Pijet Pecas Ndahe

September 18, 2007 § 30 Komentar

Saya punya teman laki-laki, sudah agak berumur, kira-kira 50+ tahun. Dia bekerja di pabrik kata-kata terbesar di republik ini. Dia dikenal sebagai penulis masalah sains dan penikmat musik klasik. Pertengahan Juli yang lalu, dia menikah [lagi].

Ah, biasa itu.

Memang. Tapi, begini, Ki Sanak.

Istrinya yang dulu itu seorang ilmuwan kondang, cuantik. Sampean mungkin kenal atau minimal pernah dengar namanya karena perempuan seperti dia itu jarang di sini.

Nah, istrinya yang sekarang [yang kedua] jauh lebih muda, yah 30+ tahun gitulah. Dia bukan orang terkenal tapi bodinya semloheh. Seksi gitu, deh. Profesinya itu ngurusin mas-mas [humas]. Tempat kerjanya juga di pabrik kata-kata.

Apa salahnya?

Ndak ada yang salah memang. Cuma, teman saya, perempuan, petinggi di pabrik wadah kondo jarak jauh, tiba-tiba menelepon saya untuk membicarakan pernikahan mereka. Halah. « Read the rest of this entry »

Tarawih Pecas Ndahe

September 12, 2007 § 32 Komentar

Maksud hati berangkat salat tarawih di masjid, apa daya senyum Paklik Isnogud membuat langkah saya terhenti di gerbang pabrik.

Buru-buru saya mendekati Paklik dan bertanya, “Kenapa sampean malah mesam-mesem? Ngece? Ngeledek ya?”

Masih dengan senyumnya yang bikin hati saya mangkel, Paklik menjawab, “Ora Mas, ora. Saya ndak meledek sampean. Saya cuma heran, kok sampean tumben malam-malam sudah pakai sarung dan bawa sajadah segala. Mau ke masjid?”

“Lah iya pasti ke masjid, Paklik. Mosok mau ke bengkel.”

Paklik ngakak. “Wah, nesu ki … nesu … “

“Ndak nesu kok, Paklik. Tapi, jengkel.” « Read the rest of this entry »

Seksi Pecas Ndahe

September 8, 2007 § 28 Komentar

Jumat malam tadi, saya sendirian di pabrik [beginilah nasib satpam, hiks!]. Layar televisi di depan saya jaga sedang menayangkan acara dari sebuah stasiun, malam penghargaan entah apa namanya. Kalau ndak salah sih, acara MTV Movie Award di Global TV.

Tiba-tiba tiga remaja perempuan muncul di layar, lalu berbicara di depan mikrofon. Saya ndak tahu mereka itu siapa, apalagi namanya. Mungkin mereka itu penyanyi, bintang film, atau bintang sinetron. Ketoke sih, seleb gitulah.

“Menurut lo, cowok seksi itu yang kayak gimana, sih?” salah satu dari tiga perempuan itu membuka percakapan dengan bertanya pada dua temannya.

Halah, apa coba hubungan antara cowok seksi dan acara penghargaan itu? « Read the rest of this entry »

Pengkhianat Pecas Ndahe

September 7, 2007 § 26 Komentar

Setiap perjuangan selalu melahirkan sejumlah pengkhianat dan para penjilat. Jangan kau gusar, Hadi. — Taufik Ismail (1966)

Saya ingat, Paklik Isnogud membacakan sajak itu ketika hari-hari itu para penjilat, para pengkhianat, berseliweran di luar. Mereka bukan lagi menjadi bagian dari kami. Mereka sudah di luar pagar. Tapi, gonggongannya masih kerap membuat bising telinga kami yang memang belum tuli.

Hari-hari ini, saya ingat lagi sajak itu. Ketika para pengkhianat kembali mencabik-cabik kepercayaan. Ketika para penjilat makin berani menadah ludah orang lain.

Ah, untunglah, kami selalu ingat pesan Taufik Ismail. Jangan kau gusar, Hadi …

:: untuk M dan teman-teman ::
[7 September 2004]

PS: Menurut sampean, para penjilat dan pengkhianat itu sebaiknya diapain, Ki Sanak?

Inspirasi Pecas Ndahe

September 5, 2007 § 12 Komentar

Sebuah posting adalah inspirasi bagi orang lain. Saya mendapatinya pada sebuah blog yang baru saya temukan. Langit biru namanya.

Terus terang saya ndak kenal siapa pemilik blog itu. Pun saya ndak tahu dia itu laki-laki atau perempuan.

Tapi, begitu saya membaca tiga tulisan yang ada di blog itu, saya jadi bungah dan merasa terhormat karena salah satu posting saya ternyata telah memberinya inspirasi untuk membuat posting lanjutan.

“Halah. Tapi, jan-jane sampean yo bangga to, Mas?” tanya Paklik Isnogud, sedikit menyindir.

Saya nyengir. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing the Pitutur category at Ndoro Kakung.