama seperti suara guru dan pegawai negeri. Pers sebagai pilar keempat diharapkan kritis? ehm semoga saja ya ndoro, coba dech tanya sama paklik isnogud.

  • Aris berkata:

    maaf ralat dikit: pers sebagai pilar keempat dari demokrasi diharapkan kritis? ehm semoga saja ya ndoro, coba dech tanya sama paklik isnogud.

  • didats berkata:

    para pembesar itu seharusnya tahu kalo mereka sudah bener2 ndak dipercaya sama masyarakat.

    cuma dengan begitu mikirnya bukan atas nama masyarakat. tapi perutnya sendiri.

    semoga wakil yang terpilih lebhi “down to earth”

  • Titis Sinatrya berkata:

    Kapan yo para penggemar “Pecas Ndahe” Iso ngumpul2 Copy Darat, wis wayahe ndoro ….

  • tuginem ginak-ginuk berkata:

    salam kenal ndoro,

    weee…kulo pun kebiasaan golput ki, dos pundi nggih?…hehehe. Yang no 1 : moso gara2 murah senyum, trus saget mbenahi kota nopo?..cengengesan saget. Yang no 2 : wakil e juragan bus way. males ah.

  • kw berkata:

    saya kira masy jakarta sudah tak peduli lagi dengan pemimpinya. cuek abis, gak mau tahu. begitu yang tampak di lingkungan kostku di jkt sel. aku juga, meskipun secara de jure warga dki 🙂

  • apeep berkata:

    salam kenal ndoro,
    kulo sebagai abdi dalem salah satu departemen ter*banjir* di jakarta ternyata mboten gadhah hak pilih niku…
    pripun jal?
    🙂

  • Rudy berkata:

    Sepertinya arah kepemimpinan perlu dan harus tapi usul saya ya ganti generasi donk…. kapok orang yg itu melulu. Chance generation. Chance generation. Chance generation.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Pilkada Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: