Mala Pecas Ndahe

Oktober 27, 2010 § 54 Komentar

Hari ini mestinya kita merayakan Hari Blogger Nasional dalam suasana yang meriah. Sejak 2007 lalu, ketika Menteri Komunikasi dan Informasi Muhammad Nuh mencanangkan hari penting itu, ranah blogger terus bergemuruh. Layak disyukuri dan dirayakan.

Tapi, apa boleh buat, bencana tengah mengoyak Republik ini. Banjir bandang di Wasior, Papua. Gempa dan tsunami di Kepulauan Mentawi. Gunung Merapi meletus di Yogyakarta. Kurang elok rasanya bila di hari yang penting ini kita mengabaikan penderitaan para korban bencana, terutama di tiga lokasi berbeda itu.

Kita, para blogger, berkesempatan bergandengan tangan dan menggalang bantuan. Bisa dengan menjadi relawan dan terjun langsung ke lokasi. Bisa juga dengan mengirimkan sumbangan berbentuk barang atau uang. Mereka yang hanya memiliki kemampuan menyebarkan kebutuhan para pengungsi pun tak dilarang ikut berpartisipasi.

Pada saat seperti ini kita membutuhkan semangat kebersamaan. Blogger Unite. « Read the rest of this entry »

Iklan

Mei Pecas Ndahe

Mei 14, 2010 § 186 Komentar

Tentang pemerkosaan yang terjadi pada Mei 1998, ada begitu banyak cerita dan tak begitu banyak data. Ini bukan berarti bahwa orang dengan gampang dapat mengatakan bahwa semua laporan tentang brutalitas yang berlangsung dalam kerusuhan Mei lalu terhadap kalangan keturunan Cina, hanya teriakan kosong yang tidak menyenangkan.

Laporan-laporan tim independen, sejumlah LSM, menunjukkan bahwa kekerasan itu memang pernah terjadi. Sejumlah perempuan dipaksa sekelompok orang secara seksual. Dan mereka dijahanami karena mereka berasal dari ras tertentu. Mereka Tionghoa.

Pada September 1998, majalah Tempo menurunkan laporan kesaksian seseorang perempuan yang bertemu dengan korban perkosaan. Berikut ini petikannya, sebagai sebuah pengingat, bahwa Indonesia pernah menorehkan lembaran paling hitam dalam sejarahnya. Ini semacam upaya melawan lupa. Berikut ini kisahnya … « Read the rest of this entry »

Priok Pecas Ndahe

April 14, 2010 § 81 Komentar

Petugas Satuan Polisi Pamong Praja bentrok dengan massa di kawasan Koja, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Bentrok dipicu rencana petugas menertibkan kawasan pemakaman Mbah Priuk.

Jumlah korban luka-luka dan meninggal masih simpang siur. Tapi apa bedanya? Mau satu, dua, tiga atau seratus, yang namanya korban tetap korban.

Ingatan saya melayang pada sebuah esai Goenawan Mohamad tentang “korban” dan “massa”. Korban, tulis GM, adalah mereka yang lari dari desa dan digusur dari perluasan kota.

Perubahan selalu melahirkan korban. Revolusi industri di Inggris, perang saudara di Amerika, revolusi Bolshewik di Rusia, pembangunan kota Paris.

Hari-hari ini kita juga melihat korban jatuh di kawasan pecinan Benteng, Tangerang, dan di Tanjung Priok — atas nama perubahan.

Mengapa yang jadi korban hanya mereka, orang kecil sejak dulu? Bukankah itu pertanda ketidak-adilan dari strategi pembangunan? Tidakkah ada jalan lain, yang jika perlu ada korban maka itu biarlah mereka yang pernah nikmat di atas? « Read the rest of this entry »

Padang Pecas Ndahe

Oktober 1, 2009 § 66 Komentar

Lindu barangkali isyarat waktu: hidup itu ibarat hujan, nyaman tapi sebentar (atau sebentar tapi nyaman).

gempa-padangGempa bumi mengguncang kawasan Sumatera Barat kemarin sore. Dengan kekuatan goyang 7,6 pada skala Richter, gempa tektonik itu pun meruntuhkan gedung dan menelan ratusan, mungkin ribuan, korban meninggal dan luka-luka.

Pada setiap bencana kita berharap kehadirannya tak menimbulkan luka. Tapi harapan semacam ini nyaris muskil terkabul. Mara dan bahaya adalah luka dan duka. Seperti siang dan malam. Kemarau dan penghujan. Gelap dan terang. Yin dan yang. Dua sisi satu mata uang.

Benarkah alam sedang murka dan menghukum manusia? « Read the rest of this entry »

Situ Gintung Pecas Ndahe

Maret 30, 2009 § 60 Komentar

Petaka itu datang ketika warga masih dibuai mimpi. Fajar belum juga merekah pada Jumat, 27 Maret 2009. Tiba-tiba bendungan Situ Gintung di Tangerang, Banten, ambrol. Dan air bah pun menghumbalang, menerjang, semua yang ada di bawahnya.

Hingga kemarin, lebih dari 90 orang ditemukan meninggal, ratusan rumah luluh lantak, dan ribuan warga kehilangan tempat tinggal. Mereka terpaksa mengungsi di beberapa tempat yang dijadikan kamp pengungsian sementara.

Bencana. Korban. Dan — apa lagi kalau bukan — bantuan. Ya, korban bencana jebolnya bendungan Situ Gintung membutuhkan uluran bantuan dari kita semua. Sumbangan bisa berupa uang, makanan, minuman, pakaian, dan obat-obatan.

Pemerintah dan sejumlah relawan memang sudah turun tangan. Partai-partai politik juga mengirimkan bantuan, sekalian kampanye. Tapi, rasanya masih kurang. « Read the rest of this entry »

Psikopat Pecas Ndahe

Juli 29, 2008 § 104 Komentar

Siapakah sebenarnya Very Idam Henyansyah alias Ryan? Seorang psikopat? Gay pencemburu? Atau sekadar begundal kriminal yang haus rupiah?

Saya ndak tahu. Yang jelas, Ryan diduga telah membantai sepuluh orang korban — salah satu rekor pembunuhan terbanyak di Indonesia setelah Ahmad Suraji alias Dukun AS yang menewaskan 42 orang di Sumatera Utara. Korban-korban itu sebagian dikubur di rumah orang tuanya di Jombang, Jawa Timur.

Aksi Ryan membuat publik terhenyak. Mereka tak menyangka ada pemuda berusia 30 tahun dengan sosok yang digambarkan media massa sangat kalem itu ternyata sanggup membunuh. Dia bahkan sampai tega memutilasi salah satu korbannya.

Sebagian kalangan lalu berang dan marah. Mereka mengutuk ulah Ryan. Saya bahkan mendengar tak sedikit komentar yang menuntut agar kelak Ryan dihukum mati atas perbuatannya itu meski persidangan belum dimulai, dan penyidikan polisi justru pun masih berlangsung. Artinya, Ryan belum diputuskan bersalah, Ki Sanak. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with korban at Ndoro Kakung.