Pembantu Pecas Ndahe

Juni 8, 2007 § 15 Komentar

Bayangkan seandainya setiap pembantu rumah tangga di Indonesia dikasih komputer/notebook, akses internet, dan diajari ngeblog. Kira-kira apa ya yang bakal mereka tulis?

Rasan-rasan majikan? Rumpian tentang si bapak yang genit? Ngomongin nyonyah rumah yang galak dan cemburuan? Beratnya pekerjaan? Ah, jangan-jangan mereka malah memakai blog sebagai ajang tebar pesona, kontak jodoh, tempat para bedinde dan jongos mencari pasangan …

Ada banyak kemungkinan dan variasi jawaban. Pembantu yang pada dasarnya suka berbagi ilmu, siapa tahu malah akan mengisi blognya dengan aneka resep masakan favorit anggota keluarga tempatnya bekerja atau kiat ngepel kilat.

Bedinde yang lantip dan trengginas mungkin akan membuat posting tips dan trik menghadapi momongan yang rewel atau hiperaktif. Mungkin pula dia akan membuat tips menghadapi juragan lanang yang gatel.

Mungkin juga para asisten rumah tangga itu justru bikin posting tentang borok-borok keluarga tempatnya bekerja di blog pribadinya. Atau mereka malah mengobral gosip dapur, rahasia yang hanya diketahui anggota keluarga, ke khalayak jagad maya.

Nah, kalau saja para pembantu itu bikin posting yang macam beginian, dijamin juragannya judeg, mumet, bin pecas ndahe. Lah iya kan? Bayangkan saja kalau misalnya ada bedinde seorang diva yang tiba-tiba posting soal kebiasaan majikannya yang ternyata kemproh, celana dalemnya ndak pernah ganti, kutangnya cuma tiga, itu pun apek semua karena jarang dicuci.

Andaikan saja ada pembantu rumah tangga anggota DPR yang menulis tentang hobi majikannya yang ternyata suka ngintip tetangga sebelah sedang mandi.

Bagaimana misalnya ada seorang bedinde pejabat publik yang posting tentang nyonyah rumahnya yang suka menggoda sopir pribadinya?

Bagaimana seandainya ada pembantu koruptor yang menulis akal bulus juragannya mengutip uang rakyat?

Kalau saja ada seorang pembantu tokoh agama yang menulis tentang ulah majikannya yang ternyata suka nowel pantat si jongos, ah, ceritanya pasti seru.

Bayangkan saja seandainya ada seorang bedinde keluarga Cendana itu posting tentang Soeharto yang ternyata suka main game tetris atau sering pipis di kulkas karena mengira sudah di dalam kamar mandi hanya mentang-mentang setiap buka pintu, lampunya langsung menyala. Indonesia bisa geger kan? Apalagi hari ini Soeharto ulang tahun yang ke-86.

Kalau itu yang terjadi, wah bakal ramai ranah blog ini. Blog mereka pasti akan menarik pengunjung dan menuai komentar dari mana-mana. Ranking technoratinya pasti akan langsung meroket. Google page rank-nya pun bakal segera menanjak. Blog mereka niscaya akan memberi warna lain pada ranah blog yang mulai kehilangan pesona dan sihirnya ini.

Ah, tiba-tiba saya jadi pengen punya banyak teman jongos, bedinde, dan sebangsanya. Soalnya saya mau mengajari mereka pakai komputer dan ngeblog. Gratis yo ndak apa-apa wes, asalkan mereka harus membuat posting tentang rahasia dan borok-borok juragan masing-masing. Bukan cuma kisah-kisah buat mereka seperti yang di Singapura itu.

Setelah itu, mereka mau saya kumpulkan jadi satu dalam sebuah wadah. Apa kek namanya. Bedinde.net kek, babu.org kek, jongos.org kek, batur.com kek. Biar ramai, biar seru. Supaya suara mereka memberi kita inspirasi atau pencerahan.

Mosok cuma para majikan, juragan, ndoro, atau priyayi saja yang boleh punya blog? Mosok cuma karyawan sakit hati yang boleh misuh-misuh, mengumpat tempatnya mencari makan? Mosok para pembantu ndak boleh bikin perkumpulan? Mosok cuma tulisan yang ndakik-ndakik yang boleh diposting? Mosok lelucon gombal ndak boleh disebarkan?

Bagaimana, Ki Sanak? Menarik, kan?

Bersatulah para bedinde dan jongos Indonesia … πŸ˜€

Iklan

§ 15 Responses to Pembantu Pecas Ndahe

  • kw berkata:

    sangat menarik ndoro. apalagi kalau diadakan kopdaran dan ndoro kakung sebagai eo nya. Dahsyat pasti. πŸ™‚

  • BABU berkata:

    Lhaaa kita ini khan sakjane yo babu atau pelayan masyarakat to ndorkung… hehehe aku pernah ke rumah saudara, bapak ibune kerja keras pulang malem, anaknya sekolah, pembantune, supir karo tuakng kebon lima orang lagi leyeh2 ada yg berenang, mangan2 lhaa… malah kepenak dadi babu meski bukan di rumahnya tapi menikmati rumah, awak ndik kene yo kerjo, yo dadi babu, yo dadi supir, dadi tukang kebon, ngelesi anake, komplit ga di bayar pisan..kekekek…tak rasan2 ndoroku aah…

  • juragan berkata:

    wuah jangan ndoro, nanti bedinde saya nulis ttg hobi saya yg suka godain brondong brondong lucu πŸ˜€

  • balibul berkata:

    wah ide apik ki…tapi tak gagas2
    lah awake dewe ki kerjo karo bos’e
    nang kantor kui opo ra podo ae batur tho kang?
    berarti sak jane awak dewe kui

    batur sing ndelalah iso nge-blog yo tho..
    artian kata postingan mu kui tinggal sejarah
    wong wes kelakon kok karo awak dewe..
    yo pora?

    heheheh hong nak duk ndang pi nak ger…

  • mbahatemo berkata:

    mas ndoro mau jadi penyalur to? πŸ˜›

  • dendi berkata:

    Pembantu yang baik justru pembantu yang bisa menyimpan erat rahasia majikannya kan?
    Para pembantu itu lebih mulia dari kita, karena mereka tidak seenaknya saja mengumbar borok sang majikan. Mungkin kita harus belajar tentang arti kesetiaan dari mereka.

    Atau karena takut dipecat,ya?

    Mbuh ah..
    Ndoro ini lho, aya aya wae

  • jalansutera berkata:

    nah, berarti sekarang kita perlu etika blogger, ndoro. ya, etika dalam ngeblog. apa yang bisa dilempar ke blog, apa yang tidak boleh diposting. etika memang perlu. tidak cuma bagi bedinde, tapi juga bagi majikan. betul nggak?

  • Ardana-bali berkata:

    the power of blog : Fakta atw opini? perlu pencerahan ndoro.

  • mei berkata:

    sekarang bukannya udah kang???lha kita ini juga khan “badinde” lah perusahaan bukan punya dewek..hehe

  • kenny berkata:

    aku melok dadi anggota wes ndoro πŸ˜€

  • kikie berkata:

    menarik! ditunggu realisasinya X) pembantu juga berhak … ngeblog.

  • Hedi berkata:

    Dengan blog semua serba mungkin, apalagi blog ada di ranah internet yang muskil disensor. Pada akhirnya kembali ke etika dan norma masing-masing πŸ˜‰

  • Ide yang bagus ndoro. Tapi saya rasa para saudara kita itu lebih tertarik dengan ide menaikkan gaji mereka.

  • S.Lestari berkata:

    walah, ki jenenge ngrasani aku, peh aku babu wae.

  • S.Lestari berkata:

    pernah libur pas “hari buruh sedunia” ora to, nek iyo berarti yo podo-podo babune, he he he…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Pembantu Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: