Babad Pecas Ndahe

Agustus 9, 2007 § 26 Komentar

Apa beda antara sejarah dan babad? Bagaimana dengan dongeng dan mitos?

Paklik Isnogud manggut-manggut, serius, mendengar pertanyaan saya. Sebelum menjawab, ia menyesap sedikit kopi di cangkir, lalu melinting tembakau Marsbrand.

“Tentang sejarah, saya ingat kakek saya, Mas,” kata Paklik. “Kakek pernah bercerita bahwa Nabi Adam sebenarnya turun di Pulau Jawa. Lihatlah bagaimana silsilah yang tercantum dalam Babad Tanah Jawi, kata kakek.”

“Bagaimana silsilah dalam Babad itu, Paklik?”

“Dalam babad itu, disebutkan bahwa Nabi Adam punya anak bernama Sis. Sis ini beranak cucu hingga akhirnya lahir Batara Guru. Batara Guru beranak 5, di antaranya Batara Wisnu. Nah, di pulau Jawa ini Batara Wisnu jadi raja, bergelar Prabu Set …

Setelah saya dewasa, dan mempunyai sedikit pengetahuan, sukar juga saya memasukkan Batara Guru dalam silsilah Nabi Adam. Menurut guru sejarah, Batara Guru itu nama lain dari Syiwa, dewa penghancur agama Hindu. Dan, bagaimana pula Syiwa beranak Wisnu?

Tapi, Bapak saya melarang saya protes. ‘Sssst, jangan mendebat kakek. Dia sudah ngantuk. Baca saja sendiri Babad Tanah Jawi,’ kata Bapak saya, Mas.

Waktu saya baca kitab babad tersohor itu terbaca, saya tahu bahwa memang ada percampuran yang menakjubkan antara nama-nama yang lazim dalam sejarah dengan nama yang lazim dalam dongeng.

Jayabaya, misalnya, disebut masih keturunan Arjuna, juga Munding Sari, tokoh cerita Sunda itu. Dan, Raja Majapahit ternyata pernah kawin dengan seorang raksasa yang menjelma jadi puteri.”

“Jangan-jangan karena ada simbolisme dalam Babad itu, Paklik? Atau si penulis memang cuma mau bikin dongengan yang asyik. Atau ia tak tahu metodologi yang kini dikenal buat menulis sejarah?” tanya saya.

“Saya ndak tahu, Mas. Bagaimana pun buku riwayat pulau Jawa ‘dari Nabi Adam sampai tahun 1641’ itu mencerminkan sikap kebanyakan kita dalam memandang masa silam sendiri. Masa silam itu terasa begitu jauh — biar pun jaraknya tak sampai ribuan tahun. Dan, di kejauhan itu kita memandang diri kita nyaris tanpa geografi. Kita seakan-akan berada sendirian di planet bumi yang senyap.”

“Paklik, ngomong-ngomong, kenapa sih sejarah ditulis?” tanya saya.

“Sejarah, bagaimanapun juga, adalah suatu ikhtiar melawan lupa. Yang jarang kita sadari ialah bahwa sejarah adalah sebuah ikhtiar yang lemah, terbatas, dan tak lengkap.

Penulis sejarah — sebagaimana para wartawan — cenderung lebih memilih kejadian yang dramatis dan manusia yang tidak biasa. Pembaca sejarah umumnya — sebagaimana pembaca surat kabar — memang lebih menyukai hal seperti itu. Perang dan kejatuhan, kekejaman dan perselisihan, kebejatan dan kesalahan.

Orang mengatakan bahwa dengan demikian dengan mudah sejarah akan bercampur baur dengan dongeng, dan tokoh menjadi mitos. Napoleon bahkan menganggap sejarah hanya sebuah fabel yang disepakati bersama,” Paklik mengakhiri ceritanya.

Aha, tiba-tiba saya teringat, jangan-jangan heboh penemuan rekaman video lagu kebangsaan Indonesia Raya itu cuma mitos belaka, atau malah fabel?

Iklan

§ 26 Responses to Babad Pecas Ndahe

  • dewi berkata:

    bahkan kata seseorang, sejarah hanya dituliskan oleh pemenang. lalu sisanya kemana? mungkin beralih menjadi mitos, atau bisa jadi fabel. kebenaran yang terasing, mungkin.

  • mbakDos berkata:

    endingnya masih ke situ tho ternyata πŸ˜›

  • Mbilung berkata:

    fabel? binatangnya siapa? eh apa?

  • mariskova berkata:

    Sejarah…
    Setiap penulis blog saya yakini sedang menulis sejarah. Di masa depan, anak cucu kita akan mengacu ke blog ini (atau itu hehehe) bila bicara mengenai sejarah.

  • roi berkata:

    Ndoro, katanya sih sejarah itu ditulis oleh pemenang/penguasa, jadi bisa aja nggak obyektif. Apalagi pemenang/penguasa kan nggak ada yang kekal, selalu berganti-ganti.
    Jadi wajarlah ada beberapa versi sejarah…(tinggal kita anak/cucu yang bingung nyari fakta…)

  • bootdir berkata:

    Begitu baca sampai ending, ternyata maafmu hanya di bibir saja… πŸ™‚

    Sekarang polling saja, sebelum ‘beliau’ ngaku menemukan itu, berapa persen dari kita yang ingat kalo lagu itu punya 3 stanza? Lebih-lebih lagi berapa persen yang hafal dua stanza yang ‘tersembunyi’ itu?

    Mumpung ‘polling’ lagi populer hari ini… πŸ™‚

  • pitik berkata:

    @mbilung : binatangnya saya pakdhe…

  • firman firdaus berkata:

    fabel ndoro, hahaha…

  • andrias ekoyuono berkata:

    sudah saya bilang, mendingan nyari “kucing garong” versi 3 stanza aja

  • Hedi berkata:

    …dan fabel itu banyak penggemarnya πŸ˜€

  • Sejarah ditulis dalam bentuk catatan, babad ditulis dalam bentuk syair.

    Sejarah ditulis oleh pemenang, babad ditulis tidak harus oleh pemenang.

    Sejarah punya metodologi penulisan, babad lebih bebas tanpa terikat.

    Sejarah lebih mengutamakan fakta, babad lebih mengutamakan harmonisasi.

    Mungkin Om Roy ingin menulis sejarah tapi sekiranya babadlah yang ia tulis.

  • Herman Saksono berkata:

    ternyata… selama ini kita hidup di negara fabel ya ndoro? tulisannya menyentuh πŸ˜€

  • peyek berkata:

    roi pun ingin tercatat dalam sejarah atau fabel?

  • dewi berkata:

    *cari sb* πŸ˜€

    iyah ndoro, long time no see. kabarnya baek ajah ndoro, lagi sibuk meng-kuli. hm, menuliskan sejarah kali yah tepatnya? hehehe

  • lina berkata:

    kok adanya cuman babad tanah jawa ya ndoro? babad tanah-tanah yang lain mana ya? πŸ˜›

  • bee berkata:

    Saya taunya cuman soto babad, ndoro. Uenak tenan! πŸ˜€

  • Anang berkata:

    pilih bobot bibit bebet dan babadnya… πŸ˜€

  • Buku-buku sejarah untuk anak SD sekarang, masih produk orde baru gak ya?

  • Clerk berkata:

    Ndoro, boleh nggak membandingkan Babad Tanah Jawi dengan Bible atau Al Qur’an ? Saya kadang-kadang penasaran, kenapa agama yang memiliki beberapa kemiripan terutama di-kisah perjanjian lama adalah agama dari kawasan yang sama. Sedang yang lahir dari kawasan yang berbeda, seperti Hindu, Budha atau Khong Hu Cu memiliki kisah yang berbeda.

  • abeneno berkata:

    mboh ah aq rak reti mending nonton bokep wae

  • hendrawan SB berkata:

    Surat Ibrahim ayat 24, Kalimatan Toyyibah Ka-Sajaroh-tin Toyyibah, Kalimat yang baik bagaikan pohon (sejarah) yang baik, akarnya menghunjam bumi dan batang serta cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu menghasilkan buah-buahan …….yang berbuah pada tiap-tiap musim

  • mBah Bowo berkata:

    Pernah kudengar kisah Nabi SIS AS, bahwa Nabi Adam As berketurunan dampit hingga 40 pasang dan 2 anak yang tidak kembar dampit yaitu Nabi Sis AS dan Siti Hunun. dimulai ari Kisah Nabi Sis diceritakan hingga Nabi Isa AS. Dalam cerita tersebut Sampai pada akhirnya Murid sahabat Nabi Isa AS ingin menjadi Manusia Sebenar benarnya Manusia dan ingin berguru kepada Nabi Muhammas SAW dengan syarat harus menunggu selama kira – kira 500 tahun dengan menata manusia di tanah DOWO (kini disebut JAWA) dengan memerangi Penguasa Tanah DOWO yaitu keturunan Raja Jin Ijajil benama Kala (Betoro Kolo)karena perilaku manusia di Jawa Bertuhan Raja Jin melalui pengulunya Betoro Kolo. Maka Murid sahabat Nabi Isa AS berperang dengan Betoro Kolo selama kurang lebih 500 tahun hingga Lahir Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi yang menagajarkan menjadi manusia sebenar benar manusia yang berhak atas Surga Allah SWT……. kisah ini kapan – kapan disambung lagi jika ada komentar karena kisah ini memang panjang. Wasalam.

  • Raden berkata:

    ya emang yang banyak sejarah ntu banynak dari tanah jawah….
    sejarah tanah jawa memang lain dari pada yang lain dari yang lainnya … heheheheheeee……

  • mas nganten berkata:

    “rumangsaku do bahas panganan ” masalahe ono sing ngomong soto babad barang. Lha video ne pecas ndahe sing anyar kui endi to dab? malah mending bahas video iku wae to…:)

  • Maulana berkata:

    manusia harus senang belajar sejarah supaya mengetahui siapa dirinya, ngga usah bicara sejarah besar dulu….tapi lihat kedalam diri kita seberapa sering kita menyelami sejarah kecil yang ada dalam perjalanan hidup pribadi kita masing-masing, yang tahu diri kita …rakus ..munafik..sombong…dzolim….dusta….hanya ALLAH dan diri kita, dan kesadaran timbul dari hasil kita mengulik sejarah kecil dalam perjalanan hidup kita…selamat menikmati sejarah.

  • Steven Torigian berkata:

    Good post. I learn something more challenging on different blogs everyday. It can always be stimulating to learn content from other writers and practice somewhat something from their store. I’d favor to use some with the content on my weblog whether you don’t mind. Natually I’ll offer you a hyperlink in your internet blog. Thanks for sharing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Babad Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: