Iyo Pecas Ndahe

April 24, 2007 § 11 Komentar

Saya lupa kapan pertama kali mampir di blog Simply Iyo ini. Saya cuma ingat saya langsung terkesan dan kagum pada posting-posting di blog anak muda ini sejak pertama datang.

Seperti namanya, blog Iyo memang sangat simpel, tapi renungan-renungannya yang tertuang lewat posting-nya sering kali jauh dari kesan sederhana. Bahkan semula saya hampir tak percaya blog itu dikerjakan oleh Iyo sendiri.

Tapi, setelah mengikutinya dari hari ke hari, termasuk sesudah Wimar Witoelar mewawancarai dan majalah Tempo menulis tentang Iyo dan blognya, saya baru percaya bahwa Iyolah sendirilah di balik blog itu. Terus terang saya kagum padanya.

Kekaguman itu membuat saya jadi pengunjung tetap blognya — diam-diam, tanpa Iyo sadari. Memang tidak setiap hari, tapi minimal sepekan sekali. Saya sengaja tak memasukkan url blognya ke rss reader.

Saya suka kejutan dan kejutan ini hanya bisa peroleh bila melihat langsung blognya. Selalu ada kejutan di balik tikungan kehidupan, bukan?

Lewat blog yang dimaksudkan sebagai semacam buku harian itu saya beroleh sedikit gambaran kehidupan Iyo sehari-hari, baik di sekolah, di rumah, maupun di lingkungan pergaulannya.

Iyo jujur. Kejujurannya terungkap lewat salah satu posting Mimpi dan Motivasi. Sadar bahwa tubuhnya agak melebar ke samping, dalam posting tersebut Iyo pun menulis keinginannya untuk kurus!

That’s why aku memutuskan untuk gabung di Fitness Centre dan memusatkan latihan pada kardio *bukan bodybuildingnya*. Klo sixpack, ya syukur alhamdulillah. Tapi ngga mungkin deng, secara *liat perut* lemak aku masih segini menggunungnya. Hahahahaha!

Mood-nya kadang naik, kadang turun, seperti terlihat di posting terbarunya, Palsu.

Posting ini berkisah tentang pentingnya menjadi diri sendiri. Be yourself. Saya ndak tahu kenapa Iyo menuliskan posting ini dan apa latar belakangnya?

Mungkin ia tengah gundah dan gelisah melihat teman-temannya, lingkungannya, guru-gurunya, kerabatnya. Mungkin juga karena ada sebab lain. Saya ndak tahu.

Saya cuma menangkap ada nuansa kesepian di posting itu.

Dan akhir-akhir ini, teman saya makin sedikit, dan saya makin kesepian. Bahkan kadang saat seluruh kelas gaduh penuh gelak tawa, saya termenung sendiri, kadang menyumpal telinga saya dengan lagu sedih, tanpa ada yang mempedulikan.

Aha, ada apa Iyo?

Sayang, posting terakhir ini rupanya dicemari oleh komentar seseorang yang tak pada tempatnya: kasar. Terus terang saya kecewa membaca komentar tersebut. Menurut saya, komentar tersebut bisa dikategorikan sebagai cyberbullying.

Saya mendengar Iyo sudah mengeluhkan pelecehan itu dan jadi pembicaraan hangat di Kampung Gajah [alamatnya di desa mana sih? Ada yang tahu?]. Sayang saya ndak tahu sehangat apa pembicaraan itu …

Saya cuma jadi merasa bahwa ranah maya ini tampaknya kian banyak dipenuhi limbah. Ekses. Sampah!

Saya yakin serangan yang dialami Iyo bukan tak mungkin juga dialami blogger lain. Dan, di kemudian hari saya merasa bakal kian banyak komentar dan komentator tak bertanggung jawab semacam itu.

Saatnya kita menerapkan Blogger’s Code of Conduct yang digagas Tim O’Reilly?

>> A tribute to Wisnu Aryo Setio.

§ 11 Responses to Iyo Pecas Ndahe

Tinggalkan Balasan ke pinkina Batalkan balasan

What’s this?

You are currently reading Iyo Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta