Sejarah Pecas Ndahe

Agustus 8, 2007 § 14 Komentar

Kontroversi tentang penemuan rekaman video lagu kebangsaan Indonesia Raya 3 stanza, pernyataan Roy Suryo yang mengklaim telah menemukannya dan menganggapnya penting karena ia ndak tahu persis sejarah lagu itu, dan semua bru-ha-ha lainnya, menyadarkan saya tentang betapa pentingnya sejarah.

Mengapa sejarah penting? Bagaimana pula cara menulis sejarah supaya tak bercampur aduk dengan mitos dan dongeng?

Saya ndak tahu. Untunglah saya punya telaga yang tenang, samudera kebajikan dan kearifan, seorang Paklik Isnogud. Kepadanyalah saya kemudian banyak bertanya tentang sejarah. Apa kata Paklik Isnogud?

Mohon maaf, kelanjutannya ditunda besok …. 😀

Iklan

§ 14 Responses to Sejarah Pecas Ndahe

  • mbahatemo berkata:

    lha ini apa, mas ngoro?
    sampeyan lagi menyejarah to?

  • Yah…
    Kayak sinetron dong ndoro 🙂

  • Roy Suryo berkata:

    lho kan memang saya menemukannya… menemukannya dari hasil kopi paste hardisk air putih… hihihi.. iya saya ngaku salah deh…. daripada diolok2 blogger…. 🙂

    *kaboor*

  • Aris berkata:

    lho kok lanjutannya dihapus dan ditunda segala ndoro? Padahal saya udah nyiapin komen seperti ini lho:

    Saya sependapat dengan paklik isnogud yang selalu good bahwa penulisan sejarah merupakan ikhtisar untuk tidak lupa. Tapi dalam penulisan sejarah juga sebenarnya tidak terlepas dari politik, yaitu ada yang “menguasai” dan yang “dikuasai”. Karenanya pula, tidak mengherankan kalau sejarah lebih didominasi oleh penguasa. Sedangkan mereka yang “dikuasai” hanya bisa menulis sejarah lewat tradisi lisan. Kedepan, sesuai dengan perkembangan IT (halah kayak pakar telematika aja), mungkin penulisan fakta-fakta sejarah bisa dilakukan para blogger dengan berbagai catatannya di dunia maya. Sehingga jangan heran pula kalau nanti akan banyak pakar telematika yang menemukan sesuatu di berbagai server, entah di Leiden, London atau Brussel atau mungkin di servernya ndoro.

    itu kalau sambungannya gak dirubah lho ndoro.

  • -tikabanget- berkata:

    dan untung pakdhe ni punya pakar kebangetan yang setiya sama pakdhe

  • Herman Saksono berkata:

    Sudah kehabisan trik supaya pembaca penasaran ya pakde?

  • bali travel berkata:

    Sejarah……sejarah semua sudah berlalu! sejarah milik kekuasaan dan penguasa saja,

  • mbakDos berkata:

    sejarah itu kan diciptakan, dibuat.
    ya berarti terserah si pembuat dong ya mau mbikin yang seperti apa 😉

  • Pogung177 berkata:

    …sejarah itu untuk dihapal itu kata buku sejarah lho Ndoro…

  • Petunjuk berkata:

    Sejarah itu penting. Blogger perlu menjadi dokumenter kejadian di sekeliling mereka. Kalau satu cerita bohong dibiarkan begitu saja di kemudian hari anak cucu kita akan menganggapnya sebagai kebenaran.

  • funkshit berkata:

    wah kok pake bersambung . ..
    Kejar tayang yack .
    masih sibuk mikirin skenario lanjutan nya

  • galih berkata:

    kalau paklik isnogud mau angkat bicara, pasti panjang lagi neh…. udah lama nggak denger kabar diajengnya mbah kakung… 🙂

  • bali dunk berkata:

    ini seperti debat duluan telur sama ayam….duluan mana yah? he..he…ga nyambung!

  • ciluukvanjava berkata:

    kata bung karno “jangan sekali-kali melupakan sejarah”.

    tapi anak baru gede kayak saya jadi bingung….lah sejarah-nya sudah nggak jelas mana dongeng mana sejarah yang bener-bener terjadi.

    buku sejarah untuk anak SD,SMP dan SMA aja nggak habis-habis nya di revisi…revisi sejarah?..
    aneh!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Sejarah Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: