Pesantren Pecas Ndahe

Agustus 11, 2009 § 77 Komentar

Man jadda wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh akan sukses.

negeri-5-menaraSeperti apakah sosok lulusan pesantren? Apakah mereka dikenal sebagai sosok yang lembut? Alim? Keras? Radikal?

Konon ada empat tipe alumni pesantren. Yaitu, yang semangat wiraswastanya menonjol, punya semangat berdakwah yang lumayan, tapi tipis semangatnya untuk jadi pegawai (25%). Tipe ini banyak dihasilkan oleh pesantren Tebuireng.

Lalu, tipe para alumni yang bersemangat dakwah tinggi, minat untuk jadi pegawai lumayan, dan tipis niatnya menjadi wiraswasta tercatat lebih dari 31%. Sebagian besar mereka ini berasal dari pesantren-pesantren di Jawa Barat.

Ada pula tipe yang semangat dakwahnya tinggi, dan semangat menjadi wiraswasta sama besar dengan minat jadi pegawai (8%). Mereka kebanyakan keluaran pesantren di Jawa Tengah, antara lain Krapyak, Lasem Kebarongan.

Terakhir adalah tipe alumni yang semangat jadi pegawainya tinggi, punya minat lumayan untuk berdakwah, tapi tipis semangat wiraswastanya (31,8%). Mereka ini kebanyakan datang dari Pondok Gontor di Ponorogo, Jawa Timur.

Empat tipe itu tak datang dari langit melainkan hasil penelitian Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) lebih dari sepuluh tahun yang lalu.

Ketika pertama kali hasil penelitian itu diumumkan, sebuah diskusi digelar. Ada pro dan kontra. Ada yang menyebut penelitian tersebut kurang valid. Ada pula yang menganggap penelitian itu cukup menggambarkan kenyataan.

Entah mana yang benar, saya tak tahu. Saya hanya sedang teringat tentang pesantren setelah membaca novel Negeri 5 Menara — buku pertama dari rencana trilogi — yang baru saja diterbit.

Mengisahkan pengalaman seorang pemuda yang meninggalkan kampungnya yang udik di Bukittinggi, menuntut ilmu di sebuah pesantren di Jawa Timur, kemudian terbang ke negeri-negeri bersalju yang dingin, novel itu mengikat hati sejak halaman pertamanya dibuka.

Dalam petualangannya itu, pemuda itu bertemu dengan kawan-kawan barunya yang menyenangkan. Persahabatan mereka bertaut kokoh, seperti menara-menara yang berdiri di 5 negeri.

Terinspirasi oleh kisah nyata penulisnya, Negeri 5 Menara seolah-olah sungguh nyata bagi saya. Saya seperti menyelam ke jantung samudera kehidupan ketika membaca novel itu.

Meski menyita berlembar-lembar halaman untuk memaparkan kehidupan di pesantren, novel ini bukan kitab suci tentang pesantren seperti halnya buku Tradisi Pesantren karya Zamakhsyari Dhofier (diterbitkan oleh LP3ES, Jakarta, 1982). Novel ini lebih mirip kisah-kisah petualangan Mark Twain. Cerita tentang perjalanan. Persahabatan. Perjuangan. Inspirasi.

Dituturkan selancar air mengalir di sungai-sungai pegunungan, novel ini ditaburi oleh deskripsi-deskripsi yang menggoda.

“Iseng saja, aku mendekat ke jendela kaca dan menyentuh permukaannya dengan ujung telunjuk kananku. Hawa dingin segera menjalari wajah dan lengan kananku. Dari balik kerai tipis di lantai empat ini, salju tampak turun menggumpal-gumpal seperti kapas yang dituang dari langit. Ketukan-ketukan halus terdengar setiap gumpal salju menyentuh kaca di depanku. Matahari sore menggantung condong ke barat berbentuk piring putih susu.”

Membaca novel ini bagaikan menikmati laporan jurnalistik seorang wartawan kawakan. Begitu detail. Beberapa nama tempat dan fakta yang disebut otentik. Kita seperti dibawa bertamasya secara spiritual, dari Bukittinggi yang permai hingga Washington yang bersalju. Dari Pondok Madani yang ajaib hingga Trafalgar Square yang meremangkan bulu roma.

Jangan heran. Penulis novel itu, Ahmad Fuadi, memang mantan jurnalis. Saya bahkan pernah sama-sama bekerja di lantai yang sama, hanya dipisahkan beberapa meja, dengan Fuadi selama beberapa tahun, sebelum dia kemudian terbang ke Washington untuk meneruskan sekolah.

Salah satu pesan utama novel ini adalah “man jadda wajada”, sebuah pepatah Arab yang berarti, “siapa yang bersungguh-sungguh akan sukses”. Pesan itu disampaikan lewat pelajaran yang diperoleh para tokoh dalam novel. Pelajaran bahwa apa pun mungkin diraih selama didukung usaha dan doa. Jangan pernah remehkan mimpi, setinggi apa pun. Sungguh Tuhan Maha mendengar.

>> Selamat hari Selasa, Ki Sanak. Apakah hari ini sampean bekerja dan belajar dengan bersungguh-sungguh?

Iklan

Tagged: , , , , ,

§ 77 Responses to Pesantren Pecas Ndahe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Pesantren Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: