Hizbut Pecas Ndahe

Agustus 13, 2007 § 33 Komentar

Minggu kemarin, Hizbut Thahir Indonesia menggelar Konferensi Khilafah Internasional di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.

Sore harinya, ketika kebetulan melintas di kawasan dalam Senayan, saya terjebak di tengah kemacetan peserta konferensi itu. Tapi, bukan kemacetan itu yang membuat hati saya bergetar melainkan apa yang bergemuruh di acara itu.

Pagi ini, saya baca di koran-koran, Hizbut Thahir ternyata menyatakan menolak demokrasi, tapi setuju terhadap pluralisme. Mereka menolak demokrasi karena ideologi ini berprinsip kedaulatan di tangan rakyat, padahal mereka menganggap kedaulatan itu milik Allah.

Mereka juga menuding bahwa demokrasilah penyebab terpuruknya Indonesia saat ini. “What has democracy brought us? Democracy only brings us secular policies, like what’s happening nowdays,” kata Ismail Yusanto, juru bicara Hizbut Thahir, seperti dikutip Jakarta Post.

Demokrasi?

Ah, tiba-tiba saya ingat Paklik Isnogud. Dia pernah bercerita tentang demokrasi. Menjelang hari kemerdekaan 17 Agustus, mungkin asyik juga mendengar cerita Paklik tentang Indonesia dan demokrasi …

“Berabad-abad yang lalu memang ada seorang yang cemas terhadap demokrasi, Mas. Namanya Sokrates. Hidup di abad ke-5 Sebelum Masehi, di Kota Athena yang waktu itu mengizinkan orang bicara bebas, Sokrates justru melihat bencana apa yang akan terjadi ketika setiap orang punya cukup kebebasan.

Demokrasi memberikan hak kepada tiap orang untuk bicara dan berbuat sekehendak hatinya. Maka, rezim semacam ini tak mengutamakan pengendalian diri. Dalam demokrasi, kata Sokrates, orang bebas menampik untuk diperintah atau memerintah.

Segala aturan terbalik: si bapak bertingkah seakan-akan dia si anak, si guru takut murid, dan si murid tak mengacuhkan si guru. ‘Bahkan keledai dan kuda pun tak mau minggir bila ketemu manusia.’

Sudah tentu Sokrates melebih-lebihkan “kegilaan” demokrasi: ia mengucapkan semua itu di depan Adeimentos yang tidak suka humor. Sebab, Sokrates toh tahu bahwa demokrasi di Athena punya aturannya sendiri.

Bukti nyata ialah bahwa demokrasi ini juga yang menangkap Sokrates dan menghukumnya mati, dengan tuduhan, seperti dikemukakan dalam Pengadilan Sokrates, I.F. Stone, filosof itu terlibat dengan orang-orang yang mengancam demokrasi.

Tetapi, di balik cemoohnya yang berlebihan, Sokrates memang tetap lebih menghargai aristokrasi ketimbang demokrasi. Dalam pengertian Sokrates, aristokrasi adalah rezim yang diarahkan ke kebaikan dan kebajikan. Yang berkuasa bukan sembarang orang, melainkan para filosof.

Di bawah kekuasaan mereka ini, (tak jelas benar bagaimana mereka dapat sampai berkuasa, sebab ini cuma teori, bukan sejarah) kebebasan tak diumbar seperti nafsu.

Rasa cemas Sokrates, rasa gamang melihat kebebasan orang banyak, memang tak mudah diabaikan. Juga berabad-abad kemudian.

“Tapi Paklik, apa arti kebebasan tanpa kearifan dan tanpa kebajikan?” saya menyela cerita Paklik.

“Pertanyaan sampean ini mirip sebuah gugatan yang klasik. Gugatan itulah yang tersirat dalam kritik Sokrates terhadap demokrasi, dan kembali tercetus lebih dari 200 tahun yang lalu, setelah Revolusi Prancis meletus, dengan teriak “kebebasan, persamaan, persaudaraan”.

Edmund Burke, pemikir politik dan bekas anggota parlemen Inggris, adalah orang yang berbicara atas nama tradisi Inggris. Burke, yang menganggap bahwa esensi moralitas bukanlah memilih, melainkan mengendalikan diri, ogah menyaksikan apa yang terjadi di Prancis itu.

Buat Burke, demokrasi yang sempurna adalah ‘hal yang paling memalukan di dunia’. Rakyat tak bisa memerintah. Rakyat hanya elemen pasif, bukan ‘orang-orang yang aktif dalam negara’.

Tapi, apa alternatifnya, Mas? Aristokrasi?

Siapa pun setuju bahwa sebuah negeri harus diperintah oleh sejumlah orang yang terlatih dan bijaksana. Saya juga setuju bahwa berbicara atas nama suara rakyat terkadang melahirkan bentuk-bentuk ‘populisme’ yang mengerikan, misalnya terbitnya semangat mengganyang minoritas Yahudi di Jerman Nazi, mengganyang orang hitam di AS bagian selatan, dan menggusur keturunan Turki di Bulgaria kini.

Bagaimanapun, orang pada akhirnya hanya butuh suatu sistem di mana tak ada orang yang dijatuhi hukuman hanya karena berbeda pendapat, di mana tak ada orang yang kehilangan tanah dan rumah hanya karena yang kuat dan kuasa menghendaki.

Kalau kemudian kita sebut sistem macam itu dengan nama ‘demokrasi’, apa sampean ya masih cemas, Mas? Atau, misalnya, sistem kita ganti saja namanya menjadi sistem ‘blehgedulwelbleh’, ‘wathathitha’, ‘mambujengkol’, atau apa sajalah terserah sampean, apa sampean ya masih cemas, Mas?”

Saya diam saja karena memang ndak bisa menjawab pertanyaan terakhir Paklik. Sampean bisa, Ki Sanak?

Iklan

§ 33 Responses to Hizbut Pecas Ndahe

  • yati berkata:

    ah….berat omongannya 😦
    jadi demokrasi apa yang cocok?

  • Street Marketer berkata:

    Wah… artikel ini sakpore tenan.. at least membuka wacana bahwa demokrasi bukan satu-satunya sistem yg terbaik. Dan menurut saya pribadi lek’ aku lebih suka hidup di iklim otoriter… (yo mirip2 bek simbah harto biyen) yg penting pemimpinnya jujur, moralnya bagus, aspiratif gak korup aja…

    Yo tapi serba bingung si Lek’… absolut power tends to be corrupt and a good guy is almost a bad guy. Tapi saya tetep gak percaya demokrasi bikin makmur dan sejahtera… America did slavery, Ingris: koloniliasme dan imperlaisme…

    bahkan China dan Singapura saja yg pendapatan per kpita sudah diatas $7000 per tahun blm mau berdemokrasi eh lakok Indonesia pendapatan per kapita masih dibawah $7000 udah demokrasi alhasil deomkrasi hanya menjadi legitimasi berbuat anarki, agitasi, money politik dan provokasi.

  • kw berkata:

    ga cemas ndoro. apapun sistemnya, yang penting saya masih bisa ngeblog. sederhana bukan? 🙂

  • andrias ekoyuono berkata:

    itulah yang kadang bikin pusing.
    Bergantung pada sistem demokrasi, nantinya bisa aja muncul aturan2 aneh asal disetujui oleh mayoritas. Tetapi kalau bergantung orang seperti aristokrasi, maka orang itu bisa berubah.

    makanya sistem apapun oke asal semuanya kembali ke hati nurani, yang susah adalah menemukan hati nurani ini 😀

  • mbakDos berkata:

    akan sama ceritanya dengan… saya ndak suka baju warna putih, karena putih itu cepet kotor, ndak bisa dimatching sama macem2 warna lain, pucat, dst dst…

    saya ndak setuju sama demokrasi, karena membuat orang jadi ndak bertanggung jawab, semua mau menang sendiri, ndak ada aturan, dst dst…

    jadi yaa… tinggal bagaimana \demokrasi itu harus diartikan, bukankah?! 😉

  • didats berkata:

    menurutku ya orang-orangnya aja kok ndoro.
    emang mental bangsa kita yg perlu diperbaiki…

    masalah sistemnya seperti apa,
    asalkan dijalankan dengan benar, jujur, dan mementingkan kepentingan semua golongan (baca: rakyat) semua pasti baik baik aja kok..

    apa sih yang kita ga punya?
    kekayaan alam ada, sumber daya manusia? banyak orang indonesia yang hebat. walaupun memang banyak juga yang gag hebat. tapi banyaknya orang indonesia yg hebat berarti otak orang indo itu memang bisa diasah. cuma masalah biaya, jadinya pendidikan terbengkalai..

    hti?
    halah… jadi makin runyam aja ini negara. agama jadi partai, partai jadi agama.

    bawa-bawa nama agama ya harusnya orangnya ikut beragama. kalo ndak? yaaaa memperburuk citra agama itu!

    *kesel*

  • emhade berkata:

    Lhadalah la wong jeneng wae kok diprotes. Gini aja, piye kalo kursi kita sepakti diganti dengan sebutan meja? Sing penting kan fungsinipun to Mas Yusanto, bukan namanya. Mau demokrasi kek, aristokrasi, kesultanan, atawa Imamah, Khilafah monggo… kalo nggak rahmatan lil’alamin rak nggih sami mawon.

  • daustralala berkata:

    intinya pengendalian diri…

  • sapto berkata:

    Nyatanya bangsa ini emang belum siap berdemokrasi koq,
    kampanye pemilu yang katanya salah satu wujud pesta demokrasi
    malah membuat orang menabrak semua aturan, menuh2in jalanan lah, knalpot bolong lah, ga pake helm-lah.
    Yang ditingkat atas, sidang DPR/MPR sampe berantem segala.

    Jujur aja saya juga lebih seneng pas jaman-nya mbah Harto,
    mungkin emang saat itu belum tau apa2
    (sekarang juga msh ga tau apa2),
    taunya hidup ayem,tentrem

    Kalo belum siap demokrasi ya mending otoriter aja,
    cuma masalahe sapa yang mampu jadi pemimpinnya

  • kalengkrupuk berkata:

    Menurut saya, ndoro, intinya adalah pemerintah negara kita tercinta ini belum begitu kuat. Kuat di sini bukan dalam artian power sesungguhnya lho, ndoro, tapi kuat dalam konteks bisa menjalankan good governance dengan baik. Jadi sebenarnya, tidak masalah apakah itu demokrasi atau otokrasi. Pokoknya asalkan rakyat bisa makan, mereka mungkin gak akan perduli kok ama sistem politik. Lagian sistem sosial kita ini kan hibrida, ndoro. Comot sana, comot sini; dari sistem masyarakat agraris langsung digenjot melonjak ke tinggal landas… Lha ya kelojotan to ya.

    Jadi, ndoro, menurut saya tidak ada yang salah dengan demokrasi. Demokrasi bukan tujuan, tapi adalah sarana untuk mencapai masyarakat adil dan makmur sesuai dengan pola dasar pembangunan nasional…(halah! isih ono opo ora yo?)

    Ah, mbuh lah, ndoro…. ndoro ki marai mumet…. pecas ndahe tenan lho kiyi….

  • jalansutera berkata:

    halah… ngomong apa sih ini. aku gak mudheng. demokrasi atau democrazy atau demo dikerasi?

  • jardiq berkata:

    tinggal bagaimana kita menjalaninya aja.

  • adipati kademangan berkata:

    demo …
    demo masak, demo gitar, demo desain, demo krasi, demo kreasi

  • Pipit berkata:

    Salah satu pertanyaan yang perlu diajukan adalah bagaimana kita bisa memilih the philosopher kings. Philosopher lainnya, Plato, misalnya, mendukung aristokrasi berdasarkan ide the philosopher kings. Tapi, tidak berarti mereka yang memiliki kekuasaan pasti dan akan menjadi seorang yang bijak. Demokrasi paling tidak bisa memberikan kemungkinan untuk mengontol para penguasa yang semena-mena.

    Revolusi Perancis adalah revolusi yang mendukung popular sovereignity, melawan sebuah ide bahwa mereka yang berkuasa patus berkuasa bukan karena didukung oleh yang diperintah, tapi karena mereka terlahir sebagai kelas “pemimpin” atau sebagai mereka yang dipilih oleh Tuhan (Note: Diskursi tentang Raja sebagai manusia pilihan Tuhan banyak digunakan oleh aristokrasi Eropa pada jaman dahulu kala. Sayang pengetahuan saya tentang sejarah Eropa cukup dangkal, jadi tidak bisa memberikan referensi yang bagus). Bagaimana kita bisa yakin bahwa mereka yang terlahir di dalam keluarga pemimpin akan menjadi pemimpin yang baik? Keambrukan ekonomi dan sosial pada beberapa tahun menjelang revolusi Perancis yang mendorong suatu kritik akan pemimpin mereka.

    Satu yang perlu diperhatikan, diskursi “atas nama rakyat” yang paman sebutkan di atas harus diteliti dengan seksama. Apakah diskursi tersebut sebuah representasi nyata, atau cuma bungkus motivasi kelas elit (atau pemimpin) yang MENG-atasnamakan rakyat untuk mendapatkan justifikasi bagi kebijakan mereka? Holocaust, aparthaide, dan berbagai kekejaman diskriminasi lainnya perlu ditelaah lebih dalam sebelum diyakini sebagai sebuah bentuk kebijakan populis yang paman bilang. Analisis sejarah dan politik akan peristiwa itu akan memberikan pemahaman mendalam, dan setahu saya peristiwa tanpa kemanusiaan tersebut bukanlah hasil dari sebuah demokrasi (maupun untuk cita-cita demokrasi).

    Maaf kalau terlalu panjang berkomentar, paman. Tapi saya terus terang tidak mendukung penolakan sebuah demokrasi. Penolakan akan sebuah demokrasi terlalu sering berbuah diskriminasi.

  • Pipit berkata:

    Maaf, link website halaman saya yang saya berikan di komentar atas tersebut salah ketik.

  • pandito durno berkata:

    hasil demokrasi indonesia :
    g tw aturan,naik kreta di atap,g bli krcis,ugal2an,corat-coret,korupsi,moneypolitics,iri,dengki,srei,mw menang sndiri,hobi cr istri…..
    khilafah di arab :
    aniaya PRT,perkosa PRT,nyabuli PRT,byk istri,ska maling,byk penipu,ska cr muka,dst,dsb…
    emang disana dah pd kpok g maling?pdhl dpotong!!
    silahkan berpikir lg u/ jdkn NKRI sbg neg khilafah!!
    pa cocok dg bud bangsa kita?jgn asal ngawur nyangkok pemerintahan dr neg islam arab.pa mereka itu neg islam?
    (maaf,ni bkn bwt ndoro lho,tp bwt HTIers)
    saya jga org islam lho ndoro…

  • Alderina berkata:

    That’s why this blog titled “pecas ndahe” hehehehe… Salam kenal wahai ndoro

  • Domba Garut! berkata:

    Memang judul yang pas adalah Demokrasi Pancasila, definisinya gimana? nilai demokrasi yang menganut faham Pancasila dan Wawasan Nusantara.. bukan demokrasi kebablasan macam yang terjadi sekarang..

    Semoga dengan banyaknya orang pintar yang pinter, kita bisa balik berjaya kembali.. bukan sebaliknya..

    C’mon guys! Malu sama tetangga sebelah, jaga kelakuan..

  • Petunjuk berkata:

    Kulo nuwuuun.

    Demokrasi di Indonesia saat ini memang hasilnya ndak selalu bisa dibanggakan.

    Tapi kalau disuruh balik ke jamannya si Embah, ya jelas saya ndak mau. Memang dulu ekonomi kita lebih stabil, tapi ingat! Dulu kita hidup serba ketakutan. Takut nyenggol tentara, takut nyenggol anak-anaknya si Embah, takut ngomong macem2, dan PNS takut mendukung selain Golkar.

    Dulu selalu berlaku “atas petunjuk Bapak Presiden”. Bleh! Emoh mbali maneh!

  • )'.'( berkata:

    my courage’s built on stage
    my rage’s fucked up by the age
    this democrazy sent me back to a misery I’m happy to be
    paklik,
    I am an angry word trapped in angry world

  • dewi berkata:

    saya suka kata2 yang di garis miringkan itu, ndoro. kita hanya perlu system seperti itu. persamaan, sehingga tidak ada unsur saling menguasai. yah, bisa dikatakan, saya lebih memilih sistem anti-otoritarian. dalam bentuk apapun. 🙂

  • Andry berkata:

    Berarti orang hizbut kalo ngeblog pasti ga pake kotak komentar.

  • AmruL berkata:

    Tunggu sayah jadi presiden yah….
    Hihoihohihohihoio…..

  • ciluukvanjava berkata:

    sepakat dengan kekhawatir-an socrates…
    demokrasi kita sudah berlebihan dan tidak terkontrol, kalau dikatakan kita sedang belajar berdemokrasi…sampai kapan belajarnya, ya kalau mau belajar…lha kalo ndak?

    mungkin yang perlu yo demokrasi terpimpin, ada sopan-santun nya, nggak semaunya sendiri..

    bayangkan berapa juta rakyat indonesia, berapa juta juga kemauan-nya, keinginan-nya…

    US yg katanya negara paling demokrasi aja ada aturan-nya.
    indonesia?..

  • ciluukvanjava berkata:

    hancurkan demokrasi tegakkan khilafah August 15th, 2007 1:26 pm

    demokrasi=hukum dari,untuk dan oleh manusia
    padahal yang berhak membuat hukum=Allah
    (inil hukmi ilalillah).
    jadi, demokrasi=haram

    hancurkan demokrasi, tegakkan khilafah
    Allahu Akbar
    —>

    berarti KUHP dan UUD haram dong mas?…
    #mode confused ON

  • Jony X berkata:

    Demokrasi……demokrasi jadi bingung karena suara rakyat sekarang juga di rekayasa, kalo boleh milih saya mending milih jaman majapahit aja, mari berkaca dari kearifan jaman dulu….

  • putra_pangeran berkata:

    yang penting itu integritas ndoro…mo sistem cattenacio mo total football (kok mlayu ng bal2an piye to iki :)) )

  • Beta Uliansyah berkata:

    Wah saya jadi makin paham quote yang saya baca di Majalah Tempo Edisi Khusus Demokrasi Liberal, dari Thomas Jefferson:

    “Demokrasi hanyalah aturan kerumunan, dimana pihak yang 51% bisa mengatur 49% lainnya”.

  • atmariani berkata:

    wah… sing penting kui iso dahar, urip aman, sekolah ora mbayar… ya toh Lek?

    urip kui mung mampir ngimbe, puniku jarene bapakku, lan mbah kakungku ….

    demokrasi saiki buktine anduwene wong sing duwe kekuasaan kok….

    lha, wong cilik koyok aku, yo opo???

    pluralisme lan pluralitas kui bedone opo Lek???

    bedo toh Lek???

  • atmariani berkata:

    eh, kalepat… urip kui mung mampir ngombe, dudu mampir ngimbe….. kalepat nulis Lek…

  • togeyangsuci berkata:

    wah koq orang yang menolak demokrasi pake cara demokrasi!
    sama ajah menjilat ludah sendiri dunks!!!
    Ah…! kata2 sakti waktu masa2 reformasi.
    Ya udah sih! kalo mo membenahi negara, ga usah dari sistemnya (inilah, itulah) dari diri sendiri ajah dulu. “lo mo enak yah pake cara lo, tapi bertanggung jawab” (masih dalam batas kewajaran khalayak ramai).

  • Suryadi SM, SE, MM berkata:

    hee,hee pak lik isnogud termasuk seorang arkeolog , masuk mesium alias wong kuno, pandangannya hidup dijaman otoktritas, coba sampean pikir, jika sampean hidup dijaman kerajaan apa sampean bisa menyampaikan pendapat seperti ini, apalagi pakai internet dan komputer, wong jalan saja harus membungkung, pakai cium keris segala. and so jika pak lik isnogud hidup dijaman aristoteles pasti memandang demokrasi sebagai semangat baru dan impian masa depan.

    demokrasi membawa banyak perubahan dan perbaikan, coba bayangkan kita bisa menikmati internet, televisi bahkan apel washington dan bisa minum susu tanpa batas asal punya duit semua bisa!.

    dijaman kerajaan mau beli apel washington tidak bisa walau punya banyak duit banyak karena pemerintahnya ribut sama amerika.

    tapi dengan demokrasi, walaupun pemerintahnya bersiteru kita masih bisa merasakan banyak manfaatnya, campur tangan pemerintah di bidang ekonomi tidak sebegitu ketat di jaman otokrasi, disaat pemerintah bersitegang dengan amerika kita masih bisa menikmati ayam mcdonal dan minum coca-cola.

    jadi so wessss, pandang kedepan yang baiknya saja dan nikmati kebaikannya, serta gantungkan harapan setinggi langit pada demokrasi !

    hidup demokrasi!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Hizbut Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: