Gudang Pecas Ndahe
Februari 14, 2007 § 20 Komentar
Saya selalu gemes mendengar cerita atau membaca berita tentang pemerkosaan. Rasanya pengen njabuti semua bulu si pemerkosa itu saja, dari bulu jempol kaki sampai bulu di atas jidat.
Apalagi kalau korbannya masih anak-anak di bawah umur seperti berita ini dan di sini. Huh, rasanya pengen tak sobek-sobek mulut si pelaku itu.
Bukan karena saya mau sok suci atau mau jadi pahlawan. Bukan itu, Ki Sanak. Tapi, karena saya selalu melihat korban pemerkosaan itu seperti orang yang sudah jatuh tertimpa tangga.
Para korban itu pertama-tama sudah diperlakukan dengan tak semena-mena oleh si pemerkosa. Setelah itu, korban kerap diperlakukan tak adil, baik ketika masih di depan polisi maupun di meja hijau.
Kenapa tak adil?
Bayangkan, setiap kali ada kasus pemerkosaan, polisi cuma menyita barang bukti milik korban, misalnya kerudung, blus, rok, celana dalam, dan kutang.
Kenapa polisi nyaris tak pernah [setidaknya yang saya dengar atau baca selama ini] menyita barang bukti milik pelaku, seperti baju, celana panjang atau pendek, celana dalam, dan alat yang digunakan untuk memerkosa sekalian?
Jika kasus pemerkosaan sampai ke pengadilan, hakim pun sering kali memberikan vonis yang ringan, sangat ringan malah, kepada pelaku. Tak sampai lima tahun. Padahal si korban harus menanggung penderitaan dan rasa malu selama bertahun-tahun. Sungguh tidak adil.
Kalau mau adil, boleh saja para pelaku pemerkosaan itu dihukum ringan. Tapi, ada tapinya, negara harus menahan alat yang dipakai untuk memerkosa itu selama-selamanya. Negara harus menyita alat bukti kejahatan itu supaya si pelaku tak mengulangi perbuatannya lagi. Itu baru adil. Alat bukti itu lalu dikumpulkan dan disimpan di gudang khusus sampai numpuk-numpuk gitu deh.
Saya bayangkan kelak ada orang yang menangkap peluang itu, lalu membuka bisnis gudang penyimpanan alat bukti pemerkosaan. Masing-masing bersaing dengan menawarkan kelebihan, umpamanya menyediakan tempat parkir lebih luas, ada fasilitas pembersihan, dan ruangan ber-AC.
Ruangan gudang penyimpanan alat bukti itu memang harus dilengkapi dengan AC yang menyala 24 jam sehari, 7 hari dalam sepekan, 12 bulan dalam setahun, alias terus menerus.
Kenapa? Ya supaya ruangannya ndak bau apak dan alat bukti itu tak lekas lapuk atau peyot. Eh, siapa tahu ada mahasiswa yang mau membuat skripsi dan meneliti tentang alat bukti itu. Siapa tahu para ahli anatomi mau bikin studi tentang perbandingan alat bukti. Jadi alat bukti itu harus dijaga terus kesegarannya, bukan?
Seandainya ide itu benar-benar terwujud, saya bayangkan nanti kita bakal melihat di sentra-sentra pergudangan, seperti di Cakung, Pulogadung, atau Cikarang, ada lokasi khusus tempat “Gudang Alat Bukti Pemerkosaan” atau “Gudang Penis” dikelompokkan. Full AC. Selain petugas dilarang masuk. Halah.
Di dalam gudang, alat bukti itu bisa disimpan di rak atau laci berdasarkan, misalnya ukuran, warna, bentuk, tato, dan sebagainya. Kok tato? Lah kan katanya sekarang ada trend penis yang ditato, kan?
Terus kunci gudang itu sebaiknya diserahkan saja ke … Venus, misalnya. Lok kok Venus? Soalnya dia kan penggemar KON …. CI.
Aha, rupanya genderang perang mulai ditabuh lagi. Hohoho … 😀

“Gudang Penis”
Berarti bisa jadi stok buat ganti-ganti ya Ndoro? Malam ini model melengkung, malam besok yang menggelembung … Huss! Saru!
setuju Ndoro, Penisnya dikebiri saja!
venus bilang *eh tukul ding*: ‘wooo.. tak syobek-syobek mulutmu’ hi,hi,
hohohoho..
saya juga penggemar kon…dangan..
halah ndoro iki!! dari awal tuh saya bacanya serius banget, dlm hati sampe bilang “iya bener alat yg buat merkosa itu di potong aja”
ealah dalah ternyata artikelnya cuma “ngece-ngece” mbok Venus tho! ck ck ck…mbok yo yen tresno ngmg ae ndoro…
*ngumpet….!!!
Bahasan tentang kekerasan terhadap perempuan DAN anak selalu bikin saya marah. Minimal nangis.
Baru tadi siang lihat liputan griya tuna grahita. Karena cacat ganda, si anak dibuang orang tuanya. Ketika masih bayi merah. Spontan air mata saya meleleh. Tega nian… Sejuta alasan tentang betapa sulitnya merawat tuna grahita tak mampu membungkam nurani ibu, bukan?
Pemerkosaan? Hukuman terberat. Apalagi kalau korbannya anak kecil. Pelaku dikebiri? Itu minimal saja ya. Plus dicabuti semua rambutnya, pelan-pelan, sambil diberi air garam/jeruk nipis, di padang terbuka, ditonton orang. Lalu diekspor ke hutan, diiket di pohon dekat sarang semut api, diolesi madu, biar digigiti semut-semut ganas. Dijamin kapok. Pol.
ndoro, kunci gudangnya jangan dikasih ke mbo venus… nanti barang buktinya dibawa pulang dia semua 😀
ndoro ini bener2 unpredictable ya? kemaren udah salaman padahal.
ok ok. kalo gitu, KITA BELUM SELESAI!!!!
mbokde venus ngono to? wah jan…
kadang2 bingung ama para pemerkosa, opo yo sing digoleki dari memperkosa orang, nik kebelet kan mendingan jajan wae, serpis e kan luwih oke, hehehehehe
Gudang Burung …. ?!
kedengerannya prospek bisnis baru neh
kalo begitu aku lobi aja dulu pihak2 yang berkepentingan biar seluruh proyek bisa kepegang sama aku.
Lumayan kan, punya gudang “pameran burung” jarang – jarang lho …
dadi mbayangke aku….piye kuwi modele cucak rowo yen di tumpuk2 ngono..walah malih luwe*eh ra ono hubunganne yo..hihi
hayo..teruskan gelutnya!!tetap semangat!!
Cihui! Gelut 2.0!
*manggut manggut*
begitu toh.. ya, ya..
kenapa dengan “an eye for an eye”?????
venus… i love you…
KITA BELUM SELESAI!!!!
*biar Ndoro Cemburu*
@ Kaipangkulon: intinya adalah DIBALAS. Harrrr…
wah ndahe pecas tenan ki…
waduh, sadis nih ndoro, kalau cowok yang di perkosa gimana ndoro. apanya yang mau di sita,,,ix ix ix