Pramuka Pecas Ndahe

Agustus 14, 2007 § 16 Komentar

Secarik kenangan tiba-tiba mampir di hadapan saya begitu seorang penyiar radio mengirim kabar tadi pagi. Katanya, hari ini ada peringatan Hari Pramuka Nasional ke-46 dan ada perayaan segala di Taman Gajah Mada, Cibubur, Jakarta Timur. Presiden bahkan ikut hadir dan berpidato di acara keriaan praja muda karana itu.

Pramuka? Aha, sudah lama betul rasanya saya tak mendengar kata itu. Entah kapan saya terakhir mengikuti kabar tentang aktivitas organisasi berlambang tunas kelapa itu. Tapi, saya yakin Paklik Isnogud punya cerita asyik tentang dunia kepanduan di zamannya dulu. Saya jadi pengen tahu, apa komentarnya tentang pramuka.

Paklik terkekeh ketika saya datang dan memintanya bercerita soal kepanduan ketika usianya masih muda. “Sebetulnya saya malu loh, Mas. Soalnya, ternyata saya tak pernah melakukan apa-apa untuk kegiatan kepramukaan selama bertahun-tahun. Sebagai pramuka, hal ini memang cukup memalukan. Sampean tahu sebabnya?”

Saya menggeleng.

Paklik meneruskan ceritanya. “Dalam kegiatan pramuka itu tak mengenal bekas pramuka. Sekali pramuka, tetap pramuka. Karena itu, meski tanpa kalung setangan leher pun, sebetulnya saya tetap pramuka.

Saya bangga jadi pramuka. Bukan karena topinya, bukan karena tongkatnya. Seragam pramuka saya yang pertama dahulu terbuat dari wol. Itu karena ayah saya dulu juga pandu – Hizbul Wathon.

Katanya, wol paling baik untuk seragam pramuka. Tebal, sempurna sebagai pelindung tubuh. Kalau basah cepat kering. Hangat bila cuaca dingin. Dan, bila cuaca panas … ya tetap panas. Pengetahuan tentang hal itu membuat saya gusar bila melihat anak saya memakai baju seragam pramuka dari tetoron yang tipis.

Saya tetap bangga jadi pramuka. Untuk memperoleh tanda kecakapan khusus memasak, waktu itu saya diuji memasak nasi dalam tempurung kelapa, dengan daging kelapanya masih utuh di dalam. Kepandaian memasak itu masih berguna hingga kini. Terutama ketika pembantu pulang berlebaran.

Tentu saja saya menjadi gusar ketika suatu saat keponakan saya yang baru naik dari siaga ke penggalang minta dijahitkan tanda kecakapan umum penggolong terap — pandu kelas satu — pada baju seragamnya. ‘Disuruh Pak Guru,’ katanya ngotot.

Itulah, pembinanya adalah pak guru. Tanpa ujian melalui tingkat-tingkat yang lebih rendah, keponakan saya langsung boleh memakai tanda kecakapan umum kelas satu.

Bagaimana ia akan menghargai tanda kecakapan itu bila ia tak berjuang untuk memperolehnya?

Suatu hari, ketika menjemput dia, saya bertemu dengan pak guru yang merangkap pembina pramuka itu. Pecinya dipakai melintang, sebagaimana laiknya tukang sate madura. Setangan lehernya tergerai lepas tanpa pengikat.

Tetapi saya ‘kan tak bisa menyalahkan pembina pramuka yang seperti dia? Dahulu pak guru itu pernah mengundang saya untuk ikut membina pramuka di gugus depan sekolah itu. Saya menolaknya karena tak punya waktu.

Dan, ini persoalan umum. Bayangkan! Saya pernah ikut Jambore Dunia dua kali, dan sekarang tak punya motivasi untuk membina pramuka. Jadi, salah siapa kalau pramuka jadi begitu?

Ya, salah kami-kami inilah. Merasa tetap pramuka, sekalipun tanpa setangan leher, tetapi tak melakukan apa-apa untuk gerakan pendidikan kepanduan ini,” kata Paklik sambil membuang pandangan keluar.

Saya diam, merasa bisa memahami Paklik. Padahal entah apa yang sebetulnya dirasakannya. Sayup-sayup saya seperti mendengar bocah-bocah di belakang pabrik berteriak nyaring, “Salam pramuka!”

Iklan

§ 16 Responses to Pramuka Pecas Ndahe

  • andrias ekoyuono berkata:

    iya, tadi macet sebelum pintu tol cibubur, rame tuh di hari pramuka

  • yati berkata:

    pramuka itu….seperti saya…baik hati, tidak sombong dan suka menolong… xixixi…

  • Street Marketer berkata:

    Tadi di Tomang, Gelung Baru Utara… ada karnaval menyambut 17 Agustus… ad yg pake baju pramuka ada yg pake merah putih…. hmmm jadi inget waktu di “metal jacket camp” pertakam kali mengenal cinta… wakakawaakkak 🙂

    gw rasa paklik Isnogud abis cerita bilang “it’s very good” tu…

  • Aris berkata:

    Pramuka sekarang ini hanya seragam saja, isinya tidak jelas. Dulu masih ada tokoh pramuka seperti pak Mashudi yang bener2 membina pramuka. Mungkin saat ini orang2 seperti Paklin Isnogud harus juga turun tangan membina pramuka, membina anak2 muda bangsa.

    halah baca komennya gak usah sok serius ndoro. sekarang mari kita tepuk pramuka saja prok prok prok prok prok prok

  • zam berkata:

    *baca komen nomer satu*

    prok prok prok
    prok prok prok

    prok prok prok prok prok pork prok..

  • kw berkata:

    pramuka mengingatkanku pada pencarian tanda jejak. aku menjadi seperti anjing yang harus mengamati sesuatu yang “mencurigakan”, tak biasa.

    dan ini menguntungkan ternyata. aku lebih bisa mengenali copet di bis kota dalam waktu 2 detik!

  • Mr. Strategy berkata:

    Ditengah dunia yang carut marut, menyegarkan kembali spirit Pramuka di kalangan remaja kita barangkali merupakan gagasan yang rancak.

    Namun, siapa lagi yang mengenal sosok Baden Powell, ketika remaja kita lebih asyik dengan MySpace, dengan YouTube, dengan Ragnarok….

    Saya lalu punya impian, mestinya ada seorang blogger yang mau membikin blog khusus tentang Pramuka dengan segenap dinamikanya. Nama domainnya mungkin ini : http://www.janganbiarkanpramukamati.net

  • ciluukvanjava berkata:

    bagi yang pernah menjadi seorang Pramuka, ingatlah bahwa pramuka pernah berjanji mematuhi Dasa Dharma Pramuka!

  • ndoro nangtjik berkata:

    ah, kalo aku malah jadi teringat “lagu kebangsaan” kaum reformis menjelang Soeharto tumbang:

    angkatan bersenjata indonesia
    tidak berguna
    bubarkan saja
    ganti pramuka
    ya sama saja…dst, etc, lsp.

    (mau tak lanjutin, aku wedi, jangan-jangan ndoro kakung temennya pollycarpus yang lagi nyamar jadi pengelola blog, hiii… cas ndahe tenan)

  • putra_pangeran berkata:

    saya menyukai pramuka…. juga menyukai angkatan bersenjata republik indonesia para ndoro….

  • Domba Garut! berkata:

    Waduh, sebuah pertanyaan telak yang sama – belum bisa saya jawab – saya juga udah lama sekali nggak punya banyak kontribusi buat pramuka kita. 🙂

    Hopefully someday…

  • lita berkata:

    hehe…lha iya, ndoro..kalau ngga kita sendiri, siapa lagi yg mau jadi pembina pramuka…

    saya dan swami mungkin termasuk 2 dari sedikit orang2 nekat yang bikin pramuka sendiri di lingkungan rumah..

    mampir aja ke http://www.pramukakita.multiply.com
    ( tetap memandu meskipun belum berhasil dpt no gudep..:D)

    tks utk tulisannya ya, ndoro kakung.

  • Pramukanet berkata:

    Selamat ber Ulang Tahun ke 46, di usia itu harus makin matang. Mari kita bangun generasi ini menjadi sosok dan watak yang tangguh, berpudi pekerti luhur dan memiliki jiwa bela negara.
    Ingin banyak tahu perkembangan dan belajar pramuka silahkan Klik ke http://www.pramukanet.org. Media Netnya Pramuka.
    Salam Pramuka.

  • chiw berkata:

    salam Pramuka!
    saya juga Pramuka Ndoro…

    ada baiknya sekali kali mampir ke sini

    Makasi Ndoro…

  • niko avianto berkata:

    pramuka itu asik bisa nambah temen trutama menambah pengalaman di dunia luar terutama kita diajak belajar untuk menghadapi hidup yang penuh dengan asalh yang akan berdatangn dengan sendirinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Pramuka Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: