Palestina Pecas Ndahe
Januari 3, 2009 § 78 Komentar
Kita melihat horor itu di televisi, juga di YouTube. Jet-jet tempur Israel membombardir Jalur Gaza. Rudal-rudal menggempur wilayah Palestina. Rumah-rumah yang remuk dan sedikitnya 400 ratus warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, dijemput maut.
Paklik Isnogud berulang kali menonton adegan maut itu di layar monitor dengan paras yang muram. Saya lihat ada kristal bening di matanya yang teduh. Dari jauh saya cuma bisa memandangnya dalam bisu. Saya tak berani mendekat dan mengajaknya bicara, sampai kemudian Paklik melihat dan melambaikan tangan, meminta saya mendekat.
“Menyedihkan ya, Mas,” kata Paklik begitu saya duduk di sebelahnya. Saya cuma mengangguk pelan. « Read the rest of this entry »
Linux Pecas Ndahe
Desember 16, 2008 § 41 Komentar
Linus Torvalds, si pencipta Linux, buka bisnis penerbangan di Jakarta? Apakah sistem reservasi tiketnya juga memakai Linux?

Agen penjualan tiket Linus Airways di Jalan Panjang, Jakarta.
Tentu saja tidak. Meski namanya mirip, Lintas Nusantara (Linus) Airways milik orang Indonesia asli. Baru tadi pagi saya memperhatikan sebuah ruko yang melayani pemesanan tiket Linus Airways, walaupun nyaris setiap hari melintas di Jalan Panjang, Jakarta Barat. Basbang ya? Hehehe … « Read the rest of this entry »
Mumbai Pecas Ndahe
November 30, 2008 § 37 Komentar
Peluru tak bermata karena itu dia tak bisa membedakan antara kawan atau lawan. Begitu juga tak setiap bom bisa membedakan anak yang menangis atau bapak yang tengah mencari sesuap nasi. Tak setiap bom membinasakan batas antara yang bersalah dan tak bersalah.
Tapi zaman berubah. Pernah ada masanya, dulu, ketika seorang panglima bahkan melarang para prajuritnya merusakkan pohon-pohon. Yang sipil, tak berdaya, dibiarkan, walaupun mereka di pihak lawan. Yang tak mengangkat senjata dilindungi.
Dan ternyata zaman berubah dengan cepat, dengan ganas, sedih — seperti di Mumbai, Rabu malam lalu. Bagaikan kawanan serigala kelaparan, segerombolan orang bersenjata merangsek sejumlah tempat di jantung bisnis India itu.
Gerombolan itu menyiramkan peluru dan melempar granat. Dalam sekejap jasad-jasad pun bergelimpangan berlumuran darah di lantai restoran, di selasar hotel, di emperan peron stasiun.
Atas nama siapakah mereka berlaku kejam? Agama? Negara? Keyakinan? Teror atau senang-senang belaka? « Read the rest of this entry »
Sengketa Pecas Ndahe
November 18, 2008 § 58 Komentar
Inilah judul-judul berita yang menyeramkan hari ini dari beberapa situs berita daring. Tentu saja judul-judul itu sesuai selera dan sudut pandang pembuatnya.
Nah, judul yang ini lumayan adem.
Dan, setelah membaca berita-berita itu, saya merasa seperti mengalami deja vu. Been there, done that.
Semoga kasus ini tak perlu menjadi sengkarut berkepanjangan karena seperti yang dikatakan oleh anggota Dewan Pers Abdullah Alamudin, “Mahkamah Agung pernah mengeluarkan keputusan dalam kasus Tempo dengan Tomy Winata. Waktu itu, Ketua MA mengatakan, kalau ada perselisihan antara media dan masyarakat, hendaknya didahulukan UU Pers.”
Akankah sejarah berulang? Entah. Kalau Dewi Lestari sih, bilangnya, “Malaikat juga tahu, siapa yang jadi juaranya …” 😀




