Pasha Pecas Ndahe

Agustus 16, 2007 § 15 Komentar

Seandainya Indonesia itu sebuah album foto, halamannya tentu sudah berlembar-lembar. Tiap lembar halaman berisi potret-potret tentang manusia dan peristiwa yang akan terus bertambah seiring berjalannya waktu.

Sebuah album adalah sebuah asumsi yang tersusun di sebuah buku. Kertasnya awet. Umumnya berwarna hitam: suatu teknik untuk membuat gambar tua yang ditempel tetap terang dan halaman itu tak cepat kotor.

Album adalah sebuah asumsi bahwa suatu momen akan bersambung ke momen lain, suatu babak ke babak lain, bahwa hidup kita — dan kemampuan kita untuk menikmatinya — bisa bertahan dalam waktu. Dengan cara yang bersahaja.

Di sana ada percikan kenangan, yang agak cerai berai, tapi dalam arti tertentu tetap bersambungan. Yang terpenting di sini bukanlah nostalgia.

Yang terpenting ialah sebuah sikap, yang secara sadar atau tak sadar meletakkan semua trauma, tragedi dan peristiwa-peristiwa hidup yang ganas di dalam tanda kurung.

Bahkan ketika kita melihat kembali potret pemandian jenazah, atau pemakaman, atau potret seorang pejuang dalam penjara atau buangan, kepahitan itu seperti sedang berada di sebuah laci lain.

Di halaman-halaman yang menyimpan kenangan yang umumnya datar dan biasa-biasa saja itu ada sebuah cerita besar, meskipun tak mengejutkan. Tidakkah ini kisah sebuah masyarakat yang terus menerus berpose, mengharapkan kelanggengan?

Gosip tentang perselingkuhan istri Pasha, vokalis Ungu itu, mungkin juga sebuah pose yang biasa-biasa. Mungkin juga ada cerita besar di baliknya. Kita tak pernah tahu. Yang jelas, ada seseorang yang sudah melapor ke polisi karena mengaku jadi korban bogem mentah Pasha.

Gosip? Skandal? Mungkin memang sebuah pose yang biasa. Pasha bahkan mungkin tanpa sadar telah menujum nasibnya ketika menyanyikan lagu Demi Waktu itu. Tapi, sekarang mungkin giliran istrinya yang mendendangkannya.

maafkan aku menduakan cintamu
berat rasa hatiku tinggalkan dirinya
dan demi waktu yang bergulir di sampingmu
maafkanlah diriku sepenuh hatimu
seandainya bila ku bisa memilih

kalau saja waktu itu ku tak jumpa dirinya
mungkin semua tak kan seperti ini
dirimu dan dirinya kini ada di hatiku …

Apa boleh buat, suka ndak suka, ini juga bagian dari Indonesia sehari-hari. Sebuah pose dari album bernama Indonesia yang besok merayakan ulang tahun ke-62. Merdeka!

Iklan

§ 15 Responses to Pasha Pecas Ndahe

  • ndoro nangtjik berkata:

    mungkin benar, pasha menujum nasibnya saat bawain ‘demi waktu’. makanya, usai peluncuran album baru ungu semalem, pasha langsung kontak kangen band. minta izin bawain ‘selingkuh’ versi 1 stanza. begini penggal liriknya:

    istriku sayangilah aku
    seperti ku menyayangimu
    istriku cintailah aku
    seperti aku cinta kamu

    tapi kamu kok selingkuh
    tapi kamu kok selingkuh

    istriku mengertilah aku
    seperti aku mengerti kamu
    dan istriku pahamilah aku
    seperti ku memahamimu

    lirike ncen wagu, ndak mutu, tapi — betul kata ndoro –inilah indonesia yang jarig 62-nya ditandai dg gegeran soal lagu. kemarin indonesia raya, sekarang pasha. merdeka!

  • mathematicse berkata:

    Gossip lagi, gossip lagi…

    Eh, masalah Indonesia Raya bagaimana Ndoro? Gemana kabar Roy? Hehehe.. 😀

  • feRi berkata:

    ndoro mbok lagunya yg agak baruan gitu lho..yg ini aja…

    kumencintaimu lebih dari apapun
    meskipun tiada satu orang pun yang tau
    kumencintaimu sedalam-dalam hatiku
    meskipun engkau hanya kekasih gelapku

    hehhheh.. 😀

  • pinkina berkata:

    huehuehue…….update gosip pisan toh Ndoro 😀

  • Street Marketer berkata:

    62 tahun? masih terlalu muda untuk dikatakan tua, dan terlalu tua pula jika disebut remaja. Video klip bendera – coklat telah selesai dibuat dan kabarnya menelan dana yg sangat besar, instruksi dtng langsung dari Mas SBY. konon lagu ini untuk men-stimulate rasa nasionalisme dan membangkitkan heroik merah-putih…

    62 tahun telah merdeka… jutaan album poto telah tertumpuk… nasionalisme masih diukur dr jendela “bambu runcing” –heroikisme merah putih, hapal lagu Indonesia raya, upacara bendera, dan “sakral-nya tesk proklamasi”

    Ini jamanya “global warning” pakde, ini jamannya “kaum marjinal terhimpit tembok “modernisasi-kapitalis”… nasionalisme adl ketika anda dan kita tdk korupsi meski kesempatan didepan mata, nasionalisme adl ketika hutan tak lagi gundul, ketika kang sarmijo bernafas lega anaknya bisa sekolah.

    Merdeka Bangsaku!

  • andrias ekoyuono berkata:

    jangan2 gosipnya dibikin, karena Ungu lagi ngeluncurin album baru dengan single pertama “Kekasih Gelapku” yang liriknya seperti kata feRi diatas

  • rd Limosin berkata:

    oh, ngomongi pasha ungu toh

    //OON mode: ON

  • Aris berkata:

    wah lagi itu cocok untuk mbakyu ndoro. gimana kabarnya diajeng

  • yati berkata:

    hihihi….gosiper :p

  • upikabu berkata:

    weh jadi juga posting si pasha yang tadi malem ini. Yang jadi bikin tulisna 30 taun meninggalnya Elvis malah kompas ndoro 🙂

  • oon berkata:

    ndoro…bukannya kalo album itu tempat menempel gambar² yang bagus² saja? kalo gambar² jelek, buram, posenye mrenges ato merem gak bakal dipajang dialbum kan?

  • Aryo Sanjaya berkata:

    Wah sayang, padahal saya ngefans banget sama Pasha. Kasiyan. Entah versi mana yang benar.

    Merdeka! *lho*

  • Hedi berkata:

    Andai Indonesia adalah wanita, maka dia baru akil balik sehingga masih banyak darah yang keluar. 😦

  • Pogung177 berkata:

    wah cocok dadi waryawan infotaimen wae Kang..

  • meza berkata:

    menurut saya.. pasha cocok banget sma okie.. jangan berantem terus dong.. bt okie tolong pahami pasha, sayangi lah dia.. smoga rumah tangganya dirahmati ALLAH S.W.T

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Pasha Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: