Pelukan Pecas Ndahe

Juni 12, 2007 § 21 Komentar

Mengapa orang suka berpelukan? Apa sih efek pelukan bagi pelakunya?

Dua orang yang sedang dimabuk asmara mungkin akan mengatakan pelukan itu tanda cinta. Dua orang yang sedang berseteru barangkali menganggap pelukan itu simbol perdamaian — seperti pak presiden dan pak profesor itu. Bagi para orangtua, pelukan pada anaknya bisa jadi bentuk curahan kasih sayang. Sampean mungkin akan memberi tafsir yang berbeda lagi tentang pelukan.

“Memangnya sampean ndak pernah dipeluk apa, Mas? Kok pakai nanya sih?” kata teman saya.

Tentu saja saya ndak perlu menjawab pertanyaan retorik itu. Karena, apa pun pendapat dan tafsir itu, pelukan dipercaya memberi efek hebat kepada pelakunya — baik yang memeluk atau dipeluk.

Eh, bener itu … Kalau tidak, ngapain pasangan-pasangan itu suka berpelukan? Ngapain adegan-adegan roman di film selalu menampilkan orang berpelukan? Ngapain sampean suka memeluk pasangan, anak, sahabat, atau kerabat sampean?

Pelukan dipercaya memberi efek menenangkan, menenteramkan, mmm … seperti kemarau panjang yang disiram hujan. Halah!

Jarang terjadi orang yang berpelukan malah jadi ribut atau berantem — kecuali yang memeluk memang bukan orang yang diharapkan atau dikenal. Misalnya tiba-tiba sampean memeluk seorang polisi yang tengah dinas di tengah perempatan. Mungkin sampean bakal dipentung. Biasanya, yang terjadi justru orang berpelukan setelah cekcok, bertikai, atau berseteru. Bukan sebaliknya.

Tak selamanya aktivitas berpelukan dilandasi oleh erotisme. Dua orang sahabat yang telah berpisah sekian lama bisa spontan saling memeluk dalam sebuah acara reuni. Tak perlu ada love or lust di sana. Sampean hanya butuh spontanitas dan keakraban.

“Tapi kalau teman lama itu tiba-tiba kelihatan tambah cakep, ndak apa-apa juga kan kalau ada sedikit lust, Mas?” goda kawan saya.

Tentu saja. Bagaimanapun kita manusia biasa, yang tak pernah luput dari gairah. Asal jangan kebablasan. Kecuali sampean mau dituduh mencuri kesempatan.

“Aha, jadi saya boleh meluk sampean dong, Mas.”

Ndasmu, le!

Dalam keadaan tertentu sesama kawan akrab, sesama jenis, memang tak diharamkan berpelukan. Sampean yang laki-laki, misalnya, boleh-boleh saja memeluk kawan akrab yang sejenis. Pelukan jenis ini dipercaya sebagai simbol keakraban dan dapat meningkatkan rasa pertemanan. Asal jangan sering-sering supaya sampean ndak dituduh menyukai teman sejenis.

“Nah, kalau meluk kawan lawan jenis gimana dong, Mas?”

Yah boleh saja, asal teman sampean itu ndak keberatan. Kalau dia sudah punya pasangan, jangan sampai pasangannya tersinggung gara-gara sampean ringan tangan — maksudnya gampang melingkarkan tangan sampean ke pundak siapa saja.

“Oh gitu ya, Mas. Tapi, by the way, kenapa sih sampean tiba-tiba ngomong soal pelukan, Mas? Sampean baru saja berpelukan ya, Mas?”

Hush, hush, hush … Sst, sst, sst, … 😛

Ki Sanak, kapan terakhir sampean berpelukan?

Iklan

§ 21 Responses to Pelukan Pecas Ndahe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Pelukan Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: