Gubernur Pecas Ndahe

November 28, 2006 § 8 Komentar

Sebuah peristiwa lumayan besar dan penting terjadi di Banten. Pada Minggu dua hari yang lalu, provinsi ini menggelar pemilihan kepala daerah — calon gubernur baru, Ki Sanak.

Sebentar lagi kita akan tahu siapa orangnya setelah kartu suara selesai dihitung. Tapi tetangga kiri-kanan saya kok kayaknya adem ayem ya, dan seperti tak pernah merasakan gregetnya hingga pagi ini. Apa yang salah?

Karena orang ramai ndak peduli, malas ikut coblos, atau karena hajatan itu dirasa kurang penting? Embuh. Saya saja baru tersadar ada pemilihan gubernur ketika Pak RT membagikan kartu peserta pemilihan warna biru itu pada Sabtu pagi, sehari sebelum pencoblosan.

Begitu mendadak?

Ketika saya tanya kenapa baru dibagi Sabtu pagi, Pak RT menjawab, “Kartunya baru datang tadi malam, Pak.” Saya ndak perlu nanya kenapa dia tak langsung membagikannya malam itu. Sebagian warga, termasuk saya, pasti belum pulang dari tempat kerja atau malah justru sudah tidur. Karena itu, Pak RT lebih memilih membagikan kartu itu pagi hari, ketika warga baru bangun tidur dan pasti belum ke mana-mana. Cerdas.

Toh tetap saja pencoblosan ndak seramai pemilihan presiden tempo hari. Saya pun memilih hengkang dari rumah, mengantarkan para bedhes berenang. Malamnya para tetangga bercerita bahwa acara pencoblosan sepi. Pak RT sampai harus mendatangi rumah-rumah warganya satu-satu dan mengajak penghuninya meramaikan bilik suara.

Saya bertanya-tanya ke Paklik Isnogud, bagaimana fenomena seperti itu bisa terjadi? Paklik, seperti biasa, senyum-senyum sendiri sebelum menjawab. Lalu ia menyesap cangkir kopi hitamnya dengan sempurna.

“Pemimpin itu tak selamanya harus lahir dari guncangan sejarah, Mas. Sebagian besar pemimpin yang pernah ada di dunia menjelang akhir abad ke-20 ini, muncul bukan dari situasi krisis. Mereka naik atau dipilih dalam suatu suasana biasa-biasa saja, dan mungkin agak hambar. Tanpa revolusi, tanpa kup, tanpa peristiwa dramatis.”

“Tapi Paklik, bagaimana seorang pemimpin kelak akan bisa muncul, jika tak ada guncangan besar seperti yang terjadi di Indonesia di pada 1965?”

“Ya, kita harus menerima kenyataan, bahwa kita butuh sebuah seleksi yang rutin. Artinya, kita butuh sistem. Artinya, kita butuh sesuatu yang reguler dan tanpa darah. Artinya, kita sebenarnya hanya butuh seorang pemimpin, karena tak selamanya kita dapat memproduksikan seorang pahlawan besar.

Kita tak perlu menyesal Mas, untuk hal yang agak kurang menggairahkan itu. Toh lahirnya seorang tokoh agung — kata ahli fisika Poincare, ketika ia berbicara tentang sejarah — adalah:

‘percikan terbesar dari faktor kebetulan’.

Dengan kata lain, peristiwa seperti itu tak bisa diramalkan, dan tak punya hukum alam yang jelas. Lagi pula, bila hal yang luar biasa itu akhirnya terjadi, kehidupan bersama tak dengan sendirinya berarti menyenangkan.

Karena itu, seorang pemimpin, apalagi dalam suatu masa yang tak memberi kesempatan untuk perbuatan-perbuatan heroik tak usah harus seorang besar. Sebuah demokrasi barangkali malah harus bersiap-siap untuk melindungi diri dari ‘malapetaka bagi publik’ itu.

Seorang besar memang mungkin seorang yang baik, tapi seorang yang besar umumnya sulit untuk dianggap sebagai tokoh yang ‘rutin’. Padahal rutinisasi kebesaran itulah yang menjamin sesuatu yang stabil, karena dengan itu seorang pemimpin bisa datang tanpa diiringi sangkakala dan bisa pergi tanpa meninggalkan rasa cemas.

Sebuah demokrasi, karena itu, memerlukan sebuah sistem yang mengelakkan ketergantungan kepada seorang individu. Bila A dipilih ke atas, itu adalah karena A memenuhi beberapa persyaratan yang ditentukan dan disetujui sebelumnya, bukan karena persyaratan itu dibikin sedemikian rupa agar cocok dengan keadaan si A. Maka, si A boleh saja tidak ada, asal ada orang lain — mungkin si B atau si C — yang memenuhi kriteria yang sudah ada itu.

Tanpa kriteria semacam itu, memang akhirnya soalnya bergantung kepada suatu ketidakpastian. Sebuah sistem politik boleh dikatakan sudah ‘dewasa’ bila ketergantungan kepada seorang individu, untuk memimpin, bisa dihindari atau dikurangi. Bagaimanapun, sebuah sistem yang mantap, yang tak akan mudah terguncang, adalah sistem yang bersandar pada kerendahan hati kepada kenyataan historis.

Kenyataannya, orang besar memang tidak lahir setiap sekian tahun. Dan tak kurang pentingnya adalah kenyataan bahwa orang besar mungkin sebetulnya tak pernah ada. Ada cuma semacam takhayul: konon Beethoven merobek kertas simfoninya sendiri yang akan dipersembahkannya buat Napoleon yang ia kagumi, setelah pahlawan pengawal Revolusi Prancis itu menobatkan diri jadi maharaja.

‘Rupanya, ia juga makhluk biasa saja!’

Sang komponis itu berteriak kecewa — rupanya dia pernah menduga bahwa ada manusia yang bukan makhluk biasa saja, Mas.”

“Ah, itu mungkin jawabannya, Paklik. Saya dan para tetangga barangkali memang tak pernah mengira Atut Chosiyah, Marissa Haque, dan mereka yang bertarung di Banten itu makhluk yang luar biasa, Paklik. Mereka itu sama seperti saya dan sampean. Manusia biasa.”

“Iya, cuma beda nasib saja, Mas, hahaha … “

§ 8 Responses to Gubernur Pecas Ndahe

Tinggalkan Balasan ke bangsari Batalkan balasan

What’s this?

You are currently reading Gubernur Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta