Nyali Pecas Ndahe

Agustus 19, 2007 § 20 Komentar

Di Lawang Sewu, Semarang, saya terima tantangan itu: uji nyali. Tentu saja siang hari Ki Sanak. Hehehe …


[lukisan kaca di ruang tengah Lawang Sewu – foto: ndoro kakung]

Saya ke sana Minggu siang ini bersama beberapa teman dari komunitas :wikimu. Semuanya para penikmat kenangan, baik yang berupa tempat maupun bangunan. Saya beruntung bisa menjadi bagian mereka.

Lawang Sewu benar-benar menghadirkan pemandangan yang menggelorakan hati. Sayang saya belum sempat berbagi lanskap itu dengan sampean semua di sini. Ini hanya sekadar contoh, lain kali sambung lagi.

Gedung legendaris itu memang menggetarkan, baik dari luar maupun dalam. Begitu masuk, aura mistis langsung menyergap. Tapi, arsitektur gedung itu memang oke banget. Ndak puas rasanya saya mengamati setiap detil.

Cuma ada satu kata buat Lawang Sewu: Dahsyat!

Semoga sampean punya kesempatan mengunjungi tempat itu suatu saat nanti, Ki Sanak.

Iklan

§ 20 Responses to Nyali Pecas Ndahe

  • Ahli Strategi berkata:

    Kota Semarang beruntung memiliki Prof. Eko Budi, arsitek humanis, yang mati-matian mempertahankan agar situs Lawang Sewu diatas tidak keburu dibuldozer.

    Bangunan semacam Lawang Sewu mestinya memang menjadi acuan dengan mana sebuah karya arsitektur diracik. Sebuah mahakarya yang bermartabat dan penuh keagungan. Bukan deretan “junk architecture” yang kini selalu menyergap setiap pojok kota-kota besar di negeri ini.

    Saiki kabeh bangunan gede bentuke mbelgedhes…

  • yati berkata:

    ini udah perjalanan anyer-panarukan itu-kah? waaah… 😦 pengen

  • merahitam berkata:

    Amin.Amin.Amin. Moga-moga satu hari saya sampai sana juga.

  • mbakDos berkata:

    dari jaman baru dilahirin di kota itu sampe sekarang, cuman berani lewat depannya aja, ndoro 😐

  • Hedi berkata:

    Dashyat memang, acungan jempol pantas diberikan kepada arsitek Belanda dan kuli bangunannya yang dari Indonesia.

  • kenny berkata:

    didalam ketemu siapa ndoro? nonik walondo??
    aku malah liat luarnya udah mrinding kog πŸ˜€

  • gali berkata:

    hehhehehe
    cuman berani sampai pelataran nya doang..
    ndak berani masuk..

    sangar dech

    salam

  • tuginem ndomble berkata:

    indah ya ndoro…mampir ke gereja blenduk gak?gak kalah dahsyat sayang bau tak sedap menyergap…

  • Abiha berkata:

    lha terus sekarang dipake apa tho lawang sewu itu? semenjak judi buntut dihapus makin ndak ada fungsinya, karena konon cari kode malam selasa legi sama malam jum’at kliwon di sana paling ma’nyosss…

  • nananias berkata:

    para penikmat kenangan? waaahh mengindikasikan usia hihihi..

    kalo jakarta museum mana yang serem ndoro? sabtu ini mau rendesvouz di tempat yang lain daripada yang lain nih πŸ˜€

    btw, baru pake tanda lebih besar lebih kecil komenku ngga muncul. huh!

    :p

  • balibul berkata:

    kalo di solo itu ada omah lowo …

  • dandit berkata:

    ups, gw jadi inget klub foto jaman kuliah dulu. namanya ‘publisia photo club’, disingkat ppc. dulu, tiap libur semester, ppc suka bikin kegiatan hunting foto. sama dan sebangun dgn yg dilakukan “ndoro kakung” di semarang ini.

    jgn kaget, salah satu pentolan ppc adalah roy suryo, pakar tenar yg tak abis-abisnya kalian bicarakan itu. sayang, gw kehilangan jejak salah satu mantan ketua ppc. namanya wicaksono. dulu dia akrab banget ama roy. ada yg tahu, kemana gerangan ybs?

  • mei berkata:

    uji nyali ada kuntil-anak

  • upikabu berkata:

    hmm..om ndandit ini sepertinya seseorang yang kukenal yah..? nggih ndoro ? πŸ™‚ salam kompak Mas, ppc isih ono ra tho saiki ?

  • andrias ekoyuono berkata:

    sayang sekali bangunan sebesar itu kurang terawat ya ndoro, padahal itu bagus banget.
    Kalau bangunannya buat kantor, pasti terawat, tapi bentuk aslinya rusak. Kalau buat museum, juga rusak karena kurang dana. Terus baiknya buat apa ya ?

  • Domba Garut! berkata:

    Memang potensi daerah, ya bangunan arsitekturnya dan orang2nya adalah asset daerah yg mesti di jaga – kayaknya harus dijadwalin mampir nih kesana saat cuti mudik nanti – boleh yah dianter jadi guidenya πŸ˜€

    Seneng udh bisa mampir kesini lagi, salam kangen dari negeri si bau kelek di afrika barat! πŸ˜‰

  • arie berkata:

    postingan dahsyat ndoro πŸ™‚ tapi kok ya, senternya panjenengan bawa keluar sementara aku dan dek pendi sinta pakai senter yang kecil. uji nyalinya harus sampai pojokan belakang! tempat pemenggalan, harusnya ….

  • mariskova berkata:

    Saya cinta arsitektur kuno…

  • radityo berkata:

    Lha cerita hantunya mana Ndoro? Ketemu ora?

  • radityo berkata:

    Kok gambarku monyet ya? Wajah asliku ndak muncul. Gimana ni?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Nyali Pecas Ndahe at Ndoro Kakung.

meta

%d blogger menyukai ini: