Bikers Pecas Ndahe

Januari 28, 2007 § 14 Komentar

Para pengendara sepeda motor menentang rencana pemerintah Jakarya melarang sepeda motor masuk jalan protokol: Sudirman dan M.H. Thamrin. Aturan itu dianggap diskriminatif dan memiskinkan masyarakat.

Para bikers yang tergabung dalam pelbagai perkumpulan itu lalu unjuk rasa, ramai-ramai berpawai sambil mengusung spanduk berisi kecaman terhadap larangan itu. Benarkah larangan itu diskriminatif? Bagaimana sebetulnya mengelola lalu lintas Jakarta yang semakin semrawut ini?

Saya tak tahu, tapi … Aha! Paklik Isnogud pasti punya dongeng yang inspiratif tentang lalu lintas yang kian kusut di Jakarta ini. Saya mau cari dia dulu. Apalagi sudah lebih dari sepekan saya tak bertemu dengannya.

Buru-buru saya menyusuri lorong-lorong pabrik menuju ruangannya yang pengap, apak, dan penuh asap berbau khas tembakau Marsbrand. Benar saja, Paklik Isnogud ada di sana. Seperti biasa, ia sendirian. Senyumnya lebar ketika dia melihat saya dari jauh.

“Wah, wah … apa kabar, Mas? Tumben sampean ndak kirim kabar apa pun dari sana. Seneng ya jalan-jalan?”

“Ah, Paklik. Biasa saja. Sampean kan lebih sering jalan-jalan dari saya. Sibuk apa, Paklik?”

“Ndak sibuk apa-apa, Mas. Cuma baca-baca saja.”

“Ah, kalau begitu saya mau tanya dong … ”

“Halah,” Paklik menukas. “Bukannya ngasih oleh-oleh, eh malah tanya. Apa sampean ndak bosen tanya?”

Saya nyingir. “Lah Paklik juga ndak ngasih sangu, sih.”

“Mau tanya apa?”

“Itu Paklik, soal demo brompit itu lo. Katanya pemerintah mau melarang brompit masuk Sudirman ya? Bagaimana itu, Paklik?”

“Haiyah. Mereka itu kan kalah sama tukang becak.”

“Tukang becak? Maksud Paklik?”

“Lah iya to, Mas. Becak-becak itu kan sudah lama tergusur dari Jakarta. Jauh sebelum rencana penggusuran sepeda motor sekarang ini. Para tukang becak juga sudah lebih dulu ketimbang para bikers itu unjuk rasa karena merasa mendapat perlakuan diskriminatif. Mosok sampean sudah lupa? Pendek amat ingatan sampean.”

Tentu saja saya ndak terima disebut punya ingatan yang pendek. Saya protes. “Sik, sik, sik … Paklik jangan asal ngomong. Sekarang ini kan beda kasusnya. Becak itu dulu dilarang karena dianggap ndak manusiawi. Lah sepeda motor kan pakai mesin, ndak ada hubungannya dengan soal kemanusiaan to?”

“Iya memang kalau sampean melihatnya dari sisi itu. Tapi, larangan itu sebetulnya kan bagian dari manajemen lalu lintas, Mas. Ini menyangkut urusan mengurai lalu lintas yang makin amburadul dan bagaimana mengatur jutaan kendaraan yang tiap hari seliweran di jalanan.”

“Jadi Paklik setuju dengan rencana larangan itu?”

Paklik tak segera menjawab. Ia malah tersenyum. “Hmm … sebentar, Mas. Sebelum kita bicara soal setuju atau tidak, maukah sampean mendengarkan cerita saya tentang seorang tukang becak?”

“Mau … mau … ” Dalam hati saya membatin, ini yang saya tunggu sebetulnya.

“Baiklah, Mas. Ini cerita seorang tukang becak di Bandung. Cerita ini pernah dimuat di sebuah majalah lawas sekali. Tukang becak itu Sukardal. Dia menggantung diri pada umurnya yang ke-53.”

“Hah! Bunuh diri? Kenapa, Paklik?” tanya saya tak sabar.

“Tukang becak tua ini kehilangan becaknya, pada tanggal 2 Juli 1986 malam, di sebuah perempatan Kota Bandung. Para petugas Tibum, sesuai dengan peraturan dan perintah atasan, menyita becak itu.

“Kasihan,” kata sebagian orang. “Kok sampai begitu?” kata sebagian yang lain. “Tapi putus asa adalah dosa,” kata para pemberi petuah (dan iklan tabib). “Ekstrem,” kata seorang pejabat. “Barangkali ada pihak ketiga,” kata pejabat lain.

Sukardal mungkin tidak tahu siapa pihak ketiga, siapa pihak pertama, siapa pihak kedua. Ia telah mencoba berebut mempertahankan becaknya dari sitaan petugas. Ia telah diseret ke arah parit. Ia telah menendang. Ia telah diseret lagi dan dinaikkan ke mobil. Ia telah berontak dan berhasil turun dari mobil.

Tapi, ia melihat becaknya telah diangkut truk, ia melihat sumber hidupnya terbang, maka ia kembali meloncat ke arah mobil Tibum yang berjalan. Ia menggandul pada mobil itu, dan berteriak-teriak,

“Saya mau bunuh diri … Saya mau bunuh diri ….”

Sukardal kemudian benar-benar menggantung diri, di sebuah pohon tanjung, di depan sebuah rumah di Jalan Ternate.

“Kasihan,” kata sebagian orang. “Kok sampai begitu?” kata sebagian yang lain. “Tapi kami hanya menjalankan tugas,” kata para petugas Tibum. “Pers jangan membesar-besarkan perkara ini,” kata seorang pejabat.

Apa yang besar sebenarnya? Apa yang kecil? Satu dari 18.000 becak di Kota Bandung adalah soal kecil. Seorang dari sekian ratus ribu orang yang kehilangan mata pencaharian di Indonesia adalah soal kecil.

Lagi pula, pada saat satu Sukardal mati, di sebuah sudut, satu genius yang sama hebat dengan Habibie mungkin baru lahir di sudut tanah air yang lain. Penderitaan manusia adalah ombak yang tak bisa dielakkan dari sejarah sebuah bangsa.

Penderitaan manusia?

Beberapa saat sebelum mati, Sukardal menulis sepucuk surat wasiat. Ia bicara kepada anaknya yang sulung: “Yani, adikmu kirimkan ke Jawa, Bapak sudah tidak sanggup hidup. Mayatku supaya dikuburkan di sisi emakmu.”

Yani, 22 tahun, yang bersama tiga adiknya yang kecil-kecil tinggal di sebuah bilik 4 x 4 m (yang disewa), tak sanggup. Wasiat itu terlalu berat. Mengirimkan jenazah ke Majalengka dari Bandung, bagi mereka, bukan perkara kecil.

Apa yang kecil sebenarnya? Apa yang besar?

Seorang bapak yang selama ini sendirian merawat anak-anaknya, dan jarang marah, adalah sesuatu yang besar bagi anak-anak itu. Sebuah becak yang waktu itu harganya Rp 50 ribu, dan baru saja lunas dicicil, adalah sesuatu yang besar bagi keluarga itu.

Satu setengah meter dari pohon tempat Sukardal mati, ada tembok. Di sana tertulis (kemudian dihapus oleh petugas kepolisian):

“Saya gantung diri karena becak saya dibawa anjing Tibum”.

Becak saya, kata Sukardal. Di situ terlihat ada rasa kebanggaan memiliki. Ada rasa marah karena sebuah hak direbut. Ada makian: huruf-huruf itu memprotes dan sekaligus putus asa. Dengan kata lain, sebuah perkara besar, karena ia justru terbit pada seorang yang begitu kecil.

Orang yang kecil adalah orang yang memprotes dengan keyakinan tipis bahwa protes itu akan didengar, dan karena itu teriaknya sampai ke liang kubur.

Seperti sebuah sajak, ditulis oleh seorang penduduk Chichibu, di sebelah barat Tokyo, ketika Jepang belum lagi kaya di akhir abad lalu, setelah petani-petani miskin mencoba berontak pada 1884, dan kalah, dan terkubur:

Angin bertiup
Hujan jatuh
Anak-anak muda mati.

Keluh kemiskinan
Berkibar seperti bendera …

Kata di nisan kami,
Yang tertimbun badai salju 1884,
Tak nampak oleh yang berkuasa
Maka di saat-saat begini
Kami harus menjerit setinggi-tingginya.

Sukardal juga sebenarnya mencoba menjerit tinggi-tinggi. “Kalau betul-betul negara hukum, Tibum harus diusut,” tulis tukang becak itu sebelum mati, pada tembok. Dia bilang, kalau betul-betul. Dia tidak bilang, karena ini negara hukum … Sampean tahu bedanya kan, Mas?”

Saya diam saja.

“Nah, Sukardal meminta, dengan leher terjerat dan nyawa melesat, dan itu berarti dengan keras — karena ia sesungguhnya tidak begitu yakin.

Bagaimana ia bisa yakin? Ia pasti tahu ia bukan termasuk mereka yang bisa menang. Ia bahkan mungkin tak termasuk mereka yang pernah menang. Orang kecil adalah orang yang, pada akhirnya, terlalu sering kalah.

Sukardal telah melewatkan hidupnya setengah abad: sudah teramat tua untuk memilih kehidupan lain, terlampau tua untuk berontak. Tapi, ia — yang tamat sekolah menengah, yang datang dari sebuah kampung di Yogya dan berdagang kecil di Jakarta — toh masih merasa perlu menuliskan pesannya. Ia mati, dan ia tidak membisu.

Hidup kita terbuat dari kematian orang-orang lain yang tak membisu.

Itu kata seorang arif bijaksana lo, Mas.”

Ah, kalimat Paklik terakhir membuat saya membisu. “Lah, terus rencana larangan brompit masuk jalan protokol itu bagaimana, Paklik?’

“Ya sampean tanya saja pada orang-orang yang tak membisu itu, Mas. Saya mau topo mbisu dulu karena capek sampean tanya terus.”

Halah. Piye, Ki Sanak?

§ 14 Responses to Bikers Pecas Ndahe

  • avatar Herman Saksono Herman Saksono berkata:

    Apa ya aku termasuk yang kuat mikul tanggung jawab segede itu?

    karena kamu bukan orang yang bisu, kamu pasti kuat mons … 🙂

  • avatar Anang Anang berkata:

    tragis sekali nasib orang itu… lebih baik mati daripada hidup tertindassss….

    apa yang bisa sampean lakukan untuk mereka, mas?

  • avatar kenny kenny berkata:

    bener pak lik….ceritane brompit malah kalah seru karo ceritane ttg tukang becak

  • avatar Rara Rara berkata:

    Na.. kalo gitu, mari kita menjerit tinggi-tinggi..

  • avatar tito tito berkata:

    ngglundhunge wong dhuwur bisa mabur, ngglundhunge wong ngisor mung bisa ndlosor. Becak nggak boleh, brompit nggak boleh. Kere cuma bisa ndlosor

  • avatar venus venus berkata:

    ah, sedih banget baca yang ini, mas 😦

    serius, biasane aku ngakak baca blogmu, saiki malah mbrebes mili :((

  • avatar petroek petroek berkata:

    wah panjang tenan mas, mataku ra sanggup nerusin…

  • avatar mbah keman mbah keman berkata:

    wong sugeh lali kerene, wong kere lali panggone, mungkin jlan kwi khusus dalane wong sugeh

  • avatar maruria maruria berkata:

    Kayaknya jakarta emang buat orang kaya thok..!!
    Kalo mo hidup di jakarta, mesti punya mobil.Kalo ga bisa beli mobil, harus naik angkutan umum. Kalo ga punya ongkos, harus jalan kaki.
    Tragiss..

  • avatar andrias ekoyuono andrias ekoyuono berkata:

    lah piye to pemda iki. Motor gak boleh masuk thmarin-sudirman, mobil masuk thamrin-sudirman suruh bayar pake ERP (electronics road pricing), katanya semua itu karena kita disuruh beralih naik transportasi umum. Eh lha kok tarif Busway mau naik, Busway koridor baru jumlah busnya masih kurang, Monorail gak jadi-jadi, Subway entah kapan. Wah jan transportasi Jakarta ki Pecas Ndahe..

  • avatar -tikabanget- -tikabanget- berkata:

    iya..
    sayah juga ngerasa kecil..
    sayah juga ndak yakin bakal jadi salah satu yang pernah menang..
    *ndak pede..*

  • avatar anima anima berkata:

    paklik, kemaren liat pengemis kecil di perempatan jalan dewi sartika (bali) ditangkep sama tibum. anak kecil, diborgol, diperlakukan kasar

    saya masih ndak bisa apa-apa. DOH

  • avatar Tukang Koran Tukang Koran berkata:

    Saya ingat, cerita tukang becak bunuh diri itu pernah jadi bahan karangan saya waktu SMP. Waktu itu kami ditugaskan menulis esai tentang penghapusan becak di Jakarta. Walaupun tidak seharu biru cerita pakliknya ndoro kakung, tapi karangan saya mendapat nilai bagus. Kembali ke laptop… Setelah three in one dan busway gagal memperbaiki kualitas lalulintas, sekarang giliran no-bike. Bang yos, pake otak dong! Jalan tol yang gak ada bike aja bisa kacau dan macet.

    hahaha…tumben tukang koran bisa marah sama sutiyoso 😛

  • avatar alief alief berkata:

    ndoro, paklik isnogud = gunawan muhammad ya?

    wah, ndak tau ya. aku ndak kenal je … 🙂

Tinggalkan Balasan ke kenny Batalkan balasan

What’s this?

You are currently reading Bikers Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta