Haruskah Internet disensor? Perlukah pemerintah memblokade situs, blog, dan semua pojok remang-remang di ranah digital yang mengandung pornografi?
Pertanyaan-pertanyaan itu bergemuruh di jaringan digital hari-hari ini. Terutama setelah wakil rakyat kita di Senayan hari ini mengesahkan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik.
Sebagian yang mendukung sensor dengan gegap gempita seraya berteriak, “Akhirnya sang pelindung telah tiba dan bertindak.”
Yang menolak blokade tak kalah garang. “Jangan, jangan sensor kami. Pornografi itu takhyul.”
Saya gamang dalam ketidakmengertian. Kosong. Buat saya, ini soal moral. Persepsi. Hati nurani. Kenapa mesti diselesaikan dengan teknologi?
Dalam kebingungan saya pun berpaling pada telaga yang tenang. Samudera tanpa batas dan tepi. Cakrawala yang menggugah perspektif. Siapa lagi kalau bukan Paklik Isnogud.
“Hal-hal yang berkaitan dengan seks memang selalu mencemaskan,” kata Paklik Isnogud. Wajahnya terlihat damai ketika ia mengujarkan kalimat itu.
“Karena itulah lahir tabu,” ia melanjutkan. “Karena itulah para orang tua selalu ingin hidup di zaman Ratu Victoria Inggris. Karena itulah rezim kiri atau kanan, di Tiongkok atau di Saudi, di Seoul atau di Teheran, juga di Indonesia ini, sama-sama berteriak ‘awas’ bagi yang erotik.
Lalu lahirlah sensor. Dan tiap sensor memang berasumsi bahwa orang lain yang di luar itu (yang tak beruntung jadi anggota sensor) adalah bodoh serta lemah. Mereka harus dijaga. Tapi, tiap sensor pada dasarnya punya niat yang baik dan menjengkelkan: melindungi.
Apa hasil perlindungan itu sebenarnya tak pernah terbukti benar. Seks dan syahwat toh konon tak berhenti membikin dosa di Beijing ataupun Ryadh. Hal yang lebih buruk tak akan terjadi.
Betapa pun juga menyedihkan benar bahwa ‘mendidik’ sering dianggap sama dengan ‘melindungi’. Siapa sebenarnya yang harus dididik dan dilindungi? Masyarakat atau para pemegang pedang sensor, Mas?
Saya diam. Paklik melanjutkan kata-katanya.
“Sampai tahu, Mas, manusia toh tak seluruhnya jadi cabul, meskipun ekspresi pengalaman seksual bahkan sudah ada dalam lukisan zaman batu.
Memang mereka yang merambah Internet akan menemukan yang jorok-jorok, tapi mereka pasti juga belajar hal-hal lain.
Ada memang anak (setidaknya begitulah menurut berita) yang memperkosa sehabis ia menonton film yang merangsang syahwat. Tapi, tentu lebih banyak lagi anak yang membaca cerita seks stensilan, ternyata, kemudian tumbuh jadi orang baik-baik menurut ukuran normal.
Sekarang saya mau tanya sampean. Berapa cerita porno yang pernah sampean baca? Berapa kali sampean nonton blue film atau bahkan yang lebih seram dari itu?
Mungkin sampean malah sudah lupa karena saking seringnya, seperti halnya saya juga lupa. Tapi, seperti halnya sampean, Mas, saya tak serta merta merasa diri menjadi bejat. Barangkali saya memang berdosa, tapi bejat betul barangkali belum.
Kalau kita percaya bahwa kita sendiri tak jadi jebol hanya karena sejumlah cerita bobrok, kita mungkin bisa percaya bahwa orang lain akan demikian pula. Termasuk anak-anak kita. Termasuk anak-anak saudara kita.
Jadi untuk apa gunanya menyensor, memblokade, Mas?”
“Embuh, Paklik. Saya ndak tahu. Saya tadi minta jawaban je, lah kok sampean malah ganti tanya? Piye, sih?”
Paklik tersenyum, dan berlalu …
Maret 25, 2008 pukul 9:11 pm
wah tirani baru, hajar bleh !
Maret 25, 2008 pukul 10:10 pm
Boleh di bilang saya termasuk sering liat2 gambar2 ce miskin gak pake baju. Tapi saya sangat setuju ada mekanisme untuk melindungi anak2 dari pornograpi, Dulu saya pertama kali liat begituan waktu smp, ada temen yang bawa majalah playboy. Tapi sekarang anak kelas 3 udah tau hal2 yang kayak gitu yang jauh lebih seram …
Maret 25, 2008 pukul 10:28 pm
Saya termasuk setuju dengan pemblokiran situs2 porno di internet.
*toh masih ada VCD2 glodok ini*
Maret 25, 2008 pukul 10:35 pm
walah, gak bisa browsing hentai lagi dong D: *plak
Maret 25, 2008 pukul 10:36 pm
Sensor Internet vs Kucing Kelaparan…
Ketika berlibur di PPSJ - Menoreh Green Land, di penginapan saya menjumpai seekor kucing yang sedang mengais di berbagai tempat, sekedar mencari sesuatu untuk mengganjal perutnya. Tapi karena lokasi penginapan tersebut relatif bersih, maka usahanya ter…
Maret 25, 2008 pukul 10:39 pm
[...] baca tentang disahkannya undang-undang informasi dan transaksi elektronik. sekilas disinggung di sini. penasaran, apa sih isinya? sampe ditanggapi mengenai sensor di internet. wah, gak bisa browsing [...]
Maret 25, 2008 pukul 10:48 pm
Bejat selama tidak merugikan orang lain kan ndak papa to?
Maret 25, 2008 pukul 11:01 pm
Wis jan…Undang-undang kesambet… semprul tenan…
(good bye miyabi…good bye maria ozawa…)
Maret 25, 2008 pukul 11:12 pm
RUU sesat…mbikin ndak betah ngenet…porn site kan pelepas dahaga kalo lagi bosen ngeblog…piye to ?
Maret 25, 2008 pukul 11:16 pm
Berarti… orang2 yang di Senayan itu merasa akan jebol kalau melihat yang porno-porno? Hehehehe
Maret 25, 2008 pukul 11:19 pm
Mon, ini gara2 elu membandingkan statistik SBY vs MO
Maret 25, 2008 pukul 11:26 pm
Ini kata Roy Suryo di Kompas.com:
“…meski telah memiliki undang-undang, yang perlu diwaspadai adalah kemungkinan ada perlawanan dari para ’blogger’ …
Wah berarti menurut Roy, blogger selain penipu juga senang yg porno2 ?
Maret 26, 2008 pukul 12:41 am
nggak percaya bakal bisa 100 % diblokir…Lihat saja di Arab,..kurang blokir gimana ? Tapi justru paling banyak yang ngunduh porno porno yang orang Arab !
Maret 26, 2008 pukul 1:30 am
Kok kayaknya susah ya? Kasihan yang sudah pada dapat “premium member” kui…
Maret 26, 2008 pukul 3:14 am
kalo diblok kan masih banyak cara lainnya. lagipula bangsa ini terkenal paling pinter mencari celah. korupsi aja yang jelas undang-undangnya masih bisa diakali, apalagi yang cuman blokir content porno. masih bisa vpn dan tunnel lainnya ke singapore kan udah bebas lagi …
good bye Maria Ozawa, welcome Takako Kitahara …
Maret 26, 2008 pukul 4:26 am
Klo Ndoro Kankung sendiri setuju ga, atau ga setuju, internet itu perlu disensor?
Maret 26, 2008 pukul 4:27 am
Eh ketinggalan
Maret 26, 2008 pukul 4:32 am
teknologi berevolusi demikian cepat,..
sudah dipageri gimana pun dari dulu, dunia hitamnya masih tetep ada..
apalgi sekedar Bokep…
buang2 duit anggaran saja..
Maret 26, 2008 pukul 7:06 am
negeri hipokondriak
Maret 26, 2008 pukul 7:31 am
Setuju sama Nana..!!
Maret 26, 2008 pukul 7:52 am
nggak heran kalo ndoro gak setuju.
Maret 26, 2008 pukul 8:56 am
yo dilihat niat baiknya saja to ndoro….
nawaytunya….
Maret 26, 2008 pukul 9:08 am
orang senayan sedang menggarami laut.
Maret 26, 2008 pukul 9:08 am
tenang Ndoro…wong peraturan itu mau dibuat supaya ada anggaran yang bisa dikorup…persis seperti perda rokok, lampu motor dsb
Maret 26, 2008 pukul 9:27 am
duh, kok ya beginian diprioritaskan oleh senayan ya? hal hal lain yang lebih mendasar belum dibereskan: SARA, Sembako, kasus korupsi, dll.
lagian, sensor demokrasi (bener gak?)
lagi2an, dilarang di internet ya akan memacu cara2 lain.
lagi3an, SIAPA yg bakal sok SUCI bilang ini p0rn0 atau bukan? editornya popular? FHM? atau kader2 ormas agama yang buntutnya ketauan jadi bintang film p0rn0?
salam.
Maret 26, 2008 pukul 10:06 am
Yang kontra silakan kontra
Yang pro silakan pro
tapi saya tetep ga tega liat anak2 SD yg masuk ke warnet, bahkan sampe 3-5 orang dalam 1 kabin, trus buka situs gituan. yg punya warnet bisa monitor, tp dia juga ga mau ngelarang biar tetep ada pemasukan
kecil2 aja dah kayak gini, makanya gedenya halal jadi koruptor
Maret 26, 2008 pukul 10:55 am
saya sih tenang saja, mengingat byk bloger kolektor file kesegaran di sini
Maret 26, 2008 pukul 10:55 am
Saya setuju pendapatnya Mas iqranegara
Tapi kalau saya sering liatnya anak-anak SMP.
Masuk 3 orang terus buka situs gituan.
Malahan udah ada yang tau download 3 GP terus dicopy ke MMC.
Operator memang tau, tapi ya demi pemasukan tadi.
Antara dosa dan duit.
Maret 26, 2008 pukul 11:12 am
kita tunggu saja tanggal mainnya…
Maret 26, 2008 pukul 11:23 am
[..]Ada memang anak (setidaknya begitulah menurut berita) yang memperkosa sehabis ia menonton film yang merangsang syahwat. Tapi, tentu lebih banyak lagi anak yang membaca cerita seks stensilan, ternyata, kemudian tumbuh jadi orang baik-baik menurut ukuran normal[..]
hihihihi.., membicarakan diri sendiri ndoro ???
Maret 26, 2008 pukul 11:36 am
…pantes salah satu situs ternama itu tidak bisa saya akses lagi…
Maret 26, 2008 pukul 11:52 am
mbok ya sudaaahhh….biarin kita yg milih apa yg mau kita baca…ya toh? dan anak2, ya itu tugas orangtuanya ngawasin biarpun gak mungkin banget bisa 100% terlindungi dari bacaan atau tontonan dwasa, kan? halah, kita dulu juga jaman smp udah kenal video bokep, dan gak kenapa2 ternyata.
Maret 26, 2008 pukul 12:07 pm
saya sih dukung aja dulu. niatnya bagus. kalau nanti ternyata banyak kendala (misal, ternyata banyak situs2 lurus yang ikut terblokade) tinggal diinfokan saja.
Maret 26, 2008 pukul 12:21 pm
besok jangan2 kegiatan blogging itu dibilang kriminil..duh moga2 ga kejadian ya,,
btw, soal moral emang ga nyambung sama teknologi.
Maret 26, 2008 pukul 1:13 pm
namanya revolusi pasti ada pengorbanan. ndak mau berkorban ya ndak usah revolusi.
*sruput rokok, nyumet kopi*
Maret 26, 2008 pukul 1:13 pm
“good bye Maria Ozawa, welcome Takako Kitahara …”
err,.. anu mas masih tetep munyuk.. takako kitahara udah retire lho
edisi pilem terakhirnya bisa minta ke antobilang
OOT
Maret 26, 2008 pukul 1:14 pm
Pemerintah lg cari celah buat memeras para blogger
Maret 26, 2008 pukul 1:55 pm
ini penting juga loh..lah yang pada tuek tuwek emang sudah gak keitung melihatnya, bayangin aja kalau sampai anak anak kita yang belum cukup umur dengan mudah mengakses situs parno eh porno itu. Bukan gak mungkin kasus pemerkosaan, incest, dan yang lain lain yang negri2 akan bertambah marak.
Maret 26, 2008 pukul 2:17 pm
Ya itung-itung ada proyek baru lah bagi mereka!
Sapa tau ntar bisa diikutkan ke olimpiade IT dunia tentang keberhasilan mereka memblokir situs porno di Indonesia
Maret 26, 2008 pukul 2:55 pm
Berarti klo diblokir juga gapapa thoo? kewajiban manusia kan berusaha
Maret 26, 2008 pukul 3:37 pm
pemerintah kok senengnya bikin susah diri sendiri, mau diolah dan diblokir kayak gimana, pasti bakalan ada celah. lah wong tiap hari ada banyak situs pornografi lahir. Kecuali pemerintah mau bayar banyak internet inspector yang kerjanya nemuin situs2 porno tiap hari
Maret 26, 2008 pukul 5:09 pm
Tenang… tenang…
menurut info dari kawan yang sudah menanyakan langsung ke situs langganannya, akan disediakan mirror dns khusus buat pelanggan.
Cuma ya itu, harus langganan!
hmmm… kok jadi berbau konspirasi ekonomi berlangganan dan setoran ya antara situs dan …
ah mbuh!
Maret 26, 2008 pukul 8:30 pm
[...] penjara (ini bukan penjara yang seperti antobilang itu loh), mata ini dihebohkan dengan masalah porno dan porno. Halah… maksudnya berita pembelokiran situs ndoro porno oleh [...]
Maret 27, 2008 pukul 3:14 am
wah ndak bisa download lagi nih.
Maret 27, 2008 pukul 2:15 pm
ah, saya hanya bacni bokep..
beraninya cuma nonton, tapi ndak mau ngelakoni..
wikikikikik…
Maret 27, 2008 pukul 9:36 pm
Makanya berantas kemiskinan!!!
biar cewek-cewek yang numpang mejeng telanjang bisa beli baju. Bukannya berantas porno, lha wong mbah Adam sudah ngajari kita porno kok, apalagi sih yang dicari pemerintah, wah jangan Pemerintah kita yang porno buktinya tidak bisa memberantas kemiskinan, makanya banyak orang2 yang telanjang.
Maret 28, 2008 pukul 8:20 am
Ndoro, ntar saya ngopi koleksinya ya, susah nih sekarang cari di internet.
*ngaboor sebelum dirajam*
Maret 28, 2008 pukul 9:01 am
apakah ini UU itu sebetulnya hanya untuk mengalihkan perhatian masyarakat akan kejadian - kejadian heboh selama ini ya?? kesannya kok terlalu terburu2 (ato saya ngga ngga update info).. hehehehehe…
Maret 28, 2008 pukul 12:30 pm
permisiiiii mo ikutan komen nih.
waduuuuh keliatannya jd pd esmosi gitu sih. dibikin slow mellow aja deh, liatin dulu nanti jdnya gimana. klu tmn2 sempet liat lingkungan sekitar beberapa warnet digemari oleh anak-anak dibawah usia (usia tk & sd) & tdk didampingi oleh orang dewasa, ngeri juga kan kalau mereka dgn mudah mengakses yg begituan.
Maret 29, 2008 pukul 9:34 am
Mnurut gw, prcuma aja ada larangan2 bgitu,yg mbuat hdup xta pusing 7 xliling.Smua orang jg pd cari duit,haram gak nya urusan xta msing2 . Yg pasti………..,”gue dapet lo juga dapet”, “lo gue kasih n lo harus jaga gue” impas toh…ya kan bossss2 kecil n bosss2 gede.
(chycex = cowok happy cuex)
Maret 29, 2008 pukul 9:51 am
mungkin karena indonesia juga gak banyak yang bisa dibanggain ya makanya larang ini itu, paling nggak pemerintah usaha untuk ngejadiin negara ini lebih baik.. klo udah mentok banget mungkin nantinya ada larangan film hollywood msk kesini.. ini kan cuma masalah kesadaran dr masing2 orang.. mending pemerintah tuh memasyarakatkan nge blog.. atau bikin site apalah yg lebih menarik.. friendster kyanya dulu2 terbukti bisa bikin orang2 ga ngeliat bokep.. at least ada lah yg dikerjain selaen melototin miyabi..
Maret 29, 2008 pukul 11:23 pm
CAPEK DEH …
DENGER SENAYAN
Maret 31, 2008 pukul 12:30 pm
Kayaknya foto-foto waktu di Bali harus segera dimusnahkan Om, jangan simpen di hardisk, kirim ke Jogja boleh juga
April 1, 2008 pukul 10:40 am
Nyantai aja…yakinlah dengan keinginan pemerintah ini bakal membuat Roy Suryo makin terkenal dan kaya tentunya…krn dia bakal terima proyek macam2lah..makanya dia yang paling semangat..he..he..
Tapi yaitu..namanya situs mau diblokir gak akan mungkin. Palagi seklas para IT di Indonesia yang ilmunya masih pas - pasan. Kenal teknologi aja masih baru..he..he..
Orang blokir koruptor aja..gak bisa2 pada hal pengalaman korupsinya udah nomor satu didunia…gimana..benarkan..?
Cuma..sebagai bagia usaha pemerintah yang ingin membuat warganaya jd..terlindungi aq kagum juga sih..paling tidak udah ada usaha dari pemerintah.,.terutam..depkominfo..kan selama ini namanya kurang popler dipemerintahan..bravo…pak..
April 1, 2008 pukul 3:19 pm
berarti seharusnya kembalikan saja ke pribadi masing2 kalo memang mengaku beragama dan berTuhan harusnya tanpa pake blokade massal kita cukup bisa memblokade diri kita dengan iman tho..macem2 saja negara ini..
Agustus 18, 2008 pukul 9:46 pm
padha ngomong apa sih kuwe…