Pengamen Pecas Ndahe

November 30, 2006 § 13 Komentar

Suatu pagi, di sebuah perempatan di dekat Plasa Senayan, Jakarta Selatan. Seorang pengamen menyetem gitarnya, siap-siap tampil di panggung jalanan, mengharap receh para penumpang kendaraan. Dan, seorang blogger iseng pun mengabadikan persiapan itu. Rupanya dia malu, lalu mojok di bawah tiang beton monorel.

Antimo Pecas Ndahe

November 30, 2006 § 11 Komentar

Seorang pemuda baru saja lulus pendidikan di Akademi Kepolisian. Saking bahagianya, di malam kelulusannya itu sang pemuda mengadakan pesta minuman bersama rekan-rekannya sampai mabuk.

Pagi harinya, tiba tiba ada panggilan dari kesatuannya untuk segera mengikuti apel bendera. Karena masih ada pengaruh minuman di kepala, polisi muda itu pun mampir ke warung dekat kantor untuk beli Antimo sebelum ikut upacara.

Pemuda : “Pak, beli Antimo.”

Warung : “Untuk apa, Pak? Bapak mau pergi jauh ya?”

Pemuda : “Oh, nggak. Saya pusing karena mabok.

Setelah minum Antimo, si pemuda pun ke kantor untuk ikut upacara. Namun, ia masih merasa mabuk dan kepalanya berat.

“Kurang ajar penjual warung itu. Katanya obat antimabuk, lah kok kepalaku masih pusing. Awas, nanti aku samperin dia sehabis upacara. Obatnya pasti palsu!”

Setelah upacara, pemuda itu pun langsung ke warung tempat beli Antimo dan ngomel-ngomel.

Pemuda : “Pak, obatnya palsu ya?”

Warung : “Emang kenapa, Pak?”

Pemuda : “Saya sudah minum 2 butir kok mabuknya nggak ilang-ilang?”

Warung : “Bapak dari Kepolisian, ya?”

Pemuda : “Iya. Emang kenapa kalau Kepolisian?”

Warung : “Pantesan ndak mempan, Pak. Lah wong Antimo itu hanya untuk Darat, Laut, dan Udara. Dari Kepolisian nggak ada, Pak.”

Pemuda : Ahgrgrrrrhhhrrrrhhhhh … @#%%#$@

Mohon maaf kepada yang pernah membaca lelucon gombal ini … 😀

Hujan Pecas Ndahe

November 30, 2006 § 19 Komentar

Hujan itu berkah atau musibah? Aha, tentu saja bisa kedua-duanya.

Hujan itu berkah bagi para petani yang sawahnya mengering. Hujan berubah jadi musibah bila membuat banjir yang menenggelamkan apa saja.

Hujan rintik-rintik, kata orang, itu romantis. Hujan lebat bikin hati miris. Hujan yang berlama-lama, kata orang Jawa, adalah criwikan sing dadi grojogan — sesuatu yang awalnya kecil berubah menjadi air bah. Pendeknya, ia ibarat dua sisi mata uang.

Sampean tentu juga kesan tersendiri dengan hujan, kan? Seperti Dewi, misalnya, yang mengaku suka mencumbui hujan. Halah. Hujan kok dicumbu? Cumbu dapur atau cumbu rujak? 😀

Tapi jangan coba tanyakan tentang hujan kepada Bulik Lita. Ia pasti akan bilang hujan itu sesuatu yang menjengkelkan bin menyebalkan.

Apa sebabnya? « Read the rest of this entry »

Negara Pecas Ndahe

November 29, 2006 § 10 Komentar

Untuk apa bernegara? Anak yang tabah itu bertanya dengan tabahnya kepada mereka yang [moga-moga] tabah juga. Mulanya dia cuma bertanya di dalam rumahnya sendiri. Eh, lah kok makbedunduk mampir ke sini. Coba Ki Sanak, apa saya ndak ikut pecas ndahe begitu tahu dia sudah datang jauh-jauh dan bertanya hal yang sama?

Karena saya ndak tahu, bertanyalah saya ke [siapa lagi kalau bukan] Paklik Isnogud. Dia sedang duduk mencangkung di ruangnya ketika saya datang. Kepalanya mendongak. Matanya menyipit. “Ada apa, Mas?” suaranya penuh selidik dan kecurigaan.

Dengan agak ragu, saya menjawab, “Anu, Paklik, anu … errr … Ndak ada apa-apa. Saya cuma mau tanya.”

“Tanya apa?”

“Ini tadi ada kawan yang bertanya, untuk apa sebenarnya kita bernegara? Dia sudah bertanya ke mana-mana, tapi kok kayaknya belum mendapatkan jawaban memuaskan. Eh, terus dia tanya ke saya. Karena saya ndak tahu, ya saya ganti tanya Paklik saja.” « Read the rest of this entry »

Profesi Pecas Ndahe

November 29, 2006 § 26 Komentar

Profesi apa yang paling berat menurut sampean? Polisi, hakim, dokter, tukang sapu, copet? Atau apa? Di Inggris, survei menunjukkan sopir taksi itu profesi paling berat. Kok bisa?

Discovery Channell-lah yang menunjukkan — melalui sebuah survei — bahwa menjadi sopir taksi itu lebih sulit ketimbang nelayan atau tukang ledeng sekalipun.

Dengarkan penuturan Dave Jones, pengemudi taksi di London, responden survei itu, tentang profesinya. “Pekerjaan ini sangat berat dan banyak tantangannya. Kemacetan, jam kerja yang panjang, penumpang yang menjengkelkan …. Semuanya membuat pekerjaan ini begitu sulit.”

Oh ya? Bagaimana bila kita bandingkan pekerjaan di belakang kemudi itu dengan profesi lain? Katakanlah bila diadu dengan pekerjaan sebagai penjaga kebun binatang. « Read the rest of this entry »

Where Am I?

You are currently viewing the archives for November, 2006 at Ndoro Kakung.