Pesantren Pecas Ndahe

Agustus 11, 2009 § 77 Komentar

Man jadda wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh akan sukses.

negeri-5-menaraSeperti apakah sosok lulusan pesantren? Apakah mereka dikenal sebagai sosok yang lembut? Alim? Keras? Radikal?

Konon ada empat tipe alumni pesantren. Yaitu, yang semangat wiraswastanya menonjol, punya semangat berdakwah yang lumayan, tapi tipis semangatnya untuk jadi pegawai (25%). Tipe ini banyak dihasilkan oleh pesantren Tebuireng.

Lalu, tipe para alumni yang bersemangat dakwah tinggi, minat untuk jadi pegawai lumayan, dan tipis niatnya menjadi wiraswasta tercatat lebih dari 31%. Sebagian besar mereka ini berasal dari pesantren-pesantren di Jawa Barat.

Ada pula tipe yang semangat dakwahnya tinggi, dan semangat menjadi wiraswasta sama besar dengan minat jadi pegawai (8%). Mereka kebanyakan keluaran pesantren di Jawa Tengah, antara lain Krapyak, Lasem Kebarongan.

Terakhir adalah tipe alumni yang semangat jadi pegawainya tinggi, punya minat lumayan untuk berdakwah, tapi tipis semangat wiraswastanya (31,8%). Mereka ini kebanyakan datang dari Pondok Gontor di Ponorogo, Jawa Timur.

Empat tipe itu tak datang dari langit melainkan hasil penelitian Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) lebih dari sepuluh tahun yang lalu. « Read the rest of this entry »

Kemangi Pecas Ndahe

September 12, 2008 § 70 Komentar

Perempuan itu wangi daun-daun kemangi. Khas. Kuat, tapi lembut. Aku bertemu dengannya pada sebuah siang yang redup di tepi kebun tebu.

Langkahnya ringan, melayang, nyaris tanpa suara, seperti kijang di rimbun pepohonan hutan. Geraknya menawan, mirip penari-penari bedoyo kasultanan.

Matahari tunduk di bawah hitam rambutnya. Rembulan lesi disiram bening matanya. Perempuan itu wangi daun-daun kemangi.

Kami berserobok jalan di sela tebu-tebu yang tinggi menguning. Kupu-kupu berlarian, burung berkicauan, dan ranting-ranting bertautan ketika dia mendesah pelan, “Maaf, numpang lewat.”

“Silakan. Puan, hendak ke mana?” tanyaku sopan.

“Ke titik nol,” jawabnya singkat.

Aku terpana memandang parasnya yang putih dan sedingin puncak Himalaya. Apakah api itu sudah pergi? Ke manakah gerangan hasrat dan gelora?

Perempuan itu tak menoleh. Langkahnya lurus menuju belukar. Kian lama, kian samar. Hanya wangi daun-daun kemangi yang masih tertinggal di ujung hidung. Meremas angan, mengeremus kenangan. Kuat, tapi lembut, mesra.

>> Selamat hari Jumat, Ki Sanak. Apakah hari ini sampean mau mengudap lalapan daun kemangi untuk buka puasa nanti?

Berahi Pecas Ndahe

September 11, 2008 § 69 Komentar

Apa lagi yang bisa kau harap dari seorang perempuan bukit air mata selain hampa dan luka menganga?

***

Jakarta seperti seekor kucing di ujung berahi. Berisik. Hiruk-pikuk. Menjengkelkan. Semburan asap knalpot hitam kendaraan umum menyembur persis napas yang hendak memuncak orgasme.

Jalanan bergemuruh bak irama jantung yang berdetak terus memompa darah ke seluruh aorta dan pembuluh arteri. Kerlap-kerlip lampu neon advertensi pertokoan berkeredep laksana mata yang berbinar di tengah telaga kepuasan.

Lelaki itu, yang matang di pertengahan 30 tahun, duduk resah di dalam kabin sedan Jaguar S-Type perak metalik yang adem. Matanya yang tertutup kacamata sport berbingkai titanium hitam TAG Heuer itu sebentar-sebentar melirik arloji Breitling Chronomat di tangan kirinya.

Senja hampir rubuh di barat. Orang-orang kantoran melesat ke jalanan menuju pulang. Bedug Maghrib sebentar lagi ditabuh.

Dalam jemu, lelaki itu memutar lagu dari iPod Nano yang tergolek di bangku samping. Sesaat kemudian terdengar sebuah nomor yang nglangut dari Maroon 5, She Will Be Loved. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with fiksi at Ndoro Kakung.