Saddam Pecas Ndahe
Januari 3, 2007 § 17 Komentar
Ada satu peristiwa besar yang nyaris luput dari perhatian saya. Mungkin tak terlalu penting buat sampean, Ki Sanak. Tapi menjadi kabar menghebohkan orang-orang di luar sana: Saddam Husein dihukum gantung.
Sulit rasanya menerima kenyataan bahwa hidup bekas orang nomor satu dan paling berkuasa di Irak itu harus berakhir di tiang gantungan pada pengujung 2006 lalu. Rekaman video eksekusi itu bahkan tersedia di YouTube. Sampai sekarang pun saya masih bertanya-tanya, kok bisa?
Senpi Pecas Ndahe
Desember 20, 2006 § 9 Komentar
Perlukah orang sipil bersenjata api? Tanyakanlah pada pak polisi. Menurut Kepala Polisi RI Jenderal Sutanto, memegang senjata api itu seperti memelihara harimau. Salah-salah bisa menerkam pemiliknya.
Makanya, Pak Jenderal dan pasukannya secara bertahap menarik senjata api dari tangan warga sipil. Lah, terus bagaimana orang ramai membela diri ketika jiwanya terancam? Ya pakai gas air mata saja katanya. « Read the rest of this entry »
Royalti Pecas Ndahe
Desember 19, 2006 § 16 Komentar
Kasus kematian penyanyi Alda Risma membuat saya berdecak kagum. Bukan karena cara meninggalnya, bukan karena narkobanya, bukan karena orang-orang yang terlibat dalam kasus itu, bukan lantaran ibunya maupun utang-piutangnya.
Bukan, bukan itu, Ki Sanak. Saya berdecak kagum karena hanya dengan one hit fortune, ya lagu Aku Tak Biasa itu, Alda bisa punya duit akeh, kaya raya.
Gara-gara lagu itu Alda laku diundang nyanyi di mana-mana dengan bayaran jutaan rupiah. Dia [pernah] punya rumah gedong bertingkat di kawasan perumahan elit di Bogor. Mobilnya sedan keluaran teranyar nan kinclong. « Read the rest of this entry »
Porong Pecas Ndahe
Desember 18, 2006 § 5 Komentar
Bahkan di Porong pun ada meja khusus untuk menghadapi teror. Toh meja itu akhirnya tak kuasa juga menahan serbuan lumpur yang menenggelamkan Porong. Memang ada masanya ketika kantor ini menjadi “tempat yang menakutkan”. Pada masa ketika seorang buruh bernama Marsinah ditemukan meninggal dengan cara yang sangat mengenaskan. Dan ketika Kapten Kusaeri, bekas Komandan Rayon Militer Porong yang diduga terlibat dalam kasus pembunuhan Marsinah, pernah berkantor.
Aceh Pecas Ndahe
Desember 13, 2006 § 6 Komentar
Untuk pertama kalinya rakyat Aceh memilih kepala daerahnya sendiri. Setelah melewati proses pertarungan yang demokratis dan sah, ternyata calon-calon pemimpin dari kalangan bekas anggota Gerakan Aceh Merdeka unggul untuk sementara. Ada yang tenang, ada yang hatinya rusuh.
Yang tenang — tapi mungkin dengan perasaan yang tak menentu juga — mengatakan, “Kita harus menerima hasil itu. Ini demokrasi, Bung!”
Yang penuh curiga dan perasaan waswas berujar, “Wah, jangan-jangan nanti mereka minta merdeka?” « Read the rest of this entry »




