Dagelan Pecas Ndahe
Oktober 30, 2008 § 87 Komentar
Apa yang menarik perhatian sampean hari–hari ini? Kabar tentang Pesta Blogger? Hidup yang kian menekuk pinggang? Rupiah yang masih loyo? Naiknya harga barang-barang kebutuhan? Gadis sebelah kos-kosan? Bos yang makin sontoloyo?
Hari-hari ini saya terpukau oleh tiga hal. Apa itu? Yang pertama, saya terkesima pada seorang mantan tentara profesional, pangkat terakhirnya letnan jenderal, yang bertahun-tahun sebelumnya berurusan dengan taktik dan strategi militer, mesin-mesin perang, penguasaan teritorial, tapi tiba-tiba fasih bicara tentang perlunya kita menghargai produk dalam negeri.
Ia berkampanye tentang perlunya kita membeli hasil bumi dari para petani dan pedagang tradisional. Ia bagaikan juru selamat yang menyodorkan sosialisme, perbedaan kelas, dan sinisme terhadap barang-barang non tradisional. « Read the rest of this entry »
Pertemanan Pecas Ndahe
September 2, 2008 § 69 Komentar
Berapa harga sebuah pertemanan? Bertanyalah pada kawan saya — sebut saja namanya — Roger. Dia mengirimkan email ke saya yang isinya tentang kelakuan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan Anwar Nasution.
Ada apakah gerangan dengan Anwar? Kenapa pula Roger sampai harus mengirimkan email ke saya?
Menurut Roger, kawan saya itu, dalam berbagai kesempatan Anwar menyatakan bahwa ia menunda mengirimkan laporan BPK tentang aliran dana dari BI kepada DPR sebesar Rp 31,5 miliar guna memberikan kesempatan kepada BI dan DPR untuk menyelesaikannya.
Anwar sudah mengetahui aliran dana BI tersebut sekurang kurangnya tanggal 18 Agustus 2005, ketika ia memanggil beberapa petinggi BI dan meminta BI mengembalikan uang YPPI. Anwar baru melaporkan kasus yang mengidikasikan tindak pidana korupsi tersebut ke KPK pada 14 November 2006, lebih dari satu tahun kemudian.
Mengapa Anwar menahan penerbitan laporannya? “Itulah harga pertemanan,” kata Anwar, seperti ditulis oleh Roger, kawan saya itu. « Read the rest of this entry »
Caleg Pecas Ndahe
Agustus 13, 2008 § 110 Komentar
Mbakyu Sinden penjual gudeg langganan saya itu terlihat kian sibuk belakangan ini. Tapi, tampaknya bukan karena pembeli gudegnya semakin banyak. Bukan pula lantaran dia mau membuka cabang di tempat lain. Karena penasaran, saya pun bertanya apa yang membuatnya seperti sedang mengejar setoran, meski dia bukan sopir taksi atau bus Trans-Yogya.
“Saya sedang mengurus surat-surat, Mas,” jawab Mbakyu Sinden.
“Surat apa, Yu?” tanya saya.
“Ini lo, surat keterangan macam-macam. Ada surat keterangan dari Pak RT, Pak Lurah, Pak Polisi, banyaklah pokoknya. Saya kan mau jadi caleg.”
“Waduh, caleg? Calon legislator? Yang bener, Yu? Memangnya sampean mampu?” « Read the rest of this entry »
Oposisi Pecas Ndahe
Juli 16, 2008 § 45 Komentar
“Saya mau jadi oposisi. Saya ogah memimpin meski saya bisa memimpin jauh lebih baik,” begitu seseorang berkata kepada saya.
“Kenapa?” saya bertanya. “Cobalah sesekali menjadi pemimpin dan mengubah keadaan. Mungkin lebih baik. Daripada hanya jadi tukang teriak di luar garis, mending sekalian ikut main.”
“Nggak ah. Saya kan masih muda. Memimpin itu ntar kalau dah tuwir nanti, dan bisa bilang, ‘been there, done that’.”
Oh, ok. Tapi, apakah anak muda harus selalu berbeda? Harus mengambil tempat di seberang?
Mungkin benar kata orang bahwa selalu bersama-sama itu tak selamanya berarti baik. Kadang ketidakkompakan justru diperlukan. Kenapa? « Read the rest of this entry »