Sopir Pecas Ndahe

Juni 29, 2007 § 21 Komentar

Tak di semua tempat di Indonesia terjadi korupsi, kebejatan, dan kelalaian. Ada saja di sana-sini sekerat kebijaksanaan.

Syahdan seorang sopir bus menuturkan kisah tentang kebijaksanaan itu.

Pada suatu malam sopir bus antarkota itu membawa kendaraannya menyeberangi sebuah sungai. Jembatan rusak dan semua kendaraan harus mempergunakan jembatan darurat.

Sebenarnya lumrah saja. Tapi beberapa detik di malam yang hujan dan senyap itu sang sopir ragu kuatkah jembatan ini? « Read the rest of this entry »

Soeharto Pecas Ndahe

Juni 8, 2007 § 15 Komentar

Panjang umurnya, panjang perkaranya …


[ilustrasinya minjem di blog sebelah]

Ayo, siapa yang hari ini mau kirim kado ke rumahnya di Jalan Cendana, Jakarta?

Libur Pecas Ndahe

Juni 7, 2007 § 22 Komentar

Liburan sebentar lagi. Ada sekolah yang mulai libur pertengahan Juni, ada yang akhir bulan ini. Kepala saya mulai mumet mencari kegiatan dan tempat paling asyik. Soale, bedes-bedes saya sudah merengek minta ke sana-sini. Tapi, mosok 3 hari untuk selamanya lagi?

Sampean punya saran, Ki Sanak?

Sebetulnya sih, asyik juga ya main ski. Sayang ndak ada salju di deket-deket sini. Jeng Evy mau ngirim tiket pesawat ndak yo? Salju di Anchorage sudah meleleh belum?

Marinir Pecas Ndahe

Juni 2, 2007 § 41 Komentar

Surat terbuka untuk anggota pasukan marinir, TNI Angkatan Laut, di mana saja berada.

Kepada bapak-bapak anggota pasukan marinir di mana saja,

Saya Choirul Anwar. Umur baru 3 tahun. Saya anak Alas Tlogo, Pasuruan, Jawa Timur. Kampung saya di dekat tempat bapak-bapak biasa latihan perang-perangan. Sekarang saya sedang terbaring di ranjang rumah sakit karena kata dokter saya tertembak. Dada saya sakit sekali. Kata dokter, ada peluru di dalamnya. Dokter belum bisa mengeluarkan peluru itu karena kondisi saya masih lemah.

Saya tak tahu bagaimana saya bisa terkena peluru itu. Saya hanya ingat, saya sedang digendong ibu ketika di kampung saya terdengar suara ribut-ribut dan dar-der-dor. Ibu lalu lari sambil menggendong saya. Tiba-tiba ibu jatuh dan dada saya perih. Setelah itu, saya tak sadar. « Read the rest of this entry »

Wadehel Pecas Ndahe

Mei 29, 2007 § 22 Komentar

Tersebutlah sebuah taman. Di dalamnya tumbuh seribu kembang. Ada yang cantik dan menarik kumbang datang. Ada juga yang bahkan kupu-kupu pun enggan menghampiri.

Tak semua kembang di taman bermekaran. Sebagian bahkan mati sebelum kuncup. Ada kembang yang lekas mekar secepat ia layu. Ada yang butuh waktu lama untuk mekar tapi bertahan hingga detik ini.

Seribu kembang terus bermekaran setiap hari. Mati satu tumbuh seribu. Karena hidup jalan terus, dengan atau tanpa kembang. Semoga yang pergi sempat memberi arti …

*) A tribute to Teguh aka Wadehel, a blogger turns a legend.

Where Am I?

You are currently browsing the Woro-woro category at Ndoro Kakung.