Padang Pecas Ndahe

Oktober 1, 2009 § 66 Komentar

Lindu barangkali isyarat waktu: hidup itu ibarat hujan, nyaman tapi sebentar (atau sebentar tapi nyaman).

gempa-padangGempa bumi mengguncang kawasan Sumatera Barat kemarin sore. Dengan kekuatan goyang 7,6 pada skala Richter, gempa tektonik itu pun meruntuhkan gedung dan menelan ratusan, mungkin ribuan, korban meninggal dan luka-luka.

Pada setiap bencana kita berharap kehadirannya tak menimbulkan luka. Tapi harapan semacam ini nyaris muskil terkabul. Mara dan bahaya adalah luka dan duka. Seperti siang dan malam. Kemarau dan penghujan. Gelap dan terang. Yin dan yang. Dua sisi satu mata uang.

Benarkah alam sedang murka dan menghukum manusia? « Read the rest of this entry »

Kemarau Pecas Ndahe

September 3, 2009 § 61 Komentar

:: untuk seseorang yang selalu tersenyum

kalungPerempuan wangi pandan rubuh di peraduan dengan perasaan remuk redam. Sembilan purnama sudah lelaki hujan melayap ke negeri atas angin. Tapi tak ada sebaris kabar maupun setangkai puisi yang terkirim.

Malam pun jadi ungu. Dan siang jadi merah. Angin bersekutu dengan hujan. Berubah menjadi badai.

Ditemani sepisau sepi, di tengah gamang yang menikam, perempuan wangi pandan melepas hasrat pada pucuk-pucuk cemara yang menari resah. Diambilnya sebilah buluh dengan surai-surai di ujungnya. Dicelupkannya ke dalam secawan tinta. Lalu dituliskannya bait-bait liris di atas selembar daun yang mengering. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with gempa at Ndoro Kakung.