Ginjal Pecas Ndahe
Juni 26, 2008 § 23 Komentar
Dijual cepat: sebuah ginjal milik seorang pria sehat. Harga Rp 80 juta (boleh ditawar).
Saya mendengar penawaran yang tak lazim itu di acara Pagi-Pagi yang diasuh Poetri Soehendro dan M. Rafiq di iRadio, Jakarta, dalam perjalanan ke pabrik pagi ini. Penjualnya Indra, warga Bekasi.
Dalam hati saya membatin, edan! Kenapa Indra menjual salah satu ginjalnya? Apakah dia tak mencemaskan kesehatan tubuhnya?
Dalam wawancara dengan kedua penyiar itu, Indra mengisahkan kenapa ia mengambil keputusan yang nekat itu. Indra terpaksa menjual salah satu ginjalnya lantaran bisnis jual-beli handphone yang dijalankannya bangkrut. Ia lalu terbelit utang Rp 29 juta. Utang sudah jatuh tempo dan sang debitur mengejar-ngejar Indra, dengan pelbagai ancaman.
Karena tak punya harta berharga yang bisa dipakai untuk menebus utang itulah, apalagi istrinya tengah hamil muda, Indra akhirnya berniat menjual benda yang masih dimilikinya, organ ginjal. « Read the rest of this entry »
Kenangan Pecas Ndahe
Mei 13, 2008 § 34 Komentar
Hari ini, langit Jakarta masih seperti yang dulu, sepuluh tahun lalu. Awan berarak pelan dalam kelabu. Udara lembap.
Tak banyak potongan ingatan tentang hari itu yang masih saya simpan hingga detik ini. Samar-samar, dalam gudang memori yang kian padat ini, berkelebat bayangan-bayangan masa lalu yang semakin lindap.
Ah, betapa pendek ingatan. Betapa kencang waktu beranjak ke depan. Entah sudah berapa ribu fragmen kejadian menghilang, sudah berapa juta momen kepedihan melayang.
Hari ini saya terlontar ke satu dasa warsa yang lalu. Pada sebuah masa ketika Jakarta berkelimun asap dan kebingungan. Dalam lingkungan pabrik yang mencekam, kami bertanya-tanya, apa yang terjadi di luar sana? Siapa yang terbunuh, terpanggang, lari lintang pukang di jalanan? « Read the rest of this entry »