Otak Pecas Ndahe

Maret 27, 2007 § 19 Komentar

Jika bocah-bocah lelaki dan perempuan tumbuh di sebuah tempat terpencil, tanpa masyarakat yang mengatur atau orangtua yang memimpin mereka, apakah gadis-gadis akan tetap membuat lingkaran teman dan bermain boneka, sedangkan para jejaka akan tetap bersaing satu sama lainnya, berkelahi, dan membentuk kelompok dengan kepemimpinan yang jelas?

Paklik Isnogud mengajukan pertanyaan yang memusingkan itu setelah Minggu kemarin dia bercerita tentang gedebog pisang yang membuat saya ngakak.

Dan, seperti biasa, tanpa menunggu jawaban saya, Paklik berbicara sendiri, menjawab pertanyaan itu. « Read the rest of this entry »

Gedebog Pecas Ndahe

Maret 25, 2007 § 17 Komentar

Pria dan wanita memang beda. Bukan lebih baik atau lebih buruk — hanya berbeda. Lelaki susah menemukan G-spot, perempuan seperti batang pisang.

***

Setiap ada hari libur, Paklik Isnogud mengajak saya melewatkannya dengan cara ala kadarnya. Paklik membaca buku atau mengisap tembakau lintingannya sambil menyesap kopi, saya memancing bersama bedes-bedes.

Pada prakteknya, Paklik menyela kegiatan memancing itu dengan acara tanya-jawab. Tepatnya, dia bertanya, saya dipaksa menjawab.

Ada kalanya pertanyaan Paklik tak ada jawabannya, atau minimal saya tak punya. Pertanyaannya lebih sering hanya menunjukkan kecerdasannya atau kebingungan Paklik sendiri. « Read the rest of this entry »

Mercy Pecas Ndahe

Maret 13, 2007 § 23 Komentar

Apa lagi yang bisa kita katakan selain tragedi, ketika seorang ibu bunuh diri bersama empat anaknya?

Tersebutlah Mercy, bukan merek mobil, melainkan ibu berusia 35 tahun, warga Lowokwaru, Malang, Jawa Timur.

Tak tahan hidup menderita dalam belitan ekonomi pas-pasan, Mercy nekat mengakhiri hidup bersama empat anaknya yang masih kecil, yang tertua umur 11 tahun dan termuda 1,5 tahun.

Kita pun tersentak, kaget. Begitukah sulitnya kehidupan sampai seorang ibu hanya melihat satu jalan, mati bersama empat anaknya? « Read the rest of this entry »

Megaria Pecas Ndahe

Maret 12, 2007 § 19 Komentar

Salah satu bioskop tertua di Jakarta, Megaria (ex-Metropole) dijual. Tawaran penjualan bioskop yang beralamat di Jalan Pegangsaan Timur 21 itu saya baca di situs jual-beli IndoRealEstates.

Perantaranya memasang harga pembukaan Rp 151.099.000.000. Uang muka harus dibayar 50 persen dan pelunasannya dalam tempo 5 bulan. Ada komisi lumayan untuk mereka yang berhasil menjual. Sampean tertarik, Ki Sanak?

Sebagai sebuah bioskop, Megaria sangat monumental. Gedung ini diresmikan pada 1949 oleh Wakil Presiden Mohammad Hatta. « Read the rest of this entry »

Keserakahan Pecas Ndahe

Maret 9, 2007 § 17 Komentar

Tiba-tiba saja Paklik Isnogud memanggil saya datang ke ruangannya pada sebuah siang yang mendung. Bukan sesuatu yang aneh sebetulnya, tapi begitu saya lihat di mejanya ada menu makan siang komplet, ikan bakar, tempe dan tahu goreng, lalap, dan sambal, saya jadi bertanya-tanya.

Paklik ulang tahun? Mau syukuran? Dapet lotere?

“Ada apa, Paklik?” saya bertanya sambil cengengesan. “Tumben ngajak makan siang, nih? Biasane pelit … ”

“Trembelane,” Paklik mengumpat sambil berdiri. “Sini, duduk sini, Mas. Ndak onok opo-opo. Kebetulan tadi saya baru diundang seorang kawan untuk ndobos ndak keruan di pabriknya. Eh, lah kok pulangnya dikasih sangu. Lumayan buat beli makan siang, to?” « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing the Paklik Isnogud category at Ndoro Kakung.