Lajang Pecas Ndahe

Juni 13, 2007 § 24 Komentar

Lelaki yang baik jidatnya udah ada tempelannya, sold out. Yang tersedia tinggal remah-remah, yang ndak mutu, ndesit, katro.

Ups. Itu bukan kata saya, loh. Itu kata seorang teman perempuan saya. Lajang. Umurnya baru thirty something. Smart and charming.

Kami berjumpa di sebuah kedai kopi di jantung Ibu Kota pada sebuah malam. Setelah ngobrol ngalor-ngidul, wetan-kulon, topik pembicaraan kami sampai ke tema-tema kosmopolitan. Salah satunya ya itu tadi, soal relasi Mars dan Venus. « Read the rest of this entry »

Pelukan Pecas Ndahe

Juni 12, 2007 § 21 Komentar

Mengapa orang suka berpelukan? Apa sih efek pelukan bagi pelakunya?

Dua orang yang sedang dimabuk asmara mungkin akan mengatakan pelukan itu tanda cinta. Dua orang yang sedang berseteru barangkali menganggap pelukan itu simbol perdamaian — seperti pak presiden dan pak profesor itu. Bagi para orangtua, pelukan pada anaknya bisa jadi bentuk curahan kasih sayang. Sampean mungkin akan memberi tafsir yang berbeda lagi tentang pelukan.

“Memangnya sampean ndak pernah dipeluk apa, Mas? Kok pakai nanya sih?” kata teman saya.

Tentu saja saya ndak perlu menjawab pertanyaan retorik itu. Karena, apa pun pendapat dan tafsir itu, pelukan dipercaya memberi efek hebat kepada pelakunya — baik yang memeluk atau dipeluk. « Read the rest of this entry »

Lanang Pecas Ndahe

Mei 31, 2007 § 18 Komentar

Wong lanang itu sosok yang tangguh, punya jiwa petualang. Lelaki sejati itu harus bebas, lepas, seperti sajak Chairil Anwar.

“Mari kita lepas, kita lepas jiwa mencari jadi merpati.”

Laki-laki juga harus bisa mengajak terbang. The only possible nonstop flight, terbang mengenali gurun, sonder ketemu, sonder mendarat …

Yang penting bukanlah suatu arah, melainkan keberanian menjelajah. Yang penting bukanlah satu konklusi, melainkan eksplorasi.

Tak penting merpati itu mungkin capek kemudian dan jatuh. Sebab, kita tahu, ada yang tetap tidak diucapkan/sebelum pada akhirnya kita menyerah.

Takut boleh. Takluk jangan.

Jadi laki-laki harus berani …

[Catatan harian Paklik Isnogud, tanggal 31 Mei 1970]

Waks! Berarti saya masih bayi waktu Paklik menulis jurnal itu … 😀 … Selamat menikmati libur panjang, Ki Sanak. Semoga kita bisa bertemu di sebuah tikungan perjalanan.

Lelaki Pecas Ndahe

Mei 29, 2007 § 16 Komentar

Tadi malam TransTV memutar ulang sebuah film lawas yang dibintangi si ganteng Mel Gibson dan si seksi-cerdas Helen Hunt. Judulnya What Women Want.

Buat sampean yang belum nonton, mohon maaf saya ndak bisa membocorkan isi film yang disutradarai Nancy Meyers pada 2000 itu. Saya cuma bisa memberikan semacam ringkasan plot film itu, yakni tentang seorang lelaki yang tiba-tiba mendapat kemampuan membaca apa yang dipikirkan perempuan. Finally… a man is listening.

Aha, ternyata selama ini lelaki dianggap makhluk yang mendengar tapi tak pernah menyimak. Sampean tahu beda dan sebabnya? « Read the rest of this entry »

Typo Pecas Ndahe

Mei 21, 2007 § 8 Komentar

Mengapa akurasi penting dalam jurnalistik, bahkan typo atau salah ketik pun tak boleh ditoleransi?

Daus pasti lebih bisa menjelaskan alasannya ketimbang saya. Dia pandai dalam urusan jurnalisme dan teknik menulis. Kepadanyalah saya sering berguru.

Saya lebih suka menjelaskan ke sampean dalam bahasa yang lebih umum, lebih gamblang, melalui contoh.

Dua kata di bawah ini bisa menjadi contoh mengapa jurnalisme menjunjung tinggi akurasi. Karena, jangankan typo, bahkan ndak salah ketik pun bisa beda artinya.

Cream pie atau creampie?
Facial atau facial?

Itulah alasan mengapa akurasi itu penting, Ki Sanak? 😀

Sampean punya contoh lain yang sama?

Where Am I?

You are currently browsing the Psikologia category at Ndoro Kakung.