Gubernur Pecas Ndahe

Mei 24, 2007 § 17 Komentar

Wimar Witoelar mungkin memang layak masuk Museum Rekor Indonesia sebagai orang yang paling sering dibredel. Setelah acara Wimar’s World distop JakTV tempo hari, Wimar juga tak boleh tampil lagi dalam acara Gubernur Kita di stasiun yang sama mulai tadi malam.

Sampean bisa mengikuti cerita lengkap tentang bredel terakhir itu di blog Perspektif. Dan, sampean akan beroleh pengetahuan kenapa Wimar mesti out dari acara itu: ada seorang calon Gubernur Jakarta yang keberatan atas kehadiran Wimar sebagai panelis acara itu.

Aha, pemilihan kepala daerah DKI Jakarta rupanya semakin hangat. Para calon gubernur mulai menunjukkan taring dan kukunya. Wimar cuma salah satu korban perhelatan politik itu. « Read the rest of this entry »

Lengser Pecas Ndahe

Mei 21, 2007 § 16 Komentar

Seorang raja, pemimpin yang bertahan lama, melepaskan kekuasaannya. Hari ini, sembilan tahun yang lalu. Saya mengikuti perubahan sejarah itu melalui pesawat televisi di tengah sebuah kota kecil yang adem dan tenang di Jawa Tengah.

Saya ingat, hotel tempat saya menginap — bekas penjara di zaman kolonialisme Belanda — waktu itu cuma berisi beberapa tamu, kebanyakan orang asing. Sebagian besar tamu sudah check out beberapa hari sebelumnya atas permintaan kedutaan mereka masing-masing. Sebagian lagi memilih bertahan di hotel karena tak tahu harus ke mana. Transportasi susah dicari. Kalaupun ada bangku kosong, sopirnya tak berani melakukan perjalanan jauh.

TV berlayar lebar itu ada di lobi. Beberapa tamu ikut menonton sambil ngopi atau mengunyah cemilan. Tapi, semuanya diam, agak mencekam. Bartender pun hanya berdiri di balik meja bar sambil mengelap gelas. Matanya menatap TV. Di layar itu, sang pemimpin sepuh berpidato mengumumkan pengunduran dirinya di ruang utama Istana. « Read the rest of this entry »

Pilihan Pecas Ndahe

Mei 20, 2007 § 14 Komentar

a. Belajar atau bermain?
b. Pintar atau cerdas?
c. Manager atau leader?
d. Karyawan atau wirausahawan
e. Proses atau hasil?

Ya, ya, ya … saya tahu hari ini bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional. Tapi, saya ndak akan nulis tentang Boedi Oetomo, Dr Soetomo, dan para eks pelajar Stovia itu. Kenapa? « Read the rest of this entry »

Pelawak Pecas Ndahe

Mei 18, 2007 § 21 Komentar

Mengapa acara lawak di televisi kian tak bermutu? Mengapa lelucon mereka cenderung dangkal? Cermin hati publik yang tak lagi mengeluhkan keadaan?

Paklik Isnogud memberondong saya dengan pertanyaan itu tadi pagi ketika kami masih bersantai. Pabrik sepi. Jalanan di Jakarta juga lengang. Orang-orang tengah menikmati libur panjang di pertengahan Mei ini.

Buat kami yang diperbudak pekerjaan ini, televisi menjadi satu-satunya hiburan yang paling gampang. Mau keluar pabrik kok males. Jadilah kami membincangkan acara-acara TV, yang menurut Paklik Isnogud, “kehilangan daya tarik intelektual”.

“Halah, Paklik. Sampean ini serius amat menilai acara TV kita. Sampean kok jadi keminter,” saya mencoba protes. « Read the rest of this entry »

Keadilan Pecas Ndahe

Mei 12, 2007 § 16 Komentar

Benarkah kerusuhan Mei 1998 dipicu oleh hilangnya rasa keadilan, pendapatan yang timpang? Saya ndak tahu.

Pada hari-hari itu, sembilan tahun yang lalu, saya cuma tahu Jakarta mendadak genting. Udara pengap. Gerah. Api di mana-mana. Rusuh.

Saya ingat asap hitam membubung ke angkasa. Saya melihatnya dari kejauhan. Dan malam menjadi sangat mencekam dalam selimut gelap. Sesekali terdengar senjata menyalak.

Hari-hari ini, saya bisa mengenang kembali drama itu dengan lebih tenang, dalam ruangan yang sejuk, kopi hangat, dan teman yang meneduhkan, Paklik Isnogud. Tak ada keringat, darah, api, dan kecemasan.

Suasana enak, menu syedap, apalagi yang kurang? Aha, dongeng Paklik. Rasanya seperti sayur tanpa garam bila duduk berdua tanpa mendengarkan Paklik ngoceh tentang apa saja. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing the Paklik Isnogud category at Ndoro Kakung.