Salon Pecas Ndahe

Desember 13, 2006 § 11 Komentar

Seandainya saja saya itu kirik — yang bisa baca koran — advertensi ini tentu sudah saya gunting, tempel, dan kliping. Kalau saja saya ini pitik nggaya, saya pasti sudah angkat telepon dan pesan tempat ke salon ini. Terus mbesuk-mbesuk saya juga mau mengajak Ndoro Tuan di rumah buat menemani saya ke tempat baru ini. Buat apa?

Apa lagi kalau bukan buat dandan. Nyalon. Lah coba to, sampean perhatikan iklan yang saya ambil dari sebuah koran nasional itu. Saya baru tahu kalau binatang piaraan bangsanya kirik, ayam, sapi, wedus, kelinci, dan kucing itu ternyata punya tempat khusus buat macak. Saya baru sadar ternyata ada tempat kayak gini to. Halah.

Mungkin saya saja yang ketinggalan zaman dan ndak tahu perkembangan dunia perkewanan. Ndesit gitulah. Baru melihat salon seperti ini saja terus gumun. Lalu dikomentari. Padahal mungkin salon kayak gini sudah lama ada ya, Ki Sanak?

Tapi, kalau melihat iklannya yang cukup besar — berwarna pula, dan artinya mahal — saya jadi tahu bahwa rupanya sato kewan berkaki dua dan empat itu bisa jadi target market yang potensial — widih, bahasane kuwi!

Uedan. Ini kemajuan. Njuk kayak apa ya isi salon khusus kewan itu? Tarifnya berapa ya?

Ah, embuh. Saya ndak tahu, Ki Sanak. Saya belum pernah masuk ke salon seperti itu. Lah wong saya bukan kewan dan ndak punya kewan piaraan je. Barangkali Mbak Nana yang punya dua kirik kecil itu sudah sering ke sini, ya? Coba sampean tanya dia.

Ah, namanya juga zaman iPod ya, Ki Sanak. Jadi ya ndak cuma orang, perempuan, artis, ibu-ibu pejabat, dan tante-tante girang yang butuh ke salon. Kewan piaraan seperti asyu, kirik, kelinci pun sekali-sekali perlu ke tempat riasan seperti ini. Biar bodinya terawat, syukur-syukur tampangnya jadi tambah yahud gitu kali ya.

Ndak cuma itu katanya. Kalau ada sapi atau wedus bunting [hamil cuma buat manusia], salon itu katanya menyediakan peralatan USG untuk melihat jenis kelamin pedet atau cempenya: betina atau jantan. Kalau ada kirik patah kaki, salon itu juga bisa melakukan operasi. Apa ndak hebat itu?

[Untuk yang tak bisa bahasa Jawa, “pedet” itu anak sapi dan “cempe” itu anak kambing]

Tapi, saya bingung. Piaraan seperti munyuk itu, misalnya, kalau mau dibikin bagus gimana caranya ya? Lah wong sudah dari sononya munyuk itu yo uelek je. Mau dipermak gimana lagi? Apa ya mbak-mbak tukang salon itu bisa bikin munyuk modif kayak sepedah montor itu?

Terus bangsanya kambing dan wedus gembel yang prengus itu apa ya bisa dibikin lebih wangi dengan aroma terapi? Lebih fresh? Kan katanya ada layanan mandi basmi kutu dan jamur, juga mandi demodec segala itu. Eh, jan-jane mandi demodec ki apa to, Ki Sanak?

Saya jadi mikir, kalau sudah ada salon hewan seperti ini, apa dokter kewan teman saya itu masih laku ya? Lah wong tempat prakteknya selama ini cuma sak upil je. Tur ndelik di pojok. Apa ya dia itu ndak kalah saingan dan pamor kalau ditandingkan lawan salon-salon macam ini? Apalagi dokter teman saya itu hobinya bukan nyuntik kewan, tapi malah nggambar komik. Aneh to? Wes jan ramutu tenan kok dokter yang satu itu. Lulusan ngendi to, dok?

Kalau memang bisa, dan berani diadu lawan salon kayak gini, apa ya dokter kewan itu sanggup buka 24 jam? Mesti ndak kuat to?

Apa dia juga mau antar jemput hewan-hewan yang mau macak? Dia mesti bakal njawab begini, “Lah kok nyimut?”

Harap maklum, soale dokter kewan tito [ya, namanya tito] itu tentu lebih suka menjemput pacarnya [emang sudah punya, dok?] daripada datang ke rumah pemilik Rotweiler atau wedus gimbal yang rambutnya mau direbonding itu.

Saya jadi mikir, jadi kewan piaraan di zaman sekarang ini ternyata syedap betul ya? Sudah dikasih makan gratis tiap hari. Dielus-elus. Disayang. Dimanja. Digendong-gendong. Diajak jalan-jalan. Terus kalau pagi diantar ke taman untuk buang hajat. Pipis. Eh, sekarang ditambah ada salonnya lagi.

Apa kira-kira sampean ya mau jadi kewan saja, Ki Sanak?

§ 11 Responses to Salon Pecas Ndahe

  • avatar bangsari bangsari berkata:

    #tito: seneni ndoromu iki dabz! 😀

    heee .. mosok wani … 😛

  • avatar pitik nggaya pitik nggaya berkata:

    lho..lho..sik tho ndoro..namaku kok dibawa2 ki piye tho?Sebagai kewan saya juga pengen tampil nggaya tho ndoro..mosok bangsa menungso saja yang boleh…

    loh kewan pitik sekarang juga sudah bisa menulis komentar juga to? ah, ini pasti hasil dari belajar di salon itu ya .. 😛

  • avatar cah ayu cah ayu berkata:

    Kalo salon buat Dokter Kewan ada ndak Ndoro? Kalo ada lah coba ditawarke ke Dokter Kewan “ngganteng” Tito kuwi… *pisssssss…Dok ;)*

    nduk, kalau dokter guanteng itu mestinya sudah ndak butuh salon lagi, tapi butuh pendamping … 😛

  • avatar kikie kikie berkata:

    nggak mau jadi hewan, nanti standarnya cuma tampang & kesuburan.

    di mana itu … ada hotel khusus hewan. restoran khusus hewan peliharaan.
    tapi bagus juga … meskipun sementara di beberapa tempat lain masih banyak manusia yang hidupnya lebih nggak layak daripada hewan.

    wah, dalem iki … 😀

  • avatar GiE GiE berkata:

    Lho, baru tahu yak, klo kewan dah ada salon,

    pasti ndoro kakung lebih kaged(nebak)

    di sini malah ada “spa” khusus mereka2, spt kirik & mpus
    :))

    ah, kalau singapura mah memang negeri yang aneh, pak … 😀

  • avatar jt jt berkata:

    kalo masalah nyalon, kucing saya yang baru, si fuk bersaudara, ndak saya salonin (saya aja ndak nyalon kok). hanya tiap pagi saja saya bersihin pupnya yang buaaaauuuuu itu…

  • avatar kardjo kardjo berkata:

    sak ngerti aku.. yang namanya Salon itu ya loudspeaker… “Halo..halo.. saudara..saudara. Testing..satu.dua.tiga…testing..Testing…Jangan Kates paling Penting…Enak tenan.. test.test..” (*kabuuur*)

    uh, lempar sendal ajah …. 😛

  • avatar Hedi Hedi berkata:

    aku malah kepikiran buka bisnis itu, booming je sekarang 😀

    butuh mitra bisnis, sam .. 😀

  • avatar Abi Abi berkata:

    wah ndoro, pabu panyu niku taktawani malah takon ngaten:
    “wonten therapist pabu jethene mboten?”, “sae maleh engkang saget ples-ples niku… guk.. guk… guk…”

    pabu nyothe dihalat wae hire, dab? 😀

  • avatar Paman Tyo Paman Tyo berkata:

    Lha Ndoro Kakung kalo mau nyoba salon itu juga boleh kok. Kalo males keluar rumah juga boleh manggil salon keliling, tinggal telepon. Biaya paket termurah Rp 200.000 🙂

    weleh, larange…. itu gajiku sebulan je, kang! ada yang paket hemat super ekonomis ndak yo … 😛

  • avatar tito tito berkata:

    Asem..kok aku diundang ke posting ini cuma buat disindir. Memangnya kesalon itu nggak ada yang pernah lecet kena gunting? Yang masuk angin habis dimandiin juga ada. Loh kok mandi demodec? Demodec itu tungau, mosok digebyurke asune. Sadis! Saya berhenti ngomik saja *ora ding*

    salahe dewe ratau dolan rene. nanti saya mandiin demodec lo … 😛

Tinggalkan Balasan ke cah ayu Batalkan balasan

What’s this?

You are currently reading Salon Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta