Burma Pecas Ndahe

Oktober 4, 2007 § 20 Komentar

Ketika tentara junta militer Burma menyiramkan peluru dan mengayunkan pentungan ke arah warga dan para biksu yang turun ke jalan, apa yang sesungguhnya terjadi di negeri Pagoda itu?

Kelaliman atau justru sebuah perlawanan?

“Itu keberanian yang menular, Mas,” kata Paklik Isnogud. “Suu Kyilah yang menularkannya.”

Maksud Paklik? « Read the rest of this entry »

Makian Pecas Ndahe

September 26, 2007 § 74 Komentar

Kangen Band yang ngetop dengan lagu Selingkuh itu rupanya menuai kontroversi. Selain lagunya digemari dan laris terjual sekitar 500 ribu kopi, Kangen Band tak luput dicaci-maki. Sebuah kelompok rap bahkan telah mengedarkan lagu dengan lirik sepedas cabe rawit.

Saya tahu kabar itu dari Anto dan kemudian menemukan berita di KCM tentang beredarnya lagu berisi sumpah serapah itu. Saya jadi heran, kenapa sampai begini? « Read the rest of this entry »

Kenikmatan Pecas Ndahe

September 25, 2007 § 15 Komentar

Setiap kali berpuasa, godaan itu terlihat semakin menawan. Es kelapa muda. Es blewah. Es jeruk. Es cendol. Baso urat. Soto ceker. Sate & sop kambing Casmadi. Halah.

Sampean mungkin bisa menyebutkan lebih banyak lagi daftar makanan dan minuman yang paling mengundang selera di bulan puasa ini.

Tapi, bayangkan ketika malam hari. Apa sampean ya masih pengen menjejali perut dengan aneka makanan itu? Apa sampean masih kebelet menenggak soda dingin dan teman-temannya itu? Rasanya kok tidak, kecuali sampean memang punya perut berisi tujuh kere lapar.

Begitu tanda waktu buka puasa tiba, seseruput teh manis dan secuil kurma manis rasanya sudah melebih segalanya. Kita seolah mendapatkan kenikmatan yang tiada banding.

Dari mana sebetulnya kenikmatan itu datang, Ki Sanak? « Read the rest of this entry »

Ngembat Pecas Ndahe

September 24, 2007 § 22 Komentar

Setiap kali menjelang buka puasa, saya biasa ngabuburit bersama beberapa buruh di pabrik. Kelompoknya sih gonta-ganti, tergantung siapa yang kebetulan lagi sempat.

Nah, beberapa sore yang lalu, saya kebetulan ngabuburit dengan dua kawan baik saya. Kami memilih sebuah di kedai di dalam sebuah mal, di jantung ibu kota.

Kebetulan kami kebagian meja di sebelah meja tempat empat perempuan muda, kaum urbanis, tengah reriungan. Sepertinya mereka juga mau menunggu bedug adzan Maghrib karena mejanya masih bersih, belum ada minuman dan makanan.

Empat perempuan itu rata-rata berkulit putih, bersih, wangi. Dandanannya tres chic semua. Dan, ini yang penting, sore itu, beberapa menit sebelum bedug tanda buka puasa terdengar, mereka lepas blazer dan menggantungkannya di sandaran kursi.

Olala … Terlihatlah blus-blus sleevless yang memamerkan lengan-lengan pemiliknya yang mulus bin halus. Wadoh, moga-moga puasa kami sore itu ndak hanya mendapatkan lapar dan dahaga belaka deh … « Read the rest of this entry »

Rain Pecas Ndahe

September 21, 2007 § 26 Komentar

Matahari. Tinggi. Terik. Kering. Lembab. Jalanan terbakar panas yang menyilaukan mata. Tenggorokan bak padang pasir tandus merindukan oase. Fatamorgana di cakrawala. Ah, kalau sudah begini, saya jadi teringat lagu milik Enya, A Day Without Rain« Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing the Pitutur category at Ndoro Kakung.