Penumpang Pecas Ndahe
November 10, 2007 § 51 Komentar
Dalam setiap isu ada yang namanya “penumpang gelap” atau dalam bahasa Kali Angkrik disebut “free rider”.
Maksudnya?
Begini. Katakanlah ada sebuah blog [baru maupun lama] yang demi tujuan tertentu bikin posting sensasional, misalnya tentang pornografi dan leukemia; melakukan copy and paste; membuat blog bohong-bohongan yang menyebarkan kisah memelas, dan sebagainya.
Ternyata jurus ini ampuh untuk menarik perhatian pengunjung, melonjakkan traffic, dan meningkatkan statistik — ngetop gitulah. Dalam sekejap, taktik itu membuat seorang blogger menjadi seleb. Haiyah!
Lalu blogger lain menanggapi, ada yang suka dan tidak. Terjadi ribut-ribut, kontroversi. Ada yang bikin posting tanggapan terhadap blog sensasional itu, bikin semacam aksi “ancaman” mau menutup blog, dan sebagainya. « Read the rest of this entry »
Citra Pecas Ndahe
November 9, 2007 § 38 Komentar
Pernah mengalami seperti ini: sampean mengidolakan seseorang, tapi ternyata orang itu ndak seperti yang sampean bayangkan semula? Citra orang itu sama sekali berbeda dari aslinya.
Bagaimana seandainya pahlawan sampean ternyata cuma seorang begundal gombal?
Eh, eh … Hari Pahlawan itu sekarang atau besok sih?
Bola Pecas Ndahe
November 7, 2007 § 37 Komentar
Bukan maksud saya mau melecehkan perempuan, Ki Sanak. Tapi, saya cuma mau meneruskan obrolan dua penyiar iRadio, Poetri Soehendro dan M. Rafiq.
Menurut mereka, perempuan itu bisa diibaratkan olahraga/permainan bola. Maksudnya?
>> Perempuan berumur 20 tahunan itu seperti sepak bola. Bolanya satu, yang berebut 22 orang.
>> Perempuan usia 30-an seperti olahraga basket. Bola satu buat rebutan sepuluh orang.
>> Perempuan yang sudah 40-an tahun seperti pingpong. Yang main cuma dua orang, bolak-balik mukul satu bola yang sama.
>> Nah, kalau perempuan 50-an tahun itu katanya mirip olahraga golf. Mainnya sendirian. Kalau ketemu bola langsung dipukul jauh-jauh. Halah!
Apa benar begitu, Ki Sanak?
Ekspresi Pecas Ndahe
November 7, 2007 § 39 Komentar
Tahukah sampean, mengapa ketika sedang kecewa, marah, atau bersedih hati orang lebih suka menulis untuk melampiaskannya?
“… Menulis tentang peristiwa di suatu senja, tentang tangis, dan akhirnya airmata. Tentang sebuah perjalanan, pertemuan, dan perpisahan.” [© Buana Dara]
Benarkah ekspresi kesedihan itu lebih tepat dituangkan dalam bentuk tulisan?
Sebaliknya, saat tertawa, gembira, suka-suka, kenapa orang lebih memilih mengabadikannya lewat foto? Barangkali itu sebabnya pula kita selalu berpose sambil berteriak, ” Cheers …” [© fahmi!]
Benarkah ekspresi keriaan lebih tepat diabadikan dalam bentuk foto?
Bagaimana kalau ekspresi itu sekali-sekali kita balik?
[A tribute to Sarah yang telah bersedia berbagi perasaan dengan jujur dan sederhana. Aku terinspirasi olehmu.]
