Upeti Pecas Ndahe

Mei 27, 2011 § 48 Komentar

Syahdan di Etiopia. Sang Negus mengangkat Germame Neway, lulusan Amerika, menjadi gubernur. Pengangkatan seorang pejabat itu sebenarnya momen yang normal di mana pun, juga di Negeri Habsi itu. Apalagi Sang Negus alias Haile Selassie adalah penguasa yang memutuskan kedudukan bawahannya. Ia sendiri yang menunjuk menteri, gubernur, manajer hotel, bahkan kepala kantor pos. Ia Sang Penentu nasib.

Tak heran bila saat-saat penunjukkan pejabat adalah klimaks dari seluruh harap-harap cemas, juga kasak kusuk, gosip, info-info, dan fitnah-fitnah sesama pembesar. Dan H.S. tampaknya menikmati saat-saat seperti itu dengan senang.

Tapi gubernur yang satu ini aneh, dan menimbulkan risau: ia tak mau menerima suap atau upeti. Semua yang diterimanya disumbangkannya untuk membuat sekolah.

Perbuatan semacam ini, bila diikuti gubernur lain, pasti akan menyebabkan keresahan. Germame pun dicopot, tapi ia membangkang. Dengan menolak upeti, bahkan dengan berpikir lain dari pola yang umum di Etiopia, Germame memang telah melawan.

Orang celaka! Maka, ia pun tewas. Yang aneh ialah bahwa ternyata perlawanannya menyebabkan orang tersadar dari tidur. Tak ayal, bahaya pikiran pun menyebar. Sang Negus bernama Haile Selassie itu akhirnya copot. Ia dimakzulkan dan dikurung di Istana Menelik. « Read the rest of this entry »

Cicak Pecas Ndahe

November 2, 2009 § 75 Komentar

Korupsi tak mati-mati. Kliping media massa membuktikan perang melawan korupsi berlangsung sejak dulu, dan belum usai hingga kini.

menudingINDONESIA, 1970.

Korupsi mulai ramai dibicarakan di media massa. Dalam sebuah pidatonya pada 16 Agustus 1970, Presiden Soeharto berkata, “Tidak perlu diragukan lagi. Saya memimpin langsung pemberantasan korupsi.”

Dua tahun sebelumnya (1968), Pemerintah membentuk Team Pemberantasan Korupsi. Kemudian awal 1970 didirikan pula Komisi IV di bawah Wilopo yang bertugas memberikan pertimbangan kepala pemerintah tentang pembasmian korupsi.

INDONESIA, 1973

Menteri Penertiban Pendayagunaan Aparatur Negara merangkap Wakil Ketua Bappenas, Dr J.B Sumarlin, mengadakan jumpa pers di Gedung Pola, Jakarta. Ia mengatakan, “Korupsi, kebocoran dan pemborosan selalu ada dalam sistim pemerintahan yang belum membaku (established).”

Belum seminggu setelah ucapan “Napoleon” dari Bappenas itu lenyap dari udara, datang tanggapan dari gedung Bina Managemen di Menteng Raya. Dalam percakapannya dengan wartawan, Direktur Lembaga Pendidikan & Pembinaan Managemen Dr A.M. Kadarman menyangsikan berhasilnya cara Sumarlin memberantas korupsi di Indonesia, “selama tidak ada aparat yang diberi wewenang menyelidiki, menindak dan menjatuhkan sanksi terhadap para koruptor”.

Seorang pejabat tinggi yang dekat dengan Menpan mengibaratkan bahwa “Sumarlin hanya akan menyentuh pinggir-pinggir borok korupsi.” « Read the rest of this entry »

Antasari Pecas Ndahe

Mei 3, 2009 § 95 Komentar

Benarkah Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Antasari Azhar terlibat kasus pembunuhan Direktur Utama PT Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen?

antasari mencium kening ida, istrinya

Antasari Azhar mencium kening Ida, istrinya, di depan rumahnya kemarin. Foto: Tempo Interaktif.

Itulah teka-teki paling panas sepanjang akhir pekan lalu. Semuanya berawal dari kabar yang menyebutkan bahwa polisi menangkap para tersangka pembunuh Nasrudin. Lalu, polisi menduga Antasari ikut terlibat dalam kasus itu.

Antasari membantah dugaan itu. Bola kemudian bergulir liar. Ada yang mengatakan ini murni kasus kriminal dan tak ada kaitannya dengan tempat Antasari bekerja. Ada juga yang menyebut bahwa Antasari cuma korban fitnah dan upaya mendiskreditkan lembaga pemberantas korupsi. Aneka spekulasi lain juga beredar.

Buat saya, semuanya masih gelap. Baru Senin ini polisi akan memeriksa Antasari, kabarnya, sebagai saksi. Tapi memang ada gosip lain yang belum jelas kebenarannya. Apa itu? « Read the rest of this entry »

Koruptor Pecas Ndahe

Agustus 8, 2008 § 84 Komentar

Gagasan Komisi Pemberantasan Korupsi yang hendak memberi koruptor seragam sebetulnya lucu juga. Tapi, apakah efektif itu soal lain.

seragam koruptor

Seragam khusus mungkin ndak akan memberi pengaruh apa pun karena urat malu para koruptor di republik ini sudah putus.

Mereka itu nyaris terang-terangan melakukan korupsi. Bahkan tampaknya mereka malah bangga kalau bisa korupsi, lantas petentang-petenteng di layar kaca. Mana mungkin mereka malu?

Jauh lebih penting memberi efek jera dan jerih kepada mereka dan orang-orang yang mau coba-coba korupsi. Caranya, basmi korupsi tanpa pandang bulu. Lalu, hukum berat mereka yang terbukti korupsi. Bila perlu, tambahi dengan denda sebanyak uang korupsinya. Kalau tak punya uang, tambah lagi hukuman penjaranya. Atau ada usul lain?

>> Selamat hari Jumat, Ki Sanak. Apakah hari ini sampean memakai seragam?

Mutilasi Pecas Ndahe

Juli 22, 2008 § 39 Komentar

kpk awasi rapat di dpr

>> Asyik nih, KPK!

Dengan ikut hadir di rapat-rapat DPR, Komisi Pemberantasan Korupsi mungkin bermaksud melihat apakah para wakil rakyat itu terima amplop setelah rapat usai atau tidak.

Maksud KPK itu tentu baik adanya. Tapi, jangan sampai nanti anggota KPK malah ikut terima amplop juga. Itu namanya pecas ndahe.

Kalau para pengawas sampai ikut menikmati duit haram, enaknya diapain ya? Apa perlu mereka dimutilasi juga? Hiii … ngeriii …

>> Selamat hari Selasa, Ki Sanak. Apakah hari ini sampean sudah terima amplop gaji?

Telanjang Pecas Ndahe

Juli 4, 2008 § 50 Komentar

Bulyan Royan mungkin adalah contoh paling telanjang tentang betapa rakusnya wakil rakyat kita yang terhormat. Ia ditangkap Komisi Pemberantas Korupsi di Plaza Senayan yang mentereng itu dengan barang bukti di tangan: uang suap senilai Rp 684 juta.

Tentu saja Bulyan belum tentu bersalah sampai pengadilan memutuskannya kelak. Namun, yang jelas, dia bukan satu-satunya tokoh politik pilihan rakyat yang tersandung kasus uang sogokan. Sebelumnya, beberapa anggota Dewan yang lain juga telah masuk bui gara-gara uang haram, seperti Al Amin Nasution, Hamka Yamdu, dan Antony Zeidra Abidin. Yang lain bisa jadi akan segera menyusul.

Mengapa anggota DPR tak kapok-kapok dan masih saja menerima suap? Kenapa mereka tak jeri pada pemberantasan korupsi? Adakah ini soal keserakahan manusia semata?

Pada malam yang lengas, saya menanyakan soal itu kepada Paklik Isnogud yang tengah melamun di atas lincak, kursi bambu lapuk di rumahnya. Apa jawaban Paklik? « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with kpk at Ndoro Kakung.